Candi Tegowangi Pare, Healing Gratis Dekat Kampung Inggris
Candi Tegowangi dan Surowono adalah dua situs bersejarah peninggalan Majapahit di Pare, Kediri, yang bisa jadi pelarian akhir pekan paling murah dan bermakna. Keduanya menawarkan pengalaman berbeda: satu rindang dan segar cocok buat piknik, satunya lagi kecil tapi menyimpan relief yang bikin diam lama.
Kalau kamu lagi kursus di Kampung Inggris Pare dan mulai lelah dengan sesi listening dan speaking dari pagi sampai sore, ada dua tempat yang jaraknya dekat banget dari sana, gratis pula, dan cukup bikin napas lega: Candi Tegowangi dan Candi Surowono.
Keduanya peninggalan Kerajaan Majapahit, keduanya ada di Kediri, dan keduanya punya karakter yang beda banget. Satu luas dan teduh, satu lagi kecil tapi sarat cerita. Tulisan ini ditulis buat kamu yang butuh rekomendasi healing murah sekaligus nggak mau pulang dengan tangan kosong secara pengetahuan.
Candi Tegowangi Itu Apa?
Candi Tegowangi adalah candi Hindu peninggalan Kerajaan Majapahit yang dibangun sekitar tahun 1400 Masehi. Fungsinya sebagai tempat pendharmaan, yakni penghormatan terakhir bagi Bhre Matahun, ipar Raja Hayam Wuruk, yang wafat tahun 1388 M.
Candi ini berdenah bujur sangkar dengan ukuran 11,2 x 11,2 meter. Yang paling menonjol dari Candi Tegowangi adalah reliefnya: kisah Sudamala, sebuah cerita tentang Sadewa (tokoh bungsu Pandawa) yang berhasil meruwat Dewi Durga dari wujud menyeramkan kembali menjadi Dewi Uma yang cantik dan suci.
Cerita ruwatan ini bukan sembarang hiasan dinding. Menurut Dr. Ir. Lalu Mulyadi, MT., penulis buku Makna Motif Relief dan Arca Candi Surowono dan Candi Tegowangi, relief di kedua candi ini berfungsi sebagai medium untuk mengajarkan nilai kebaikan dan keburukan dalam kehidupan.
Pada masanya, nilai-nilai itu diharapkan bisa diimplementasikan oleh para pengikut Hindu-Buddha, dan menurutnya, nilai seni relief ini pun masih sangat relevan diterapkan ke dalam kesenian modern seperti arsitektur maupun ukiran.
Suasananya Kayak Gimana?
Tegowangi hari ini bukan sekadar reruntuhan candi yang sepi dan menyeramkan. Justru sebaliknya.
Lahan di sekitar candi luasnya sekitar 2 hektare, dipenuhi rumput hijau dan pepohonan rindang yang bikin suhu terasa jauh lebih sejuk. Warga sekitar sering menjadikannya lokasi piknik keluarga, sore-sorean, bahkan camping.
Citrawati Agustina, salah satu pengunjung, bilang: "Kini candi ini lebih bersih dan tertata. Yang menyenangkan, pengunjung tidak perlu biaya tiket masuk, jadi bukan hanya soal sejarah, tapi tempat yang nyaman bersantai membawa anak."
Untuk kamu yang aktif di Instagram atau TikTok, area Tegowangi juga cukup fotogenik.
Dewi Santika, wisatawan yang pernah berkunjung dan mengulasnya di Lemon8, bilang: "Arsitekturnya menawan dan suasananya tenang, membuat merasa kembali ke masa lalu. Banyak spot Instagramable dan makanan khas lokalnya lezat."
Soal tiket: gratis. Kamu hanya perlu bayar parkir.
Candi Surowono, Apa Bedanya?
Candi Surowono, atau nama aslinya Wishnubhawanapura, dibangun pada abad ke-14 untuk memuliakan Bhre Wengker, Raja Wengker yang merupakan paman Raja Hayam Wuruk. Letaknya sangat dekat dengan Kampung Inggris, tepatnya di Desa Canggu, Pare.
Kalau Tegowangi terasa lapang dan hijau, Surowono terasa lebih intim dan serius. Ukurannya lebih kecil, hanya 8x8 meter, dan saat ini yang tersisa hanyalah bagian kaki candi setinggi sekitar 3 meter.
Tapi jangan salah. Di balik fisiknya yang sederhana, relief Surowono menyimpan kisah-kisah penting:
- Arjuna Wiwaha: kisah meditasi Arjuna dan perang melawan raksasa.
- Sri Tanjung: kisah kesetiaan seorang istri yang difitnah.
- Bubuksah dan Gagang Aking: fabel moral tentang dua pertapa dengan cara laku berbeda.
Ladiya, seorang pelajar yang pernah berkunjung, mengungkapkan: "Candi Surowono ini menarik karena ceritanya punya nilai moral seperti kisah Bubuksah dan Gagang Aking. Tapi memang panas dan sepi, beda dengan Tegowangi yang luas, rindang, dan banyak jajanan."
Kok Surowono Lebih Ramai Malam Hari?
Di sinilah bagian yang bikin penasaran. Candi Surowono justru lebih diminati malam hari, bukan siang.
Bapak Malik, juru kunci Candi Surowono, mengungkapkan: "Kalau malam hari malah lebih sering, biasanya orang yang mau punya hajat seperti mau nikah. Utusan spiritual pejabat juga sering ke sini."
Ini bukan soal mistis murahan, melainkan bagian dari tradisi spiritual yang masih hidup di masyarakat sekitar.
Siang hari, Surowono memang relatif panas dan sepi karena area rindangnya terbatas. Jadi kalau kamu mau berkunjung hanya untuk wisata sejarah, sebaiknya datang pagi sebelum matahari terlalu tinggi.
Baca Juga: Spot Foto Estetik di Sekitar Kampung Inggris Buat Pamer di Instastory
Dari Kampung Inggris, Seberapa Jauh?
Kedua candi ini sangat mudah dijangkau dari Kampung Inggris Pare. Candi Surowono bahkan ada di Desa Canggu yang masih dalam radius dekat pusat Pare. Candi Tegowangi pun tidak jauh, bisa ditempuh dengan motor dalam waktu singkat.
Kalau kamu tinggal di asrama atau kos di sekitar Kampung Inggris dan ingin mengisi akhir pekan tanpa perlu keluar banyak uang, dua destinasi ini layak masuk daftar.
Soal wisata dan aktivitas menarik lainnya selama di Pare, kamu bisa cek juga artikel tentang edutourism di Kampung Inggris Pare yang membahas lebih luas soal pengalaman belajar sekaligus jalan-jalan di kawasan ini.
Mana yang Harus Dikunjungi Duluan?
Kalau kamu punya waktu terbatas dan ingin langsung merasakan suasana yang menyenangkan: pilih Tegowangi dulu. Gratis, rindang, dan instagramable.
Kalau kamu penasaran dengan sisi sejarah yang lebih dalam dan siap datang pagi-pagi: tambahkan Surowono ke rute yang sama. Dua candi dalam satu hari akhir pekan, bukan hal yang mustahil dari Pare.
![]() |
| Bagian kaki Candi Surowono di Desa Canggu Pare dengan relief halus peninggalan abad ke-14 |
Candi Tegowangi dan Candi Surowono adalah dua destinasi wisata sejarah Majapahit di Pare, Kediri, yang bisa dikunjungi dalam satu hari tanpa biaya besar. Tegowangi unggul dalam kenyamanan dan estetika, Surowono unggul dalam kedalaman cerita dan keunikan spiritualnya.
FAQ
1. Candi Tegowangi peninggalan siapa?
Candi Tegowangi adalah peninggalan Kerajaan Majapahit yang dibangun sekitar tahun 1400 Masehi sebagai tempat pendharmaan bagi Bhre Matahun, ipar Raja Hayam Wuruk. Bhre Matahun sendiri wafat pada tahun 1388 M, dan candi ini didirikan sebagai bentuk penghormatan terhadapnya.
2. Candi Tegowangi beragama apa?
Candi Tegowangi adalah candi bercorak Hindu. Hal ini terlihat jelas dari reliefnya yang menggambarkan kisah Sudamala, sebuah cerita yang bersumber dari tradisi Hindu tentang proses ruwatan atau penyucian roh Dewi Durga oleh Sadewa, salah satu tokoh Pandawa.
3. Candi Tegowangi bayar berapa?
Masuk ke Candi Tegowangi tidak dipungut biaya tiket masuk alias gratis. Pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir kendaraan. Dengan lahan seluas sekitar 2 hektare yang terawat dan sejuk, ini menjadikannya salah satu destinasi wisata paling terjangkau di Kediri.
4. Apa fungsi Candi Tegowangi bagi masyarakat sekarang?
Selain sebagai situs sejarah dan objek penelitian arkeologi, Candi Tegowangi kini berfungsi sebagai ruang publik rekreasi. Warga setempat dan wisatawan menggunakannya untuk piknik keluarga, bersantai sore, hingga camping. Suasananya yang rindang dan terawat menjadikannya tempat relaksasi yang populer di sekitar Pare, Kediri.
5. Apakah Candi Surowono dan Candi Tegowangi bisa dikunjungi dalam satu hari?
Ya, keduanya bisa dikunjungi dalam satu hari karena jarak antar kedua candi tidak terlalu jauh dan keduanya berada di kawasan Pare, Kediri. Disarankan mengunjungi Surowono di pagi hari sebelum terik, lalu lanjut ke Tegowangi yang lebih sejuk untuk bersantai siang hingga sore.
Lihat Sumber Informasi
02. Ipon, Susanti. (2015). Candi Surowono yang Bersejarah di Pare, Kediri. detikTravel.
03. Jayanti, Nanik Dwi. (2025). Beda Tegowangi, Candi Surowono Kediri Lebih Diminati Malam Hari, Kenapa?. TahuKediri.id.
Penulis Artikel: Rachel Wijayani (cel)


