Fakta Medis, Belajar Bahasa Inggris Tunda Demensia 5 Tahun

Latihan secara konsisten membuktikan bahasa inggris tunda demensia dan perpanjang masa mandiri

Generasi milenial saat ini sangat rajin berinvestasi reksa dana untuk masa tua, tetapi melupakan investasi yang paling penting: kesehatan saraf otak. Tulisan ini membedah sains di balik keajaiban bahasa inggris tunda demensia, mengubah proses menghafal kosakata menjadi perisai alami melawan kepikunan dan penyakit Alzheimer di usia senja.

Sebagai pekerja di rentang usia dua puluh lima hingga empat puluh tahun, kecemasanmu pasti sudah bergeser. Kamu tidak lagi cemas memikirkan baju apa yang harus kamu pakai untuk kencan malam Minggu.

Kecemasanmu kini bermuara pada biaya cicilan rumah, portofolio reksa dana saham, dan asuransi kesehatan masa tua. Apalagi jika kamu bagian dari "Generasi Sandwich".

Kamu mungkin saat ini sedang merawat orang tuamu yang sudah lansia dan mulai menunjukkan gejala kepikunan parah. Melihat langsung bagaimana penyakit demensia merampas ingatan dan kemandirian seseorang adalah ketakutan terburuk yang membayangi masa depan kita.

Kita pasti tidak ingin merepotkan anak cucu kita kelak dengan kondisi yang sama.

Pada artikel Fakta Medis Otak Bilingual sebelumnya, kita sudah membahas bagaimana proses menghafal vocabulary merombak saraf kepala. Kini, mari kita bahas sisi asuransinya.

Mempelajari bahasa asing bukan sekadar menambah nilai curriculum vitae, melainkan cara paling murah untuk membeli "asuransi" saraf otak.


Bagaimana cara otak membangun cadangan kognitif melalui bahasa asing?

Otak membangun cadangan kognitif (cognitive reserve) dengan cara melakukan aktivitas kognitif intensif secara terus menerus, seperti melatih memori, fokus perhatian, dan pemecahan masalah saat kita memproses aturan tata bahasa asing yang baru.

Kamu bisa membayangkan otakmu sebagai sebuah tangki bensin. Penuaan usia secara alami melubangi tangki tersebut.

  • Fungsi Cadangan: Keterlibatan aktif dalam belajar bahasa Inggris terus mengisi ulang tangki tersebut. Cadangan inilah yang berfungsi mengkompensasi dan menahan laju kerusakan sel saraf akibat penuaan.
  • Perawatan Fisik: Dr. Thomas Bak dari Pusat Penuaan Kognitif University of Edinburgh menegaskan proses ini. Beliau menyatakan bahwa orang yang fasih lebih dari satu bahasa melatih otak mereka secara konstan dengan berpindah pindah kata.

Bahkan, Dr. Bak menemukan fakta mencengangkan terkait pemulihan pasca trauma. Beliau mencatat bahwa 40,5 persen pasien stroke yang memiliki kemampuan bilingual pulih dengan fungsi mental normal, dibandingkan hanya 19,6 persen pada kelompok pasien monolingual.

Beliau menyarankan kita untuk menyempatkan belajar bahasa secara konsisten sekitar 5 jam dalam satu minggu.


Seberapa lama kemampuan bahasa inggris tunda demensia dan Alzheimer?

Berbagai studi meta analisis di Eropa menunjukkan bahwa kemampuan menguasai lebih dari satu bahasa dapat menunda kemunculan gejala demensia dan penyakit Alzheimer rata-rata sekitar empat hingga lima tahun lebih lambat dibandingkan kelompok yang hanya berbicara satu bahasa.

Lima tahun adalah tambahan waktu yang sangat berharga bagi kualitas hidup lansia. Penelitian dari Ellen Bialystok (Psikolog York University) dan Fergus I.M. Craik yang terbit di jurnal Neurology membuktikan rentang waktu ini.

Mereka mencatat bahwa orang monolingual rata-rata mulai menunjukkan tanda demensia parah di usia 71,4 tahun. Sementara itu, kelompok orang bilingual baru menunjukkan gejala serupa pada usia 75,5 tahun.

Bialystok menegaskan bahwa penggunaan dua bahasa mendongkrak aspek perhatian dan kontrol kognitif manusia sepanjang hidupnya.


Baca Juga: Cara Elegan Menjelaskan "Gap Year" ke HRD Saat Interview Kerja


Apakah belajar bahasa asing benar-benar menyembuhkan penyakit kepikunan?

Belajar bahasa asing tidak mencegah penyakit demensia secara mutlak atau menyembuhkannya, melainkan hanya menunda kemunculan gejalanya dengan cara melindungi dan memelihara ukuran hipokampus otak dari penyusutan (atrofi) fatal.

Kamu harus bersikap realistis. Jika secara genetik kamu membawa gen Alzheimer, sel otakmu secara fisik mungkin tetap akan terkena patologi plak penyakit tersebut saat tua nanti.

  • Efek Perlindungan: Karena cadangan kognitifmu sangat padat akibat terbiasa belajar keras, otakmu tetap bisa berfungsi normal dan mengingat nama keluargamu jauh lebih lama.
  • Pemeliharaan Fisik: Kristina Coulter, Kandidat PhD Concordia, membuktikan hal ini melalui pemindaian neuroimaging. Ia menunjukkan bahwa terdapat lebih banyak materi otak di area hipokampus (pusat memori) pada kelompok bilingual. Penemuan ini menunjukkan adanya bentuk pemeliharaan otak yang sangat kuat melawan proses penyusutan alami.

Dr. Agustín Ibáñez dan Dr. Lucia Amoruso dari Latin American Brain Health Institute merangkum fakta tersebut. Mereka menemukan bahwa bilingualisme melindungi manusia terhadap "penuaan biobehavioral".

Dr. Amoruso dengan tegas menyatakan bahwa efek ini bersifat kumulatif: semakin banyak bahasa yang dikuasai seseorang, semakin besar pula perlindungan yang ia miliki dari penurunan fungsi memori.


Mulailah Angkat Beban Untuk Otakmu Sekarang Juga

Sebagai penulis yang sangat memedulikan kemandirian usia tua, opini saya cuma satu: berhentilah beralasan bahwa usiamu sudah terlalu tua untuk memulai belajar.

Mitos bahwa belajar bahasa hanya efektif di masa balita adalah kebohongan paling malas. Otakmu butuh disiksa agar ia tetap lentur. Sains sudah membuktikan bahwa investasi bahasa inggris tunda demensia secara signifikan.

Jangan jadikan hari liburmu cuma sekadar bergulir di media sosial tanpa makna. Mulailah berinvestasi. Jangan tunggu sampai kamu lupa jalan pulang ke rumah.

Daftarkan dirimu ke kelas bahasa Inggris khusus dewasa secara online, atau ambil cuti panjang dan datang langsung ke Kampung Inggris Pare. Jadikan rutinitas menghafal sepuluh kosakata baru setiap pagi sebagai dana pensiun untuk sel-sel otakmu!

Punya pengalaman merawat anggota keluarga yang mulai pikun? Atau kamu sendiri sudah mulai sering lupa taruh kunci motor akhir-akhir ini? Yuk, ngobrol di kolom komentar!


Belajar secara aktif membuktikan bahasa inggris tunda demensia dengan lindungi area hipokampus
Belajar secara aktif membuktikan bahasa inggris tunda demensia dengan lindungi area hipokampus

FAQ (Pertanyaan yang Sering Muncul)

Apa perbedaan utama antara Alzheimer dan penyakit demensia?

Demensia bukanlah nama sebuah penyakit spesifik, melainkan istilah payung yang digunakan medis untuk menggambarkan serangkaian gejala penurunan fungsi kognitif yang memengaruhi daya ingat, pemikiran, dan kemampuan sosial yang mengganggu rutinitas sehari-hari. Sementara itu, Alzheimer adalah salah satu jenis penyakit spesifik pada otak yang merupakan penyebab paling umum (sekitar 60-80%) dari semua kasus demensia.

Apa ciri-ciri awal orang yang mulai terkena gejala demensia?

Gejala awal demensia sering kali tidak disadari karena dianggap wajar akibat usia tua. Beberapa ciri utamanya meliputi kesulitan mengingat peristiwa yang baru saja terjadi, sering kehilangan barang karena lupa meletakkannya di tempat aneh, kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara (gangguan bahasa), mudah tersesat di rute jalan yang sudah sangat familiar, serta perubahan suasana hati yang tiba tiba.

Apa saja tiga tahapan umum perkembangan penyakit demensia?

Perkembangan demensia umumnya terbagi dalam tiga fase. Fase Awal (Ringan) ditandai dengan sifat sering lupa dan kebingungan ringan terkait waktu. Fase Menengah (Sedang) ditandai dengan perubahan perilaku yang drastis, lupa nama anggota keluarga dekat, dan mulai membutuhkan bantuan untuk mandi atau berpakaian. Fase Akhir (Parah) membuat penderita kehilangan kemampuan mengunyah makanan, kehilangan memori total, dan bergantung sepenuhnya pada perawat.

Apakah kondisi Delirium dan Demensia merupakan hal yang sama?

Tidak sama. Meskipun gejalanya sama sama menyebabkan penderitanya kebingungan, sifatnya sangat berbeda. Delirium adalah kondisi darurat medis yang muncul secara tiba tiba (dalam hitungan jam atau hari) dan biasanya bersifat sementara karena dipicu oleh penyakit akut, infeksi parah, atau reaksi obat. Sebaliknya, demensia adalah penyakit progresif lambat yang berkembang dalam hitungan bulan atau tahun dan umumnya tidak dapat disembuhkan.

Lihat Sumber Informasi
Referensi Tulisan: 01. Fadli, Rizal, dr. (2020). Cara Menjaga Kesehatan Otak dengan Kemampuan Bilingual. Halodoc.
02. Craik, F. I. M., Bialystok, E., & Freedman, M. (2010). Delaying the onset of Alzheimer disease: Bilingualism as a form of cognitive reserve. Jurnal Neurology, 75(19), 1726–1729.
Penulis Artikel: Rachel Wijayani (cel)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *