Kost Eksklusif Pare yang Nyaman, tapi Sepi Teman?
Tren kost eksklusif dengan kamar mandi dalam dan AC di Pare memang menjawab kebutuhan kenyamanan, tapi secara arsitektur justru memangkas peluang pertemanan organik yang dulu jadi keunggulan utama ekosistem asrama Pare.
Pare dulu terkenal dengan satu hal yang tidak ada di kursus online mana pun: kamu bisa berteman dengan orang dari seluruh Indonesia hanya dalam satu minggu.
Tapi sesuatu sedang berubah.
Siapa yang Sekarang Tinggal di Kost Eksklusif Pare?
Profil pelajar Pare bergeser. Bukan lagi hanya siswa SMA dengan uang saku pas-pasan. Kini ada profesional muda yang mengambil cuti, karyawan yang ingin meningkatkan Bahasa Inggris untuk promosi, bahkan orang tua yang ikut kursus bersama anaknya.
Segmen baru ini membawa standar kebutuhan yang berbeda. Mereka tidak mencari tempat tidur, mereka mencari privasi, AC, Wi-Fi cepat, dan terutama: kamar mandi dalam.
R.A Keisya dari Kediri Properti mencatat peluang bisnis ini terbuka lebar. Permintaan kost eksklusif di Pare meningkat seiring masuknya segmen menengah ke atas yang tidak ingin berkompromi soal kenyamanan hunian.
Apa yang Hilang Ketika Kamar Mandi Jadi "Dalam"?
Pertanyaan ini terdengar sepele, tapi jawabannya serius.
Dalam teori arsitektur dan perilaku, interaksi sosial di hunian sangat ditentukan oleh dua hal: jarak fungsional (functional distance) dan rute berbagi (shared required paths).
Sederhananya: semakin sering kamu terpaksa melewati tempat yang sama dengan orang lain, semakin besar kemungkinan kamu berteman dengan mereka.
Kamar mandi bersama yang dulu menjadi "titik temu wajib" adalah contoh klasik shared required path. Kamu antre pagi-pagi, ngobrol sebentar soal jadwal kursus, dan dari situ pertemanan terbentuk.
Proses ini disebut passive contact, interaksi yang tidak direncanakan tapi berulang, dan akhirnya menciptakan keakraban.
Herlina Eka Wulandari dan Ir. Moch. Salatoen Pudjiono dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperingatkan: maraknya hunian yang menutup diri demi privasi ketat dapat mengikis solidaritas antar penghuni.
Mereka menyarankan bahwa hunian urban tetap memerlukan fasilitas ruang temu seperti area komunal atau taman untuk menjaga keseimbangan antara privasi dan kehidupan berkomunitas.
Apa yang Dibuktikan Riset Soal Kamar Mandi Bersama?
Case (1981), dalam kajian perilaku lingkungan yang dikutip dalam literatur arsitektur ITB, menemukan bahwa keberadaan fasilitas Bersama terutama kamar mandi komunal adalah faktor penentu utama terbentuknya "ranah perkenalan" di hunian mahasiswa.
Ini bukan nostalgia. Ini mekanisme sosial yang bisa dirancang atau dihancurkan oleh desain bangunan.
Ketika kost eksklusif menghilangkan semua titik pertemuan wajib itu (kamar mandi dalam, kulkas kamar sendiri, ruang tamu pribadi), pelajar secara teknis bisa bertahan tanpa pernah berinteraksi dengan penghuni lain selama satu bulan penuh.
Baca Juga: Kopi Susu vs Modul Belajar, Bedah Anggaran Anak Pare
Bagaimana Perubahan Ini Memengaruhi Dinamika Sosial Pare?
Lisda Bunga Asih, peneliti sosiologi dari Universitas Airlangga, menyimpulkan dalam risetnya bahwa interaksi intens antara masyarakat lokal dan pendatang di Kampung Inggris telah mendorong tiga perubahan sosial utama: perubahan hubungan sosial, gaya hidup, dan kontrol sosial.
Ada juga dimensi bahasa yang menarik. Rahmawati, Santoso, dan Martutik dari Universitas Negeri Malang (2025) menemukan bahwa Generasi Z di Pare punya indeks sikap bahasa tertinggi terhadap Bahasa Inggris (0,78) lebih bangga berbahasa Inggris dibanding bahasa daerah mereka sendiri.
Lingkungan yang mengharuskan latihan Bahasa Inggris setiap saat ini menciptakan eksklusivitas tersendiri yang mempertegas pembatas antar kelompok.
Lalu, Haruskah Menghindari Kost Eksklusif?
Tidak harus. Tapi ada trade-off yang perlu disadari sebelum memilih.
- Kost eksklusif memberikan privasi, kenyamanan, dan produktivitas personal yang lebih tinggi.
- Kost komunal atau asrama camp memberikan jaringan sosial organik, pertemanan spontan, dan pengalaman "Pare sesungguhnya" yang lebih kaya.
Pilihan ini sangat tergantung pada tujuan datang ke Pare. Kalau datang untuk fokus belajar mandiri dan tidak butuh banyak interaksi sosial, kost eksklusif masuk akal.
Tapi kalau datang untuk merasakan ekosistem belajar yang hidup, yang justru jadi keunikan Kampung Inggris, hunian komunal dengan fasilitas bersama mungkin lebih berharga dari sekadar kamar mandi dalam.
![]() |
| interaksi sosial pelajar di kamar mandi bersama asrama Pare |
Tren kost eksklusif di Pare adalah respons logis terhadap segmen pelajar yang berubah. Tapi ada konsekuensi sosial yang nyata: berkurangnya passive contact berarti berkurangnya pertemanan spontan yang selama ini jadi salah satu nilai terbesar ekosistem Kampung Inggris.
Pilih hunian sesuai tujuanmu, bukan sekadar ikut tren.
FAQ
Apa itu kost eksklusif di Pare dan fasilitasnya apa saja?
Kost eksklusif di Pare adalah hunian dengan fasilitas premium seperti AC, Wi-Fi berkecepatan tinggi, kamar mandi dalam (private), dan sering kali desain kamar yang lebih modern. Segmen ini menyasar pelajar menengah ke atas, profesional muda, dan pekerja yang mengambil cuti untuk kursus Bahasa Inggris.
Kenapa kamar mandi bersama bisa mempengaruhi pertemanan?
Dalam teori arsitektur perilaku, fasilitas bersama menciptakan passive contact, pertemuan tidak disengaja yang berulang. Setiap kali antre kamar mandi pagi, ada peluang ngobrol singkat yang akhirnya membangun keakraban. Ketika fasilitas itu masuk ke dalam kamar masing-masing, peluang itu hilang.
Apakah kost eksklusif lebih mahal dibanding asrama biasa di Pare?
Ya, secara signifikan. Asrama camp biasa termasuk dalam kategori biaya hidup hemat Rp1–2 juta per bulan, sementara hunian dengan fasilitas privat dan eksklusif masuk kategori sultan Rp3,6–4 juta+ per bulan, hampir tiga kali lipatnya.
Bagaimana cara tetap punya teman meski tinggal di kost eksklusif?
Aktif berpartisipasi di kegiatan kursus dan program asrama yang sifatnya komunal. Kelas Bahasa Inggris, diskusi kelompok, atau program English Area adalah pengganti passive contact yang efektif meski hunianmu memisahkan kamu dari tetangga.
02. Asih, L. B. (2017) — "Perubahan Sosial Akibat Interaksi Antara Masyarakat Lokal dan Pendatang (Studi pada Perkembangan Kampung Inggris di Desa Tulungrejo dan Desa Pelem)", Universitas Airlangga Repository
03. Wulandari, H. E., & Pudjiono, M. S. — "Society Housing – Hunian Berlatar Sosial", Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya (Publikasi via Neliti)
Penulis Artikel: Rachel Wijayani (cel)


