Tidak Setuju Tanpa Kasar, Cara Mengoreksi Tutor
Menyampaikan ketidaksetujuan kepada tutor tanpa terlihat kasar bisa dilakukan dengan teknik bertanya, "I" Message, dan kalimat penyangga santun yang menempatkan rasa hormat di atas segalanya.
Ada momen yang familiar bagi hampir semua pelajar: tutor menjelaskan sesuatu, dan kamu tahu ada yang tidak beres. Tapi dua detik kemudian, pertanyaannya bukan apakah kamu akan angkat suara, melainkan bagaimana caranya agar tidak terdengar kurang ajar atau sok pintar di depan kelas.
Kebanyakan orang akhirnya memilih diam. Dan itu masalah yang lebih besar dari sekadar etika, karena informasi yang salah dibiarkan beredar, dan tidak ada yang belajar apapun.
Tipe komunikasi mana yang paling efektif di situasi ini?
Ada tiga tipe pelajar dalam situasi ketidaksetujuan: Konformis (selalu setuju karena takut), Pasif (diam saja dan masa bodoh), dan Diplomat (menyeimbangkan kesopanan dengan ketegasan).
Tipe Diplomat adalah yang paling efektif. Bukan karena paling pintar, tapi karena paling terampil bernegosiasi secara halus tanpa membuat situasi menjadi tidak nyaman bagi siapapun.
Penelitian Abdul Aziz Al-Khumairi dalam jurnal Disastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (2026) menemukan bahwa banyak mahasiswa terlalu berlebihan menerapkan "kesantunan defensif" yaitu terlalu banyak minta maaf atau setuju karena tidak enakan.
Padahal, kesantunan justru seharusnya menjadi sarana pembuka dialog kritis, bukan alasan untuk patuh secara buta.
Bagaimana cara mengoreksi tutor tanpa konfrontasi?
Triknya adalah bertanya, bukan menuduh. Ini adalah perbedaan yang sangat besar dalam praktiknya.
Daripada berkata "Tutor, saya rasa penjelasan itu salah", ubah menjadi posisi seolah kamulah yang sedang kesulitan memahami. Cara ini memaksa tutor untuk meninjau ulang penjelasannya sendiri tanpa kehilangan muka di depan kelas.
Contoh kalimat yang bisa langsung dipakai:
- "Bolehkah saya meminta klarifikasi? Saya mencoba menerapkan konsep ini dengan contoh X, tapi hasilnya berbeda. Di mana letak kesalahan pemahaman saya?"
- "Saya mungkin salah tangkap, tapi berdasarkan yang saya baca di halaman Y, sepertinya ada perbedaan. Bisa bantu saya meluruskan?"
Catija, kontributor aktif di forum Interpersonal Skills Stack Exchange, merangkum strategi ini dengan baik: hindari menuduh tutor salah, ambil posisi seolah kamu sedang berusaha memahami, bukan sedang membuktikan kekeliruan mereka.
Kalimat apa yang bisa digunakan sebagai "bantalan" saat tidak setuju?
Kalimat penyangga adalah pembuka yang memperlunak ketidaksetujuan sebelum substansinya disampaikan. Polanya sederhana: akui terlebih dahulu, baru sanggah.
Beberapa contoh yang terbukti efektif:
- "Ide yang Tutor paparkan memang menarik, namun saya ingin menambahkan perspektif lain..."
- "Saya memahami pandangan Tutor, tapi saya merasa ada bagian yang perlu saya tanyakan lebih lanjut..."
- "Saya setuju dengan poin utamanya, namun pada bagian X, saya menemukan referensi yang sedikit berbeda..."
Teknik DISARM adalah versi yang lebih formal dari pola ini: akui pandangan tutor dulu ("Saya mengerti bahwa Tutor memiliki pandangan yang valid"), baru sampaikan pandanganmu ("Namun saya merasa..."). Ini membuktikan bahwa kamu mendengarkan sebelum bereaksi.
Baca Juga: Cara Minta Maaf Elegan ala Budaya Kerja Barat
Apakah boleh mengoreksi tutor lewat chat atau WhatsApp?
Idealnya tidak. Menyelesaikan ketidaksetujuan melalui teks sangat rentan menimbulkan salah paham karena tidak ada nada suara dan bahasa tubuh yang membantu pembaca menafsirkan maksudmu.
Pedoman etika dari Fakultas Teknologi Industri ITB (2025) merekomendasikan bahwa pesan teks hanya digunakan untuk mengatur waktu bertemu, bukan untuk menyampaikan perbedaan pendapat yang substansial.
Kalau terpaksa harus lewat chat, perhatikan etika ini:
- Kirim di jam yang wajar, bukan larut malam
- Mulai dengan salam dan perkenalkan dirimu
- Gunakan kata "saya", bukan "kami" atau bahasa yang terkesan mewakili kelompok
- Langsung ke inti tanpa berbasa-basi berlebihan
- Tutup dengan kalimat terima kasih
Bagaimana agar diskusi tidak jadi dominasi satu pihak?
Diskusi yang sehat adalah jalan dua arah. Kalau kamu sudah berani menyampaikan ketidaksetujuan, pastikan kamu juga memberikan ruang yang sama kepada tutor untuk merespons sepenuhnya.
Dengarkan penuh. Bukan sekadar menunggu giliran bicara sambil menyusun argumen balik, tapi benar-benar memahami apa yang tutor coba jelaskan. Multitasking selama diskusi, seperti main HP atau membaca buku lain, adalah sinyal yang sangat jelas bahwa kamu tidak menghormati lawan bicaramu.
Kalau pada akhirnya kamu dan tutor masih berbeda pandangan setelah diskusi yang baik, itu bukan kegagalan. Di situlah keterampilan agree to disagree dalam manajemen konflik yang lebih luas jadi relevan: kamu bisa menghormati orang lain tanpa harus setuju dengan semua yang mereka katakan.
![]() |
| mengetik pesan sopan bahasa Indonesia kepada dosen lewat WhatsApp |
Ketidaksetujuan yang disampaikan dengan cara yang benar adalah tanda kematangan akademik, bukan tanda ketidakhormatan. Triknya bukan menekan apa yang kamu pikirkan, melainkan memilih cara yang membuat percakapan itu menjadi produktif bagi semua orang di ruangan tersebut.
FAQ
1. Apakah boleh tidak setuju dengan tutor di depan kelas?
Boleh, asal caranya tepat. Gunakan trik bertanya, bukan menuduh. Daripada berkata "itu salah", katakan "bolehkah saya minta klarifikasi?" dan jelaskan di mana kamu menemukan perbedaan. Cara ini memberi tutor kesempatan meninjau ulang pemahamannya tanpa merasa dipermalukan di depan orang banyak.
2. Apa itu teknik DISARM dalam komunikasi asertif?
DISARM adalah teknik meredakan situasi dengan mengakui pandangan lawan bicara terlebih dahulu sebelum menyampaikan pandanganmu sendiri. Contoh: "Saya mengerti bahwa Tutor memiliki pandangan yang valid, namun saya merasa ada bagian yang perlu didiskusikan lebih lanjut." Teknik ini mencegah kesan konfrontatif.
3. Kenapa mengoreksi lewat WhatsApp itu berisiko?
Pesan teks kehilangan konteks nada suara dan bahasa tubuh, sehingga kalimat yang kamu maksudkan sebagai pertanyaan sopan bisa terbaca sebagai kritik yang tajam. Gunakan chat hanya untuk membuat janji bertemu, bukan untuk menyampaikan ketidaksetujuan yang substansial.
4. Bagaimana cara membuka ketidaksetujuan tanpa terkesan sombong?
Gunakan kalimat penyangga yang mengakui poin tutor terlebih dahulu: "Saya setuju dengan poin utamanya, namun pada bagian X..." atau "Saya mungkin salah tangkap, tapi..." Posisi yang merendahkan diri sendiri di awal membuka ruang dialog yang jauh lebih aman dibanding langsung mengklaim bahwa kamu yang benar.
02. Fakultas Teknologi Industri - ITB. (2025). Etika Menghubungi Dosen Melalui SMS/WA/Media Sosial.
03. Al-Khumairi, A. A. (2026). Kesantunan dan Tindak Tutur Asertif dalam Interaksi Antara Mahasiswa dan Dosen Selama Proses Bimbingan Skripsi. Disastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 8(1), 126-137.
Penulis Artikel: Rachel Wijayani (cel)


