Cumlaude Tapi Pasif Speaking, Stigma yang Bisa Dipatahkan
Lulusan cumlaude bisa pasif speaking karena sistem pendidikan kita lebih melatih hafalan grammar daripada kelancaran komunikasi nyata. Stigma ini bisa dipatahkan dengan metode yang tepat.
Ada sesuatu yang ironis terjadi setiap musim rekrutmen di Indonesia.
Seorang pelamar datang dengan IPK 3,8, predikat cumlaude dari universitas negeri ternama, dan daftar prestasi akademik yang panjang. Lalu HRD bertanya satu pertanyaan sederhana dalam bahasa Inggris, dan mendadak ruangan menjadi hening.
Ini bukan kasus langka. Ini pola yang berulang.
Cumlaude Masih Dilirik HRD atau Tidak?
Dilirik, tapi tidak sejauh yang kebanyakan orang kira.
Ria Novita, Talent Acquisition Manager dari Jobstreet, pernah menjelaskan bahwa IPK cumlaude memang memberi keunggulan sebagai saringan awal rekrutmen. Tapi ia menekankan satu hal yang sering diabaikan: kualitas kandidat tetap dinilai ulang setelah proses wawancara.
Artinya, cumlaude bisa membawamu ke ruang wawancara. Tapi tidak bisa berbicara untukmu di sana.
Ina Liem, pengamat pendidikan, menyimpulkan kondisi ini dengan gamblang: "Di dunia kerja, prestasi akademik bukan yang utama dicari, melainkan kapasitas adaptasi, ketangguhan, problem solving, komunikasi, dan kemauan belajar."
Kenapa Bisa Pintar Akademik Tapi Diam Saat Diminta Berbicara?
Ini yang bikin frustrasi banyak orang, termasuk para lulusannya sendiri.
Akar masalahnya ada di metode pengajaran yang sudah bertahun-tahun tidak berubah. Sistem pendidikan bahasa Inggris di Indonesia, bahkan di tingkat perguruan tinggi, masih terlalu fokus pada:
- Teori tata bahasa (grammar) dan hafalan kosakata
- Ujian tertulis yang mengukur pengetahuan, bukan kelancaran
- Format "duduk dan mencatat" yang minim ruang praktik aktif
Hamdali Anton, guru bahasa Inggris dan penulis, mencatat paradoks yang cukup menusuk: bahkan lulusan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris pun tidak otomatis fasih berbicara.
Mereka tahu aturan gramatikalnya, tapi tidak terbiasa menggunakannya dalam percakapan nyata dengan tekanan waktu dan audiens sungguhan.
Di luar kelas, situasinya tidak lebih baik. Banyak mahasiswa yang masuk kategori "kupu-kupu" (kuliah-pulang) dan nyaris tidak pernah terpapar lingkungan berbahasa Inggris di luar tugas kuliah.
Belum lagi soal mental blok. Takut salah grammar, takut ditertawakan, dan rasa malu yang mengakar adalah pembunuh paling efektif untuk kemampuan speaking.
Apakah Bahasa Inggris yang Sempurna Adalah Syaratnya?
Tidak. Dan ini penting untuk diluruskan.
Yasser Muhammad Syaiful, Country Head ELSA SPEAK Indonesia, memberi perspektif yang lebih realistis: "Kalau kita kurang mahir dalam penggunaan Bahasa Inggris, kita bisa kehilangan 30% produktivitas dan kredibilitas. Urusan benar salah itu belakangan. Yang penting kita harus berani berbicara dan mau belajar."
Bahasa Inggris dalam konteks karier adalah alat, bukan tujuan. Seperti jalan tol, yang penting bisa sampai tujuan dengan cepat dan aman. Kalau jalannya belum mulus sempurna, itu bisa diperbaiki sambil jalan.
Ada dua tokoh yang sering disebut sebagai bukti: Prof. Rhenald Kasali dan Prof. Yohannes Surya.
Keduanya berhasil menembus dan lulus dari universitas top Amerika, meski di awal kemampuan bahasa Inggris mereka jauh dari sempurna. Yang membawa mereka adalah kedalaman gagasan dan keberanian mengekspresikannya.
Apa yang Sebenarnya Dicari Perusahaan Multinasional?
Bukan kelancaran cas-cis-cus tanpa isi.
Untuk lolos ke perusahaan multinasional, ada dua dimensi yang harus jalan berbarengan:
- Fluency (kelancaran berbicara secara natural)
- Accuracy (ketepatan dalam konteks bisnis dan etika komunikasi lintas budaya)
Masoem University dalam riset rekrutmen mereka mencatat bahwa perusahaan multinasional secara khusus mencari kandidat yang menguasai komunikasi bisnis, memahami etika komunikasi lintas budaya, dan memiliki integritas karakter yang konsisten.
Ini bukan soal aksen British atau American. Ini soal apakah kamu bisa menyampaikan ide dengan jelas, merespons pertanyaan sulit dengan tenang, dan membuat lawan bicara merasa didengar.
Baca Juga: Panduan Speaking Intensif Setelah Gagal Tes Komunikasi
Bagaimana Cara Memulai Latihan Speaking yang Nyata?
Satu kata: paksa diri tampil.
Kemampuan speaking tidak bisa tumbuh hanya dari menonton YouTube atau membaca buku grammar.
Penelitian dalam jurnal MAGISTRA tentang implementasi model pembelajaran Communicative Language Teaching (CLT) menemukan bahwa praktik speaking langsung seperti presentasi individu (retelling story) terbukti mampu meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri secara signifikan.
Beberapa langkah yang bisa dimulai sekarang:
- Rekam dirimu berbicara, bahkan hanya 2 menit per hari. Putar ulang dan evaluasi sendiri.
- Ikut komunitas praktik seperti English Club, debate club, atau speaking partner online.
- Coba power pose sebelum presentasi. Periset Amy Cuddy membuktikan bahwa postur tubuh yang tegak dan terbuka selama 2 menit sebelum tampil dapat meningkatkan rasa percaya diri secara fisiologis. Ini tips yang juga dibagikan Yasser dari ELSA SPEAK.
- Masuk lingkungan yang memaksa bicara. Inilah alasan program intensif dengan sistem English Area seperti di Kampung Inggris Pare efektif: kamu tidak punya pilihan selain berbicara.
Hamdali Anton menutupnya dengan kalimat yang sederhana tapi berat: "Hasil tidak akan mengkhianati proses. Proses yang benar, terencana, dan disiplin akan memberikan hasil yang baik."
Stigma Ini Bisa Dipatahkan, Tapi Bukan dengan Nilai
Stigma "cumlaude tapi pasif speaking" tidak akan hilang hanya karena kamu menambah baris prestasi di CV.
Ia hilang ketika kamu mulai berbicara, membuat kesalahan, memperbaikinya, dan berbicara lagi. Di lingkungan yang tepat, proses itu bisa berlangsung jauh lebih cepat dari yang kamu bayangkan.
Kalau kamu ingin memahami lebih lanjut kenapa ijazah saja tidak lagi cukup di era AI, di pendidikan bahasa vs formal di era AI membahasnya secara lebih menyeluruh dengan data dan perbandingan sertifikasi.
![]() |
| Mahasiswa Indonesia gugup saat diminta speaking bahasa Inggris di kampus |
Lulusan cumlaude yang pasif speaking bukan fenomena aneh, melainkan hasil logis dari sistem pendidikan yang mengukur pengetahuan tapi bukan kemampuan komunikasi nyata.
Solusinya bukan menghapus prestasi akademik, tapi melengkapinya dengan kemampuan berbicara yang dibangun lewat praktik konsisten di lingkungan yang tepat.
FAQ
1. Apakah IPK cumlaude masih relevan saat melamar kerja?
Relevan sebagai penyaring awal, tapi tidak menentukan hasil akhir. HRD menggunakan cumlaude untuk menyempurnakan daftar kandidat, bukan memutuskan siapa yang diterima. Wawancara dan kemampuan komunikasi tetap menjadi penentu utama.
2. Kenapa banyak lulusan jurusan Bahasa Inggris pun masih pasif speaking?
Karena kurikulum lebih banyak mengajarkan teori grammar dan hafalan, bukan praktik komunikasi aktif. Tanpa paparan lingkungan berbahasa Inggris di luar kelas dan tanpa keberanian untuk membuat kesalahan, kemampuan speaking tidak akan berkembang meski nilai akademik tinggi.
3. Apakah harus fasih sempurna untuk bisa lolos rekrutmen perusahaan multinasional?
Tidak harus sempurna, tapi harus fungsional dan percaya diri. Perusahaan multinasional mencari kandidat yang bisa berkomunikasi bisnis dengan jelas dan memahami konteks lintas budaya, bukan penutur asli bahasa Inggris.
4. Apa metode paling efektif untuk melatih speaking dengan cepat?
Communicative Language Teaching (CLT) yang mewajibkan praktik berbicara langsung terbukti efektif secara akademis. Program intensif seperti English Area di Kampung Inggris Pare menerapkan prinsip serupa: lingkungan yang memaksa peserta berbicara setiap hari.
02. Widagdo, Arif. (2018). Implementasi Model Pembelajaran CLT Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Aktif Bahasa Inggris. Jurnal MAGISTRA.
03. Kompas.com. (2025). Cum Laude Masih Jadi Syarat Penting untuk Bisa Diterima Kerja?
Penulis Artikel: Rachel Wijayani (cel)


