Tipe Teman Sekamar di Pare yang Pasti Kamu Temui
Di camp Kampung Inggris Pare, kamu tidak sekadar dapat teman belajar, kamu dapat karakter-karakter unik yang mungkin tidak akan kamu temui di tempat lain. Dari yang mengigau pakai bahasa Inggris tengah malam sampai yang jadi psikolog dadakan satu kamar, inilah 5 tipe teman sekamar yang hampir pasti akan kamu hadapi.
Sebelum
kamu berangkat ke Kampung Inggris Pare dengan bayangan kamar yang tenang dan
kondusif, ada baiknya saya kasih tahu dulu: kamar asrama di sana bukan sekadar
tempat tidur. Ia adalah arena sosial paling intens yang pernah ada.
Satu kamar
diisi oleh 3 sampai 4 orang asing dari berbagai penjuru Indonesia. Selama 18
jam sehari (English Area berlaku dari pukul 04.00 sampai 22.00), kamu, mereka,
dan aturan itu hidup berdampingan. Tidak ada jeda, tidak ada pelarian.
Hasilnya? Karakter-karakter paling memorable dalam hidupmu lahir dari kamar
itu.
Ini bukan
daftar yang saya karang. Ini adalah kompilasi dari pengalaman nyata para
alumni, dan hampir semua dari mereka setuju: kamar seakamar adalah bagian
paling berkesan dari seluruh pengalaman Pare.
Siapa Saja yang Biasanya
Isi Satu Kamar di Camp?
Kamar camp di Pare tidak diisi berdasarkan domisili atau asal kampus. Kamu bisa sekamar dengan anak SMA dari Makassar, mahasiswa pascasarjana dari Bandung, dan fresh graduate dari Surabaya sekaligus.
Itulah mengapa Engracia & Perguna
(Universitas Negeri Malang, 2021) menemukan bahwa identitas sosial budaya
seseorang, termasuk dialek dan kebiasaan bicara cenderung luntur dan
menyesuaikan diri dengan kelompok baru karena adanya satu tujuan yang sama:
fasih berbahasa Inggris.
Proses
penyesuaian itulah yang melahirkan karakter-karakter berikut.
Tipe 1: Sang
"Indigo" Bahasa, The English Sleep-Talker
Ini tipe
yang paling legendaris. Mereka saking totalnya belajar bahasa Inggris, sampai
alam bawah sadar pun ikut-ikutan. Tengah malam, kamar sunyi, tiba-tiba
terdengar suara: "No, I think the answer is..." padahal semua
orang harusnya tidur.
Fenomena
ini bukan karangan. Dalam catatan alumni camp, sosok bernama Mr. Fly
benar-benar mengigau dalam bahasa Inggris di tengah malam, dan teman-teman
sekamarnya menganggap itu sebagai bukti bahwa sistem English Area 24 jam
berhasil merasuki alam bawah sadar.
Kalau kamu
penasaran soal mengapa seseorang bisa ngigau pakai bahasa asing, ada
penjelasan medisnya yang cukup mengejutkan dan kamu bisa baca selengkapnya di
artikel terpisah yang membahas fenomena ini dari sudut pandang ilmu saraf dan
kebiasaan belajar di Pare.
Tipe ini
sebenarnya tidak mengganggu asal kamu pakai earplug.
Tipe 2: Psikolog Dadakan, The
Wise Soul
Biasanya
lulusan Psikologi atau orang yang usianya paling matang di kamar (meski belum
tentu paling tua). Mereka jadi tempat curhat otomatis ketika ada yang homesick,
overthinking, atau patah hati karena bestie pulang duluan.
Seperti
sosok Mr. AL yang sering disebut alumni: meski mungkin paling muda secara usia,
ia jadi "konselor tidak resmi" satu kamar. Tanpa sesi bayaran, tanpa
janji temu.
Mei Kurnia
Dewi, mahasiswi UGM yang pernah tinggal di camp Pare, menceritakan bahwa saat
ia jatuh sakit, teman-teman sekamarnya yang merawat, bukan keluarga, bukan
pacar. Baginya, ikatan di Pare terbukti jauh melampaui hubungan sesama peserta
kursus biasa.
Kalau kamu
tipe yang suka memendam perasaan, hati-hati: Tipe 2 ini punya radar yang tajam.
Tipe 3: Si Paling Alam,
The Nature Enthusiast
Kamarnya
bisa saja penuh dengan perlengkapan mendaki: trekking pole, sleeping bag
gulung, ransel 60 liter. Padahal mereka ke Pare, bukan ke Rinjani.
Tapi jangan
salah. Seperti sosok Mr. Dhuha yang banyak disebut alumni, tipe ini justru
paling disiplin dan paling rajin mengingatkan teman-teman kalau mulai malas
belajar. Ada semacam etos "ekspedisi" yang mereka bawa ke dalam
rutinitas belajar harian.
Mereka
mungkin yang paling ribet soal logistik kamar, tapi mereka juga yang paling
solid saat kamu butuh teman untuk rebutan kamar mandi jam 4 pagi, ritual
yang, percayalah, butuh strategi tersendiri agar tidak kalah antrian.
Tipe 4: Si
"Terpaksa" Jenius, The Forced Prodigy
Usianya
mungkin 15 tahun. Ke Pare bukan atas kemauan sendiri, dikirim orang tua.
Awal-awal mungkin terlihat pendiam atau sedikit jaga jarak.
Lalu
seminggu kemudian, kamu baru sadar: dia yang paling lancar ngomong bahasa
Inggris di kamar.
Sosok
seperti Mr. Jayyid adalah pengingat bahwa "tekanan positif dari
rumah" bisa jadi motivator yang lebih kuat dari semua metode belajar
mandiri yang pernah ada. Dan ketika tembok defensifnya runtuh, dia biasanya
yang paling asyik diajak nongkrong.
Tipe 5: Master
"Hunting Bule"
Dialah yang
akan menyeret kamu keluar dari zona nyaman dengan kalimat: "Ayo, ada
bule di alun-alun, latihan speaking sekarang!"
Reno
Anugerah, mahasiswa pascasarjana yang alumni camp Pare, menyebut momen hunting
bule sebagai yang paling berkesan dari seluruh pengalamannya. Menurutnya,
suasana di camp itu "senasib sepenanggungan," sehingga orang asing
bisa menjadi seperti keluarga sendiri hanya dalam hitungan hari.
Tipe ini
punya kepercayaan diri yang menular. Bahkan kalau kamu awalnya introvert berat,
setelah seminggu bersama Tipe 5, kamu bakal nekat menyapa turis asing yang baru
turun dari bus.
Apa Hukumannya Kalau
Ketahuan Pakai Bahasa Indonesia?
Di dalam
camp, English Area bukan sekadar imbauan. Berlaku dari pukul 04.00 sampai
22.00, dan kalau ketahuan pakai bahasa Indonesia di jam-jam itu, hukumannya
bisa cukup memalukan: menghafal kosakata di depan umum, pidato spontan, menyapu
lantai, hingga meminta tanda tangan direktur lembaga.
Hukuman-hukuman
ini terdengar konyol, tapi efeknya nyata. Justru karena aturan kocak di
asrama Pare seperti ini ditegakkan bersama-sama, solidaritas antar penghuni
kamar terbentuk dengan sangat cepat. Melanggar bareng-bareng, kena hukuman
bareng-bareng, ketawa bareng-bareng.
Baca Juga: Pilih Camp Kampung Inggris Pare atau Kost?
Apakah Wajib Tinggal di
Camp atau Boleh Non-Camp?
Pilihan
tinggal di camp atau non-camp memang ada, dan masing-masing punya kelebihan
tersendiri. Tapi kalau kamu datang ke Pare dengan tujuan belajar bahasa Inggris
secepat mungkin dan sekaligus punya pengalaman sosial yang berkesan, camp
adalah pilihan yang sulit digantikan.
Justru dari
3-4 orang asing di kamar itulah cerita-cerita seperti di atas lahir. Tanpa
tekanan English Area, tanpa hukuman absurd, tanpa teman sekamar yang ngigau
tengah malam, bisa jadi Pare hanya jadi kursus biasa.
Bagaimana Cara Memilih
Camp yang Tepat di Pare?
Pilih camp
yang sudah memiliki struktur English Area yang jelas dan ditegakkan secara
konsisten. Cek juga rasio penghuni per kamar (idealnya 3-4 orang), fasilitas
belajar mandiri di luar jam kelas, dan rekam jejak alumni.
Kalau kamu
masih bingung mau mulai dari mana, kamu bisa cek paket dan program camp yang
sudah tersedia di kampunginggrispare
ada pilihan sesuai durasi dan kebutuhan belajar kamu.
![]() |
| peserta camp pare hunting bule latihan speaking dengan turis asing |
Lima tipe
teman sekamar di camp Pare bukan sekadar lelucon alumni. Mereka adalah produk
nyata dari sistem belajar yang intens, English Area 24 jam, dan kepadatan kamar
yang secara sosiologis memaksa interaksi sosial terjadi tanpa henti.
Siapapun
yang kamu temui di sana, hampir pasti akan meninggalkan bekas entah lewat
igauannya, saran psikologisnya, atau tarikannya ke lapangan untuk hunting bule.
DAFTAR
SUMBER
- Engracia, N. V., & Perguna,
L. A. (2021). Peran identitas sosial budaya siswa kursus Kampung Inggris
dalam pola interaksi dan pergaulan. Jurnal Integrasi dan Harmoni
Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI), 1(5).
- Hamid, Abdul. (2018). Dampak
Interaksi Sosial Antar Penghuni Asrama Bahasa Inggris Terhadap Hasil
Belajar Bahasa Inggris. Skripsi Sosiologi, UIN Sunan Kalijaga.
- Rieska Novia. (2026). Camp vs
Non Camp Kampung Inggris Pare: 2 Opsi Mana yang Lebih Cocok Buat Kamu?
Global English Pare Blog.


