Networking Event Internasional, Kenalan Sama Orang Hebat Tanpa Canggung

Sesi breakout room virtual dalam networking event internasional dengan peserta dari berbagai negara

Networking di event internasional membutuhkan tiga hal: persiapan yang terencana (riset, elevator pitch, manajemen energi), komunikasi yang tulus saat event berlangsung (aktif bertanya, menjadi pendengar), dan tindak lanjut yang dipersonalisasi via LinkedIn menggunakan formula RABT.

Strategi ini berlaku baik untuk event fisik maupun online, dan bisa dipraktikkan mulai dari level mahasiswa.

Pernah ikut webinar global, tapi cuma jadi penonton diam yang scroll chat doang? Atau malah udah niat mau kenalan sama speaker-nya, tapi bingung mau mulai dari mana? Ya, kita sama.

Networking di event internasional itu terasa kayak ujian mendadak yang nggak ada kisi-kisinya. Apalagi kalau kamu introvert, bahasa Inggris masih setengah matang, dan belum punya jabatan mentereng yang bisa dijadikan pembuka obrolan.

Padahal, kemampuan membangun koneksi profesional di level global bukan privilege eksklusif orang yang sudah mapan. Ini skill yang bisa dipelajari, diasah, dan dipraktikkan dari sekarang, bahkan sejak masih jadi mahasiswa.


Apa Itu Networking Event?

Networking event adalah acara yang dirancang khusus untuk mempertemukan orang-orang dari latar belakang profesional serupa, supaya mereka bisa membangun hubungan, berbagi wawasan, dan membuka peluang kolaborasi.

Dalam konteks internasional, networking event bisa berupa:

  • Konferensi global yang diadakan secara online (webinar besar, virtual summit)
  • Forum industri lintas negara
  • Sesi breakout room di event seperti TEDx, Google Developer Festival, atau AIESEC International Conference
  • Komunitas diskusi profesional di platform seperti Luma, Hopin, atau bahkan LinkedIn Events

Yang terjadi di dalamnya bukan cuma presentasi dan sesi tanya jawab. Ada sesi informal yang justru jadi "emas"-nya: obrolan singkat antar peserta, pertukaran kontak, hingga follow-up yang kemudian jadi kolaborasi nyata.


Kenapa Banyak yang Gagal Networking?

Kebanyakan orang datang ke event tanpa tujuan yang jelas, lalu pulang tanpa koneksi baru yang berarti.

Kesalahan paling umum yang sering terjadi:

  • Datang tanpa riset. Nggak tahu siapa yang hadir, siapa yang ngomong, atau topik apa yang sedang hot di event itu.
  • Nunggu disapa duluan. Terutama di event online, banyak peserta yang cuma jadi silent reader di chat.
  • Langsung jualan diri. Begitu ketemu orang baru, langsung cerita tentang kehebatan sendiri atau pasang penawaran.
  • Nggak ada follow-up. Setelah event selesai, koneksi yang baru terbentuk langsung hilang karena nggak ada tindak lanjut.

Networking yang efektif itu lebih mirip menanam benih daripada langsung panen. Dan benih butuh persiapan yang benar sebelum ditanam.


Gimana Cara Persiapan Sebelum Event?

Persiapan networking yang baik dimulai jauh sebelum hari H event. Tiga hal ini wajib dilakukan:

1. Tentukan tujuan yang spesifik

Jangan sekadar "mau networking". Pertanyakan: kamu mau cari mentor? Mau ketemu sesama profesional di bidang tertentu? Mau berdiskusi soal isu industri yang spesifik? Tujuan yang jelas akan membuat energi dan perhatianmu lebih terarah.

2. Riset peserta dan pembicara

Sebelum event, cek siapa yang akan hadir. Banyak event internasional yang publikasikan daftar speaker atau bahkan peserta. Manfaatkan itu. Cari tahu latar belakang mereka di LinkedIn, baca artikel atau publikasi terbaru mereka, dan siapkan satu pertanyaan relevan yang bisa kamu tanyakan.

3. Siapkan elevator pitch

Elevator pitch adalah perkenalan singkat yang padat makna, sekitar 30-60 detik. Contoh formatnya:

"Hi, I'm [Nama], a [Profesi/Mahasiswa] from Indonesia. I'm currently focusing on [Topik], and I'm really interested in how [Topik terkait yang relevan dengan event]."

Latih sampai terasa natural, bukan seperti hafalan.

Khusus untuk introvert: Alexa Vlahakis, kontributor di komunitas profesional Esri, menyarankan untuk menyiapkan waktu 10 menit sebelum event, baik untuk meditasi singkat atau sekadar menikmati kopi. Ini bukan berlebihan, ini adalah manajemen energi sosial yang valid.


Gimana Cara Ngobrol Saat Event Berlangsung?

Strategi komunikasi saat networking event internasional dimulai dari satu prinsip sederhana: jadilah pendengar yang baik sebelum menjadi pembicara yang menarik.

Beberapa taktik konkret yang bisa langsung dicoba:

Gunakan pertanyaan pembuka yang ringan tapi relevan:

  • "What's your take on the last session?"
  • "What's the biggest challenge you're currently working on?"
  • "Have you attended this event before?"

Pertanyaan seperti ini membuka percakapan tanpa membutuhkan konteks sebelumnya. Orang-orang di event internasional biasanya justru senang diajak diskusi oleh peserta yang antusias.

Hindari jebakan ini:

  • Mendominasi percakapan dan terlalu banyak cerita tentang diri sendiri
  • Mengeluh soal pekerjaan, situasi ekonomi, atau hal negatif lainnya
  • Jadi "silent reader" di kolom chat event online tanpa pernah berinteraksi

Trik gamifikasi untuk introvert:

Alexa Vlahakis punya saran yang cukup jitu: ubah event jadi sebuah tantangan kecil. Targetkan untuk berkenalan dengan minimal satu orang baru per hari selama event berlangsung. Satu saja. Itu sudah jauh lebih baik dari nol.

Trik ini efektif karena mengalihkan fokus dari rasa cemas menjadi rasa ingin mencapai sesuatu.


Baca Juga: Transferable Skills di CV Inggris, Biar Pengalaman Kamu Relevan

Gimana Cara Follow-up yang Nggak Bikin Awkward?

Follow-up setelah networking event adalah tahap yang paling sering dilewatkan, padahal justru di sinilah koneksi benar-benar terbentuk.

Standar yang bisa dipakai untuk follow-up via LinkedIn adalah formula RABT: Relevant, Authentic, Brief, Targeted.

Contoh pesan yang bisa disesuaikan:

"Hi [Nama], I attended the same session as you at [Nama Event] yesterday. Your point about [topik spesifik] really resonated with me. I'd love to connect and stay in touch!"

Kenapa formula ini penting? Dini Adica, penulis di Digination.ID, mencatat bahwa pesan yang dipersonalisasi untuk penerimanya memiliki kemungkinan direspons hingga 50% lebih besar dibanding pesan generik.

Yang harus dihindari dalam follow-up:

  • Jangan langsung minta waktu untuk meeting atau call di pesan pertama
  • Jangan kirim pesan template yang sama ke banyak orang sekaligus
  • Jangan langsung menawarkan jasa atau produk

Bangun interaksi organik dulu. Like dan komentari konten mereka secara tulus. Balas postingan mereka dengan perspektif yang relevan. Hubungan profesional yang kuat itu dibangun perlahan, bukan dikejar-kejar.


Bahasa Inggris Jadi Hambatan? Ini Kenyataannya

Di event internasional, bahasa Inggris memang jadi alat utama komunikasi. Tapi kenyataannya, banyak peserta yang juga bukan native speaker.

Orang dari India, Vietnam, Brasil, Nigeria, bahkan Jepang, semuanya hadir dengan aksen dan level kepercayaan diri yang berbeda-beda. Kamu bukan satu-satunya yang khawatir soal pronunciation atau grammer.

Yang benar-benar diperhatikan orang bukan aksenmu. Tapi apakah kamu mendengarkan dengan serius, apakah kamu menunjukkan ketertarikan yang tulus, dan apakah kamu bisa menyampaikan ide dengan jelas meskipun sederhana.

Kalau kamu sedang dalam proses memperkuat kemampuan bahasa Inggris untuk kebutuhan profesional global, ya, itu investasi yang masuk akal. Kemampuan komunikasi yang solid akan membuat semua strategi networking di atas jauh lebih efektif.


Mahasiswa Indonesia mempersiapkan riset peserta sebelum mengikuti networking event internasional
Mahasiswa Indonesia mempersiapkan riset peserta sebelum mengikuti networking event internasional

Satu Langkah Kecil yang Mengubah Segalanya

Networking di event internasional bukan tentang siapa yang paling percaya diri atau paling fasih berbahasa Inggris. Ini tentang siapa yang mau memulai, meskipun belum sempurna.

Satu koneksi yang tulus, satu pesan follow-up yang dipersonalisasi, satu pertanyaan yang relevan di sesi chat, semua itu bisa menjadi awal dari relasi profesional yang berumur panjang.

Kamu nggak perlu menunggu sampai jadi "siap". Mulai dari event berikutnya yang kamu daftar, coba terapkan satu taktik saja dari yang sudah dibahas di atas.

Dan kalau kamu penasaran bagaimana networking lintas budaya ini nyambung dengan strategi karier jangka panjang, cek juga artikel sebelumnya tentang career pivoting di era 2026.


FAQ

Apa itu networking event internasional?

Networking event internasional adalah acara profesional yang mempertemukan peserta dari berbagai negara untuk membangun koneksi, berbagi wawasan, dan membuka peluang kolaborasi lintas batas. Formatnya beragam: mulai dari konferensi tatap muka di luar negeri hingga virtual summit dan webinar global yang bisa diikuti dari mana saja, termasuk dari Indonesia.

Apa yang biasanya terjadi di acara networking?

Di dalam networking event, peserta tidak hanya mendengarkan presentasi. Ada sesi informal seperti breakout room, sesi tanya jawab interaktif, dan pertukaran kontak antar peserta. Di sinilah koneksi nyata terbentuk: lewat obrolan pendek yang tulus, bukan sekadar bertukar kartu nama atau klik tombol "connect" di LinkedIn.

Bagaimana cara memulai percakapan di networking event internasional?

Mulai dengan pertanyaan ringan yang relevan dengan konteks event, misalnya menanyakan pendapat lawan bicara tentang sesi yang baru saja berlangsung. Hindari langsung memperkenalkan diri panjang-panjang atau menceritakan pencapaian. Jadilah pendengar aktif terlebih dahulu, baru perkenalan akan terasa natural dan tidak dipaksakan.

Apa itu formula RABT dalam LinkedIn networking?

RABT adalah singkatan dari Relevant, Authentic, Brief, dan Targeted. Formula ini digunakan saat mengirim pesan pertama ke koneksi baru di LinkedIn setelah suatu event. Pesannya harus menyebut konteks yang sama (event yang dihadiri bersama), disampaikan dengan tulus, singkat dan langsung ke inti, serta disesuaikan untuk penerima yang spesifik, bukan pesan copy-paste massal.

Apakah introvert bisa sukses networking di event internasional?

Ya. Introvert punya keunggulan sebagai pendengar yang lebih aktif, yang justru sangat diapresiasi dalam percakapan profesional. Strateginya adalah memanfaatkan gamifikasi: targetkan berkenalan dengan minimal satu orang per hari. Selain itu, siapkan energi sosial sebelum event dimulai dan gunakan pertanyaan pembuka yang sudah dipersiapkan agar percakapan tidak terasa dipaksakan.


Referensi Tulisan: 01. Universitas Pendidikan Indonesia - Direktorat Kemahasiswaan. Membangun Relasi dan Networking Selama Kuliah untuk Kesuksesan Karier. https://dit-mawa.upi.edu
02. Adica, Dini. (2025). Dos and Don'ts Ketika Ingin Mengirim Cold Message di LinkedIn. Digination.ID. https://digination.id
03. Vlahakis, Alexa. (2022). 30 Networking Tips for Introverts when Attending Conferences. Esri Community YPN Blog. https://community.esri.com

Penulis Artikel: Rachel Wijayani (cel)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *