Toleransi Lintas Agama di Asrama Pare, Indah dan Nyata

Makan malam bersama pelajar berbagai daerah di asrama Pare Kediri

Toleransi lintas agama di asrama Pare terjadi secara alami karena pelajar dari seluruh Indonesia hidup berdampingan 24 jam, berbagi fasilitas, dan bekerja sama dalam kelompok yang heterogen tanpa sekat.

Kalau kamu pernah dengar orang bilang "toleransi itu susah dipraktikkan", mungkin mereka belum pernah tinggal di asrama Pare.

Di sini, tidak ada ceramah soal toleransi. Yang ada adalah makan malam yang ditunda karena menunggu teman Muslim selesai salat Magrib. Hal kecil. Tapi tepat di situlah toleransi yang sesungguhnya hidup.


Seperti Apa Kehidupan Asrama yang Nyata di Pare?

Asrama di Kampung Inggris bukan tempat mewah. Kamarnya kecil, fasilitas dibagi, jadwal diatur bersama.

Tapi justru kondisi itulah yang menjadi laboratorium sosial paling efektif. Siti Roisadul Nisok, alumni pelajar Pare yang juga menulis tentang pengalamannya, menggambarkannya langsung: "Masyarakat asli Pare maupun pendatang saling menghormati keyakinan yang dianut oleh setiap individu. Sederhananya saja, saat saya dan teman Muslim lainnya melaksanakan salat maghrib, hampir setiap hari teman saya yang berkeyakinan non-Muslim bersedia menunggu kami selesai salat agar bisa makan malam bersama."

Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada aturan tertulis soal itu. Terjadi begitu saja.


Kenapa Pare Bisa Sepotoleran Ini?

Jawabannya ada di komposisi manusianya.

Pelajar di Kampung Inggris datang dari seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari berbagai suku, etnis, dan agama. Tidak ada kelompok mayoritas yang dominan secara sosial di sini. Semua orang adalah pendatang. Semua orang sama-sama asingnya.

Kondisi ini memaksa satu hal yang jarang terjadi di kehidupan sehari-hari: kamu tidak bisa memilih untuk hanya bergaul dengan "orang yang sama" dengan kamu. Tim kelompokmu campur. Teman sekamarmu berbeda agama. Dan ternyata, dunia tidak runtuh karenanya.

Siti menambahkan: di Pare tidak ada sekat ke-Baratan atau ke-Timuran. Yang ada hanyalah ke-Indonesiaan.


Apakah Toleransi di Pare Punya Dasar yang Kuat?

Ada risetnya, bukan cuma kesan.

Nilna Hidayatul Ummah, peneliti dari IAIN Kediri, melakukan studi langsung di Desa Sidorejo, Kecamatan Pare, tentang kehidupan masyarakat Islam dan Kristen yang tinggal berdampingan.

Kesimpulannya: toleransi beragama di sana berhasil dibangun melalui sikap saling membantu dan komunikasi yang baik, sehingga menciptakan suasana yang harmonis meski keyakinan berbeda.

Yang menarik dari temuan ini adalah faktor yang paling berperan bukan kebijakan pemerintah, bukan program formal. Tapi komunikasi antar individu dan peran tokoh masyarakat setempat yang aktif memelihara kerukunan.


Baca Juga: Doa Sebelum Ujian IELTS dan Afirmasi Positif yang Terbukti

Apa yang Bisa Dipelajari dari Sistem Asrama Pare?

Pesantren dan asrama memiliki pelajaran yang sama: hidup komunal mengajarkan hal-hal yang tidak ada di buku teks.

  • Menghormati waktu ibadah orang lain menjadi kebiasaan, bukan kerelaan yang terpaksa.
  • Pembagian ruang dan fasilitas mengajarkan negosiasi dan kompromi secara langsung.
  • Kerja kelompok yang heterogen membuktikan bahwa perbedaan latar belakang justru memperkaya solusi yang dihasilkan.
  • Mengenal tradisi satu sama lain membangun rasa ingin tahu yang sehat, bukan kecurigaan.

Blog Ponpes Rahmatul Hidayah (2025) juga menulis tentang fenomena serupa di pesantren: asrama adalah miniatur kehidupan, tempat toleransi bukan diajarkan tapi dialami.

Pare sudah melakukan ini jauh lebih lama dari yang banyak orang sadari.


Apa Pesannya untuk Pelajar Baru yang Akan ke Pare?

Satu hal yang perlu dibuang sebelum berangkat: asumsi bahwa perbedaan agama akan menjadi hambatan pergaulan.

Gus Dur pernah menyatakan sesuatu yang sangat selaras dengan kehidupan di Pare: "Perbedaan keyakinan secara teologis tidak akan menghalangi umat beragama yang berbeda untuk saling bekerja sama, terutama yang menyangkut masalah kemanusiaan."

Di Pare, "masalah kemanusiaan" itu sesederhana: menunggu teman salat sebelum makan malam bersama. Atau membagi charger. Atau membangunkan teman yang ketiduran saat harus ke kelas.

Dan dari sanalah persahabatan yang paling kuat terbentuk.

Kerukunan di Pare bukan kebetulan, dan ini adalah bagian dari warisan lingkungan belajar yang sudah lama mendorong kedewasaan batin, termasuk melalui pendekatan eduspiritual yang semakin disadari pelajar-pelajar di sini.


Pelajar lintas agama kerja kelompok di asrama Kampung Inggris Pare
Pelajar lintas agama kerja kelompok di asrama Kampung Inggris Pare

Toleransi lintas agama di asrama Pare bukan narasi indah yang dipoles. Ia nyata, terdokumentasi dalam riset, dan dialami langsung oleh ribuan pelajar yang pernah tinggal di sana.

Kuncinya sederhana: semua orang adalah pendatang, semua orang belajar bersama, dan tidak ada yang punya hak untuk merasa lebih berhak dari yang lain.


FAQ

1. Apakah toleransi beragama di Pare benar-benar terjadi atau sekadar klaim?

Terjadi nyata, dan ada riset yang membuktikannya. Penelitian dari IAIN Kediri (2024) di Desa Sidorejo, Kecamatan Pare, menemukan bahwa masyarakat Islam dan Kristen hidup sangat harmonis, sering saling membantu dalam kegiatan sosial, dan merayakan hari besar bersama. 

Kesaksian alumni pelajar seperti Siti Roisadul Nisok juga mengkonfirmasi hal yang sama dari sisi kehidupan asrama.

2. Apakah ada aturan khusus soal toleransi di asrama Kampung Inggris?

Tidak ada aturan tertulis yang spesifik. Toleransi di Pare terbentuk secara organik dari kondisi kehidupan komunal yang memaksa interaksi lintas latar belakang setiap hari. Siswa hidup berdampingan 24 jam, berbagi fasilitas, dan bekerja dalam tim heterogen sehingga toleransi bukan pilihan, melainkan cara hidup yang alami.

3. Dari mana asal pelajar yang belajar di Kampung Inggris Pare?

Dari seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Tidak ada satu kelompok yang mendominasi. Keberagaman ini justru menjadi kekuatan terbesar Pare sebagai ruang belajar moderasi beragama, di mana tidak ada yang bisa membentuk "geng" berdasarkan asal daerah atau agama.

4. Bagaimana cara menghadapi perbedaan agama saat kerja kelompok di asrama?

Fokus pada tujuan bersama: menyelesaikan tugas dengan baik. Hormati jadwal ibadah masing-masing anggota tim saat merencanakan sesi kerja kelompok. Pengalaman pelajar Pare menunjukkan bahwa menghormati waktu ibadah orang lain justru mempererat hubungan, bukan memperlambat kerja tim.


Referensi Tulisan: 01. Pondok Pesantren Rahmatul Hidayah. (2025). Pesantren sebagai Miniatur Kehidupan: Belajar Toleransi di Asrama. Blog Ponpes Rahmatul Hidayah.
02. Ummah, Nilna Hidayatul. (2024). Implementasi Toleransi Beragama dalam Kristen dan Islam (Studi Masyarakat di Desa Sidorejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri). Skripsi Sarjana, IAIN Kediri.
03. Nisok, Siti Roisadul. (2022). Selain Bahasa, Kampung Inggris Pare Juga Ajarkan Moderasi Beragama. IBTimes.ID.

Penulis Artikel: Rachel Wijayani (cel)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *