Bahasa Inggris Hukum Bisnis, Kunci Kontrak Aman
Kontrak
bisnis internasional yang berantakan biasanya bukan karena niat jahat salah
satu pihak, tapi karena satu-dua istilah bahasa inggris hukum bisnis yang
dipahami setengah-setengah lalu dianggap remeh.
Riset
akademis dari Profesor John Coyle mencatat fakta yang jarang disadari orang
awam. Ia menemukan bahwa 99 persen kontrak internasional selalu mencantumkan
klausul pilihan hukum atau governing law clause.
Angka itu
bukan kebetulan. Itu bukti bahwa pilihan hukum bukan basa-basi administratif,
melainkan fondasi yang menentukan pengadilan mana yang berhak mengadili kalau
terjadi sengketa nanti.
Masalahnya,
banyak pelaku usaha di Indonesia, termasuk mahasiswa hukum dan legal drafter
pemula, masih menganggap bagian ini sebagai formalitas yang bisa disalin dari
kontrak lain. Padahal justru di sinilah bencana sering dimulai.
Kenapa Kontrak
Internasional Wajib Pakai Bahasa Inggris?
Bahasa
Inggris jadi bahasa pengantar hukum bisnis global karena dipakai sebagai
standar de facto di hampir semua negosiasi lintas negara, mulai dari
perdagangan barang sampai investasi.
Tapi ini
bukan berarti versi Bahasa Indonesia boleh diabaikan. Kalau salah satu pihak
adalah warga negara atau badan hukum Indonesia, kontrak tetap butuh padanan
resmi supaya:
- Punya kekuatan hukum yang jelas
di pengadilan domestik.
- Menghindari celah tafsir ganda
antara dua bahasa.
- Memberi rasa aman bagi kedua
pihak yang bernegosiasi.
Buat pelaku
UMKM yang baru mau ekspor-impor, ini kabar baik sekaligus PR. Kabar baiknya,
template dasar sudah banyak tersedia. PR-nya, template itu harus disesuaikan
dengan yurisdiksi masing-masing transaksi, bukan sekadar tempel nama
perusahaan.
Apa Bahaya Copy-Paste
Kontrak Tanpa Adaptasi?
Copy-paste
draf kontrak dari template umum tanpa menyesuaikan yurisdiksi adalah kebiasaan
yang bisa memicu pembekuan dana bisnis dan sengketa berkepanjangan.
Peringatan
ini datang dari Takayuki Sawai, seorang Gyoseishoshi atau ahli kepatuhan
regulasi berlisensi nasional di Jepang. Menurutnya, kesalahan semacam ini
sering luput dari radar karena kontrak "kelihatannya" sudah lengkap
secara format.
Padahal,
setiap yurisdiksi punya aturan main sendiri soal apa yang boleh dan tidak boleh
masuk klausul. Kontrak yang cocok dipakai di satu negara belum tentu valid
kalau diterapkan mentah-mentah ke negara lain.
Beberapa
hal yang paling sering jadi jebakan:
- Klausul force majeure
yang disalin tanpa memperhitungkan regulasi lokal.
- Definisi default atau
wanprestasi yang tidak disesuaikan dengan hukum acara setempat.
- Ketentuan pembayaran yang
mengabaikan aturan devisa negara tujuan.
Klausul Apa Saja yang
Wajib Ada dalam Kontrak Bisnis Internasional?
Dua klausul
yang paling sering jadi penentu nasib sengketa adalah governing law dan dispute
resolution. Tanpa keduanya, para pihak berpotensi berebut argumen soal
hukum negara mana yang berlaku.
Selain dua
itu, kontrak internasional yang matang biasanya juga memuat:
- Definisi istilah teknis supaya
tidak multitafsir.
- Ketentuan Incoterms 2020 untuk
pembagian risiko pengiriman barang.
- Klausul asuransi kargo,
terutama untuk transaksi ekspor-impor fisik.
- Mekanisme penyelesaian
sengketa, baik lewat litigasi maupun arbitrase.
Soal
Incoterms ini penting banget buat eksportir dan importir pemula. Banyak yang
baru sadar tanggung jawab pengiriman barang sudah berpindah tangan justru
setelah barang rusak di tengah jalan, gara-gara tidak paham skema Incoterms
yang disepakati sejak awal.
Kenapa Kata-Kata Kuno
Harus Dihindari dalam Legal English?
C.M. Mason,
Direktur Cambridge Law Studio di Inggris, merekomendasikan agar penulis kontrak
meninggalkan istilah usang seperti abovementioned, aforementioned,
atau aforesaid.
Istilah
semacam itu terdengar formal, tapi justru menambah ambiguitas karena rujukannya
sering tidak jelas menunjuk ke bagian mana. Bahasa hukum modern justru lebih
memilih kalimat lugas dan langsung.
Ini juga
selaras dengan tren plain language movement dalam dunia legal drafting
global, di mana kejelasan dianggap lebih penting daripada kesan
"berwibawa" dari kata-kata kuno.
Kalau Anda
sedang belajar menyusun draf klausul boilerplate dalam bahasa Inggris seperti force
majeure atau governing law, pembahasan lebih detail soal jebakan
kata-kata seperti ini bisa dicek di ulasan kami soal klausul bahasa inggris
yang sering bikin ambigu.
Apakah Menerjemahkan
Kontrak Bisnis Cukup dengan Mengubah Kata per Kata?
Tidak.
Menerjemahkan kontrak bisnis bukan sekadar mengganti kata dari satu bahasa ke
bahasa lain, tapi menjembatani celah budaya dan hukum antara dua negara yang
bermitra.
Poin ini
ditekankan oleh Nurfadhilah Bahar, penulis dari PeMad, yang banyak menangani
kasus penerjemahan kontrak jual beli. Terjemahan yang asal jadi berpotensi
mengubah makna hukum sebuah klausul, meski secara harfiah kata-katanya
"benar".
Contoh
sederhananya, istilah seperti reasonable atau material breach
punya bobot hukum berbeda tergantung sistem hukum yang mendasarinya. Kalau
diterjemahkan tanpa konteks, artinya bisa melenceng jauh dari maksud asli.
Buat yang
penasaran seberapa jauh dampak pemilihan diksi absolut versus longgar dalam
negosiasi, kami sudah bahas lebih dalam soal kosakata negosiasi legal
yang membedakan kewajiban mutlak dan diskresi.
Seberapa Ketat Pengadilan
Menafsirkan Force Majeure dalam Kontrak Internasional?
Pengadilan
internasional cenderung sangat ketat menafsirkan force majeure di bawah
CISG atau Konvensi Wina 1980. Fluktuasi harga bahkan hingga 50 persen atau
cuaca musiman tahunan tidak serta-merta dianggap sebagai alasan pelepasan
tanggung jawab.
Analisis
ini datang dari Lisbeth Bach Christiansen dan Profesor Dick Christie dari
University of Cape Town. Mereka menyoroti bagaimana pengadilan internasional
menolak argumen impediment yang terlalu longgar.
Artinya,
kalau pelaku bisnis berharap bisa lepas tangan hanya dengan bilang "harga
naik" atau "musim hujan lebih deras dari biasanya", jangan kaget
kalau pengadilan menolak mentah-mentah pembelaan itu.
Beberapa
syarat yang biasanya dipertimbangkan pengadilan soal force majeure yang
sah:
- Kejadian benar-benar di luar
kendali pihak yang mengklaim.
- Kejadian tidak bisa diprediksi
secara wajar saat kontrak ditandatangani.
- Tidak ada cara realistis untuk
menghindari dampaknya.
Bagaimana Cara Praktis
Menyusun Kontrak Bisnis Internasional yang Aman?
Langkah
paling aman adalah menyusun kontrak dengan struktur yang jelas sejak awal,
bukan menambal klausul belakangan setelah masalah muncul.
Berikut
urutan yang biasa dipakai praktisi hukum internasional:
- Tentukan identitas dan
kedudukan hukum masing-masing pihak.
- Susun definisi istilah teknis
di awal kontrak.
- Masukkan klausul substansi:
hak, kewajiban, dan jangka waktu.
- Tetapkan governing law
dan mekanisme penyelesaian sengketa.
- Tambahkan klausul boilerplate
seperti force majeure dan severability.
Kalau
ekspansi bisnis Anda sedang berada di fase merancang kontrak dari nol, struktur
legal drafting yang lebih lengkap dan sistematis sudah kami rangkum di artikel
soal legal drafting bahasa inggris untuk kebutuhan ekspansi bisnis.
![]() |
| Penandatanganan kontrak bahasa inggris hukum bisnis internasional |
Kenapa Penguasaan Bahasa
Inggris Hukum Bisnis Jadi Skill Bernilai Tinggi?
Karena
permintaan pasar terhadap orang yang bisa membaca dan menyusun kontrak
internasional terus naik seiring makin banyak UMKM Indonesia yang berani ekspor
langsung.
Buat
mahasiswa hukum atau lulusan baru, kemampuan ini bisa jadi nilai jual
tersendiri saat melamar ke firma hukum internasional atau divisi legal korporat
multinasional. Buat pemilik bisnis, ini investasi yang mencegah kerugian jauh
lebih besar di kemudian hari.
Kalau mau
serius menekuni Legal English dari nol sampai bisa membaca kontrak sendiri
tanpa was-was salah tafsir, Kampung Inggris Pare punya jalur belajar
terstruktur lewat halaman program dan paket kelas yang bisa
disesuaikan kebutuhan.
Bahasa
inggris hukum bisnis bukan sekadar kemampuan bahasa, tapi perisai yang
melindungi bisnis dari sengketa mahal akibat klausul yang dianggap remeh.
Mulai dari
governing law, force majeure, sampai kebiasaan copy-paste template, semuanya
berpotensi jadi bom waktu kalau tidak dipahami dengan serius.
DAFTAR
SUMBER
- International Chamber of
Commerce (ICC)
- Incoterms® 2020 Rules for International Commercial Terms, ICC
Services & Dispute Resolution Statistics 2023.
- United Nations Commission on
International Trade Law (UNCITRAL) - United Nations Convention on Contracts for
the International Sale of Goods (CISG) 1980.
- Cambridge Law Studio - Mason, C.M., The
Vocabulary of Commercial Contracts: A Practical Guide to the English
Vocabulary used in International Commercial Contracts, Global Legal
English Ltd.
Penulis: Rachel Wijayani (cel)


