Mitos Lucu Camp Pare yang Bikin Ngakak tapi Dipercaya
Camp Pare punya segudang mitos lucu, dari "Pare Jahat" yang katanya kota patah hati massal sampai kepercayaan kalau beli cilok pun harus pakai bahasa Inggris. Faktanya, sebagian cuma bumbu obrolan asrama, sebagian lagi punya akar psikologis dan sosial yang nyata.
Yang
menarik, beberapa mitos ini ternyata bukan cuma omong kosong receh. Ada yang
benar-benar punya dasar psikologis, ada juga yang ya, cuma drama anak asrama
yang kebanyakan waktu luang.
Saya coba
bedah satu-satu, mana yang fakta, mana yang cuma gosip yang keterusan dipercaya
sampai sekarang.
Kenapa Pare Disebut
"Jahat" oleh Pendatang?
Pare
disebut "jahat" bukan karena kotanya rawan kriminal, tapi karena rasa
sakit hati massal akibat perpisahan mendadak setelah hubungan singkat yang
intens. Istilah ini lebih ke luka emosional, bukan ancaman fisik.
Faktanya
begini:
- Banyak pendatang baru langsung
parno duluan dengar nama "Pare Jahat", mengira ini soal copet
atau preman.
- Realitanya, julukan itu muncul
dari rasa kehilangan setelah hubungan asmara atau pertemanan yang tumbuh
cepat lalu putus paksa karena kursus selesai.
- Kotanya sendiri justru terlalu
nyaman, sampai orang susah move on.
Peneliti
komunikasi Marwa Ulfa, lewat jurnalnya di AL-AZHAR INDONESIA, menjelaskan bahwa
stigma ini adalah bentuk manajemen makna atau Coordinated Management of Meaning
(CMM).
Sederhananya,
pelajar mengubah rasa sedih mereka jadi label sosial yang unik dan mudah
diingat, yaitu "Pare Jahat". Jadi sebelum kamu mendaftar program
kursus di Pare, tenang saja, yang "jahat" itu bukan jalanan atau
warganya, tapi rasa baper yang datang belakangan.
Benarkah Datang Sendiri ke
Pare Selalu Pulang Berdua?
Tidak
selalu, tapi kemungkinannya memang tinggi karena interaksi intens di asrama
dari bangun tidur sampai tidur lagi. Fenomena ini populer disebut "Cinta
Periode" alias hubungan asmara yang mengikuti durasi kursus.
Beberapa
hal yang bikin mitos ini terasa nyata:
- Hidup serumah dengan teman
sekamar, makan bareng, belajar bareng, bikin kedekatan emosional cepat
tumbuh.
- Sesi speaking class jadi punya
motivasi tambahan, bukan cuma takut nilai jelek, tapi biar lancar ngobrol
sama gebetan.
- Acara nongkrong bareng di luar
jam belajar memperbesar kemungkinan cinlok.
ISN, alumni
asal Balikpapan, mengaku jujur bahwa mitos "Pare Jahat" sering muncul
karena banyak orang menyembunyikan status hubungan aslinya. Mengaku jomblo
padahal sudah punya pacar di rumah, demi bisa merasakan cinlok ala Pare.
Jadi kalau
kamu datang sendirian, bukan berarti otomatis dapat jodoh. Tapi ya,
probabilitasnya memang lebih besar dibanding di tempat lain.
Apa Benar Teman di Pare
Bakal Saling Lupa Setelah Kursus Selesai?
Tidak
benar. Justru tradisi seperti Farewell Party dirancang untuk memperkuat
jaringan pertemanan dan networking profesional, bukan untuk mengakhirinya.
Mitosnya
sendiri terdengar seperti kutukan:
- Konon begitu periode kursus
berakhir, semua kontak otomatis hilang dan saling lupa.
- Realitanya memang ada yang
kehilangan kontak, tapi itu wajar terjadi di pertemanan mana pun, bukan
eksklusif milik Pare.
- Farewell Party justru jadi
momen formal untuk saling tukar kontak dan menguatkan hubungan.
Dr. Maya
Agustina, M.Pd., ahli psikologi pendidikan, menekankan bahwa momen perpisahan
semacam ini, termasuk Farewell Party, adalah bagian penting dari pembentukan
karakter dan kepercayaan diri pembelajar dewasa. Bukan ritual kutukan, tapi
proses kedewasaan sosial.
Apakah Harus Pakai Bahasa
Inggris untuk Beli Cilok di Pare?
Tidak
harus. Penduduk lokal tetap menggunakan bahasa Jawa atau Indonesia sehari-hari,
kecuali sebagian pedagang yang sengaja pakai bahasa Inggris sebagai teknik
marketing untuk menarik perhatian siswa.
Mitos ini
sering bikin calon siswa parno duluan sebelum berangkat:
- Bayangan awal: semua transaksi
jual beli di Pare wajib pakai bahasa Inggris.
- Faktanya: tukang cilok, tukang
nasi goreng, sampai abang becak tetap pakai bahasa daerah.
- Beberapa pedagang memang
sengaja menyapa dengan bahasa Inggris, tapi itu strategi dagang, bukan
aturan wajib.
Andi
Firmansyah, S.S., ahli bahasa, menyoroti bahwa suasana unik Pare seperti budaya
sepeda onthel dan sandal jepit justru menciptakan atmosfer belajar yang lebih
efektif dibanding kursus kaku di kota besar. Belajar bahasa Inggris di sini
terasa alami, bukan dipaksakan lewat transaksi jual beli semata.
Benarkah Pare Itu Daerah
Pedalaman Tanpa Sinyal?
Tidak benar
sama sekali. Pare sudah punya infrastruktur memadai, mulai dari akses listrik
stabil, sinyal internet kuat, hingga transportasi umum seperti bus dan akses
dekat ke bandara.
Bayangan
calon siswa biasanya jauh dari kenyataan:
- Banyak yang mengira Pare itu
desa terpencil dengan jalan tanah dan minim fasilitas.
- Faktanya, kota kecamatan ini
sudah berkembang dengan baik secara infrastruktur.
- Akses transportasi ke luar kota
juga relatif mudah, jadi tidak perlu khawatir terisolasi.
Kalau kamu
khawatir soal sinyal buat video call keluarga atau update media sosial, tenang
saja. Pare jauh dari kesan "hutan belantara" yang sering digambarkan
di forum-forum online.
Apakah Bule Berkeliaran di
Mana-mana di Pare?
Tidak juga.
Yang lebih banyak ditemukan di jalanan Pare justru pedagang lokal, meski
beberapa lembaga kursus memang menghadirkan native speaker di kelas-kelas
tertentu.
Ekspektasi
vs realita yang sering bikin kaget:
- Calon siswa membayangkan akan
sering berpapasan dengan bule di sepanjang jalan.
- Realitanya, wajah yang lebih
sering muncul adalah penjual makanan, tukang becak, dan sesama siswa
kursus.
- Native speaker biasanya hanya
hadir di kelas tertentu sebagai bagian dari kurikulum lembaga, bukan
berkeliaran bebas di jalan.
Buat yang
penasaran soal interaksi sosial unik lainnya, ada juga cerita seputar bule nyasar yang sering jadi bahan obrolan anak kursus saat nongkrong malam.
Kenapa Mitos-Mitos Ini
Tetap Awet Dipercaya?
Mitos di
Pare tetap awet karena terus diceritakan ulang oleh angkatan baru yang datang
setiap bulan, sambil dibumbui pengalaman pribadi yang bikin cerita makin terasa
nyata.
Beberapa
faktor yang membuat mitos ini terus hidup:
- Siklus siswa yang datang dan
pergi tiap periode membuat cerita selalu punya pendengar baru.
- Pengalaman personal, seperti
soal kaos kaki hilang sebelah di laundry, ikut menyumbang cerita
absurd lain yang menambah warna kehidupan asrama.
- Media sosial mempercepat
penyebaran cerita, bahkan yang awalnya cuma candaan jadi dipercaya sebagai
fakta.
Wikipedia
Indonesia mencatat Kampung Inggris Pare sebagai kawasan yang memang berkembang
dari budaya belajar bahasa yang sudah berlangsung puluhan tahun, sehingga wajar
kalau cerita rakyatnya juga ikut berkembang seiring waktu.
Apakah Mitos-Mitos Ini
Bikin Calon Siswa Ragu Mendaftar Kursus?
Sebagian
calon siswa memang jadi ragu karena rumor yang terdengar serem atau aneh, tapi
setelah ditelusuri, kebanyakan mitos justru menunjukkan sisi hangat dan
manusiawi dari kehidupan di Pare.
Untuk kamu
yang masih maju mundur:
- Mitos "Pare Jahat"
sebenarnya cerita soal kedekatan emosional, bukan ancaman keamanan.
- Soal bahasa, kamu tetap bisa
hidup normal pakai bahasa Indonesia sehari-hari.
- Infrastruktur sudah mendukung,
jadi tidak perlu takut "hilang kontak dengan dunia".
Kalau kamu
memang serius mau coba rasakan sendiri atmosfer belajarnya, cek dulu pilihan paket
kursus yang tersedia biar bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan waktu
liburanmu.
Mitos lucu
camp Pare ini pada akhirnya cuma bumbu cerita yang bikin pengalaman belajar di
sana makin berkesan. Sebagian benar, sebagian cuma bercanda yang keterusan
dipercaya turun temurun oleh angkatan baru.

