Kesalahan Terjemahan Idiom, Ini Alasan Aslinya
Kesalahan terjemahan idiom terjadi karena mesin menerjemahkan makna harfiah kata, padahal idiom sepenuhnya bekerja di ranah makna konotatif yang jauh berbeda dari arti kamus.
Saya sering
ketemu mahasiswa yang nulis esai bahasa Inggris pakai bantuan Google Translate,
terus hasilnya kaku parah. Ternyata ini bukan salah mereka sepenuhnya.
Masalahnya
ada di cara kerja mesin itu sendiri.
Apa Beda Makna Denotatif
dan Konotatif dalam Idiom?
Makna
denotatif adalah arti sesungguhnya secara harfiah, sementara makna konotatif
melibatkan nilai rasa yang terikat budaya dan bisa berubah seiring waktu.
Idiom
selalu main di area konotatif ini. Beberapa contohnya gampang banget dipahami
orang Indonesia, tapi bikin mesin penerjemah tersesat total:
- "Besar kepala"
artinya sombong, bukan ukuran kepala yang membesar
- "Buah bibir" artinya
bahan pembicaraan, bukan buah yang ada di bibir
- "Bunga desa" artinya
gadis tercantik, bukan tanaman di desa
- "Hancur
berkeping-keping" artinya sedih mendalam, bukan piring pecah
Kalau
diterjemahkan literal kata per kata ke bahasa Inggris, hasilnya bakal jadi
kalimat aneh yang bikin pembaca asing garuk-garuk kepala.
Seberapa Sering Google
Translate dan DeepL Gagal Menerjemahkan Idiom?
Google
Translate dan DeepL terbukti konsisten gagal dalam aspek kesesuaian kontekstual
saat menerjemahkan idiom, berdasarkan riset yang menguji 150 idiom Indonesia
sekaligus.
Peneliti
dari Universitas Negeri Yogyakarta, Desakh Putu Setyalika Putri Dewayanti dan
Margana, melakukan uji komparatif dua mesin penerjemah raksasa ini secara
langsung.
Hasilnya,
DeepL memang sedikit lebih unggul dalam memanfaatkan konteks sekitar kalimat.
Tapi kesenjangan kualitasnya nggak signifikan, kedua mesin tetap kehilangan
sensitivitas budaya.
Contoh
kasusnya jelas banget. Idiom "air susu dibalas air tuba" yang artinya
kebaikan dibalas pengkhianatan, kalau diserahkan ke mesin hasilnya cuma
terjemahan literal tanpa makna kontekstual sama sekali.
Baca Juga: Ambiguitas Kata Ganti Inggris, Ini Biang Bias Gendernya
Kenapa Bahasa Daerah Bikin
Mesin Penerjemah Makin Kesulitan?
Bahasa
daerah bikin mesin penerjemah makin kesulitan karena punya tingkatan sosial
rumit yang menentukan pilihan kata berdasarkan status pembicara.
Contoh
paling gampang ada di bahasa Jawa, dengan tingkatan Ngoko, Krama, dan Krama
Inggil. Mesin sama sekali tidak punya kesadaran sosial buat memilih diksi sopan
sesuai konteksnya.
Ditambah
lagi soal bahasa campuran atau code-mixing yang lazim di percakapan
sehari-hari, misalnya:
- "Mohon follow up issue ini
sebelum meeting besok"
- "Kayaknya belum masuk
deh"
AI
multilingual generik cuma bisa menerjemahkan kalimat kayak gini secara kaku
atau malah membiarkan istilah lokalnya tanpa makna yang konsisten.
Kenapa Mesin Tidak Bisa
Punya "Ensiklopedia Universal"?
Mesin tidak
bisa punya ensiklopedia universal karena cara kerjanya murni berdasarkan
statistik dan pengenalan pola data, bukan interaksi kognitif dengan budaya
manusia.
Yehoshua
Bar-Hillel, ahli linguistik komputasi, sudah memformulasikan argumen ini sejak
tahun 1960. Menurutnya, mesin tidak akan pernah bisa membedakan makna ganda
sebuah kata secara akurat tanpa pemahaman menyeluruh tentang dunia nyata
layaknya manusia.
Ini juga
yang bikin ambiguitas kata jadi masalah abadi. Mesin kesulitan memilih padanan
kata yang tepat kalau sebuah kata punya banyak arti tergantung situasi
pemakaiannya.
Claude
Piron, penerjemah legendaris yang pernah bekerja untuk PBB dan WHO, pernah
menegaskan bahwa mesin penerjemah cuma mengotomatiskan bagian pekerjaan yang
paling mudah. Bagian tersulitnya justru riset mendalam buat memecahkan
ambiguitas biar pesan nggak jadi tidak bermakna.
![]() |
| Dosen menjelaskan penyebab kesalahan terjemahan idiom |
Kalau Bukan Idiom, Bahasa
Bisnis Aman Diterjemahkan Mesin?
Bahasa
bisnis juga rawan salah kalau ada unsur code-mixing atau ekspresi informal di
dalamnya, meski secara umum lebih aman dibanding idiom sastra.
Profesional
muda yang sering komunikasi lintas negara perlu waspada soal ini. Hasil
terjemahan yang kaku bisa menurunkan kepercayaan audiens atau merusak citra
profesional di mata klien asing.
Fenomena
ini masih satu keluarga besar dengan bias mesin penerjemah yang saya
bahas lebih dalam soal kegagalan AI memahami konteks budaya secara luas, bukan
cuma soal idiom saja.
Idiom akan
selalu jadi titik lemah mesin penerjemah selama makna konotatif belum bisa
dibaca statistik semata. Solusi paling aman tetap mengandalkan kepekaan bahasa
manusia, terutama untuk tulisan formal atau akademik.
DAFTAR
SUMBER
- Dewayanti, D. P. S. P., &
Margana, M. (2024). The impact of contextual understanding on neural
machine translation accuracy: A case study of Indonesian cultural idioms
in English translation. Englisia: Journal of Language, Education, and
Humanities, 12(1), 223-236.
- Pujiati. (2024). 4 Perbedaan
Makna Konotatif dan Denotatif. Penerbit Deepublish.
- Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA.
(2026). Mengapa Google Translate Tidak Selalu Tepat: Tantangan dalam
Penerjemahan Konteks. Universitas Negeri Surabaya.
Penulis: Rachel Wijayani (cel)


