Klausul Bahasa Inggris yang Diam-Diam Menjebak
Banyak orang menandatangani kontrak berbahasa Inggris tanpa sadar ada klausul bahasa inggris yang sengaja dibuat longgar supaya menguntungkan sepihak.
Salah satu
contoh paling gamblang ada di kontrak kemitraan influencer milik Amazon. Di
situ, istilah seperti "reasonable discretion", modal "may",
sampai frasa "must be removed" dan "such content"
dipakai tanpa kejelasan siapa yang berwenang menentukan standarnya.
Efeknya,
muncul ketidakseimbangan kuasa antara platform besar dan kreator konten yang
notabene bukan ahli hukum. Kreator yang menandatangani kontrak sepihak semacam
ini sering tidak sadar seberapa luas ruang gerak yang sebenarnya diberikan ke
pihak platform.
Fenomena
ini penting dipahami bukan cuma oleh content creator, tapi juga oleh startup
founder yang mulai menjalin kerja sama dengan mitra asing.
Kenapa Kata Seperti
"May" dan "Reasonable" Bisa Berbahaya?
Kata-kata
itu berbahaya karena tidak punya batasan objektif, sehingga pihak yang menyusun
kontrak biasanya jadi pihak yang paling diuntungkan saat terjadi perbedaan
tafsir.
Dalam ilmu
semantik, fenomena ini pernah diulas Geoffrey Leech pada 1981 soal bagaimana
makna kata bisa bergeser tergantung konteks pemakaiannya. Noam Chomsky pada
1965 juga sempat menyinggung soal struktur sintaksis yang berpotensi
menimbulkan lebih dari satu interpretasi gramatikal.
Beberapa
pola kata yang paling sering jadi sumber ambiguitas dalam klausul bahasa
inggris:
- May: bisa berarti izin, bisa juga
berarti diskresi penuh milik satu pihak.
- Reasonable: standar "wajar"
versi siapa, tidak pernah dijelaskan secara eksplisit.
- Such: merujuk ke subjek sebelumnya,
tapi kalau paragraf sebelumnya panjang, rujukannya jadi kabur.
- Shall: bisa dibaca sebagai kewajiban
mutlak, bisa juga sebagai anjuran, tergantung siapa yang menafsirkan.
Kalau Anda
penasaran kenapa dunia legal drafting modern mulai meninggalkan kata-kata
ambigu semacam ini demi istilah yang lebih tegas, pembahasannya kami kupas
lengkap di artikel soal bahasa inggris hukum bisnis untuk kontrak
internasional.
Apakah Kontrak Berbahasa
Asing Sah di Mata Hukum Indonesia?
Sah.
Berdasarkan SEMA No. 3 Tahun 2023, kontrak berbahasa asing tanpa terjemahan
Bahasa Indonesia tidak serta-merta batal demi hukum, kecuali terbukti ada
iktikad tidak baik dari salah satu pihak.
Ketentuan
ini muncul untuk menjawab kegelisahan investor asing sekaligus pelaku bisnis
lokal yang sebelumnya was-was soal keabsahan kontrak berbahasa Inggris murni.
Sebelum SEMA ini terbit, ada anggapan bahwa kontrak wajib punya versi Bahasa
Indonesia berdasarkan UU No. 24 Tahun 2009 dan Perpres No. 63 Tahun 2019, atau
bisa dianggap batal.
Meski
begitu, SEMA ini bukan berarti versi Bahasa Indonesia jadi tidak penting.
Praktik terbaik tetap menyarankan dua versi bahasa disiapkan sejak awal untuk
menghindari perdebatan soal iktikad baik di kemudian hari.
Bagaimana Bahasa Indonesia
Sendiri Punya Kata-Kata Multitafsir?
Ambiguitas
leksikal bukan monopoli bahasa Inggris. Bahasa hukum Indonesia juga punya
kata-kata yang gampang dilonggarkan maknanya sesuai kepentingan pihak yang
lebih dominan.
Beberapa
contohnya:
- Kata "dapat" sering
dipakai untuk menunjukkan diskresi atau kelonggaran sanksi.
- Kata "memperhatikan"
kerap dipakai untuk mengesahkan prioritas sepihak, misalnya dalam soal
pengupahan.
- Frasa "istirahat
panjang" di beberapa dokumen ternyata jadi eufemisme halus untuk
pemutusan hubungan kerja.
- Kata "tidak mampu"
juga rawan dipakai secara longgar tanpa parameter yang jelas.
Pola ini
menunjukkan bahwa masalah ambiguitas sebenarnya soal kebiasaan menyusun kontrak
yang menghindari kejelasan, bukan semata soal bahasa apa yang dipakai.
Sengketa Apa Saja yang
Pernah Terjadi Akibat Klausul yang Ambigu?
Beberapa
sengketa nyata di Indonesia menunjukkan betapa mahalnya harga dari satu klausul
yang tidak jelas rujukannya.
Salah satu
contohnya adalah perselisihan antara sebuah bank dan sebuah universitas soal
Program Pengembangan Operasional. Kedua pihak berbeda tafsir mengenai
"tambahan jasa giro 1,5 persen per tahun" dan cara menghitung pajak
dari saldo minimal 30 miliar rupiah.
Pihak bank
melalui Commercial Funding Officer-nya, Shindy, dan pihak universitas lewat
Bendahara Pengeluaran, Shofifah, sama-sama punya argumen kuat soal bagaimana
klausul itu seharusnya dibaca. Ini contoh gamblang bahwa masalah bukan pada
niat, tapi pada kejelasan draf awal.
Contoh lain
datang dari sengketa sewa alat berat yang berujung ke Putusan No.
51/PDT/2017/PT.PLK. Perselisihan muncul karena kontrak tidak jelas menyebut
apakah tarif dihitung secara lumsum atau berdasarkan jam kerja alat (Hour
Meter). Pihak dari PT Adhi Karya Tbk. dan manajemen operasional lapangan
sama-sama merasa perhitungan versi mereka yang benar.
Ada juga
sengketa dunia hiburan yang melibatkan Aura Kasih dengan PT Debindo, serta
Syahrini dengan Blue Eyes Cafe. Kedua kasus ini menegaskan pentingnya klausul
mediasi sebagai jalan keluar di luar pengadilan, supaya reputasi para pihak
tetap terjaga meski sedang bersengketa.
Bagaimana Cara Menghindari
Ambiguitas Saat Menyusun Klausul Kerja Sama?
Cara paling
praktis adalah memastikan setiap istilah kunci punya definisi eksplisit di
bagian awal kontrak, bukan dibiarkan mengambang dan ditafsirkan bebas nanti.
Beberapa
langkah yang bisa langsung diterapkan:
- Buat daftar definisi untuk
setiap istilah teknis sebelum masuk ke klausul substansi.
- Ganti kata bermakna ganda
seperti may dengan kalimat yang menyebut kondisi spesifik.
- Cantumkan parameter jelas untuk
kata seperti reasonable, misalnya batas waktu atau standar industri
yang berlaku.
- Sertakan klausul mediasi
sebagai jalur penyelesaian sengketa sebelum masuk litigasi.
Perlu
dicatat, asas iktikad baik dalam hukum perdata Indonesia juga jadi pertimbangan
penting saat pengadilan menilai apakah ambiguitas itu disengaja atau tidak,
sebagaimana pernah diulas dalam kajian hukum perdata Indonesia.
Kalau
kontrak yang sedang Anda susun berkaitan dengan ekspansi bisnis ke luar negeri
dan butuh struktur anatomi klausul yang lebih lengkap, referensi soal bahasa
inggris hukum bisnis untuk kontrak internasional bisa jadi pelengkap yang
pas.
![]() |
| Ruang sidang ilustrasi sengketa klausul bahasa inggris di pengadilan Indonesia |
Kenapa Content Creator dan
Startup Founder Perlu Waspada Soal Ini?
Karena
kontrak kemitraan digital yang ditawarkan platform besar biasanya bersifat
sepihak dan disusun untuk kepentingan platform, bukan kreator atau mitra lokal.
Content
creator yang menandatangani kontrak tanpa membaca detail klausul bahasa inggris
berisiko kehilangan kontrol atas kontennya sendiri tanpa pernah menyadarinya.
Startup founder yang buru-buru menandatangani kontrak kerja sama asing juga
rentan terjebak strategic ambiguity yang sengaja dibuat pihak lawan.
Kalau Anda
ingin lebih memahami cara membaca terminologi hukum absolut versus longgar
dalam negosiasi bisnis, kami sudah bahas lengkap di artikel soal kosakata
negosiasi legal.
Buat yang
ingin memperdalam kemampuan membaca kontrak berbahasa Inggris secara mandiri,
Kampung Inggris Pare menyediakan jalur belajar lewat halaman paket dan program
kelas yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan profesional.
Klausul
bahasa inggris yang terlihat sepele seperti "may" atau
"reasonable discretion" bisa jadi celah besar yang merugikan pihak
yang lebih lemah dalam kontrak. Memahami pola ambiguitas ini, baik dalam bahasa
Inggris maupun Bahasa Indonesia, adalah langkah pertama supaya tidak jadi
korban kontrak sepihak.
DAFTAR
SUMBER
- Mahkamah Agung RI - SEMA No. 3 Tahun 2023
tentang bahasa dalam kontrak.
- Jurnal Locus / Jurnal KEMBARA
UMM - Kajian
ambiguitas leksikal dalam klausul kontrak berbahasa Inggris.
- Jurnal Rewang Rencang /
Indonesian Notary UI
- Analisis sengketa kontrak dan asas iktikad baik dalam hukum perdata
Indonesia.
Penulis: Rachel Wijayani (cel)


