Eduspiritual Pare, Damai Mental Saat Jauh dari Keluarga
Eduspiritual Pare adalah pendekatan belajar berbasis kecerdasan spiritual yang terbukti meningkatkan kesejahteraan psikologis pelajar rantau di Kampung Inggris Kediri.
Pare itu bukan cuma soal grammar dan speaking. Ada hal lain yang diam-diam terjadi di sini: ribuan pelajar dari seluruh Indonesia belajar bertahan tanpa keluarga, tanpa lingkungan yang familiar, dan seringkali tanpa tahu cara menghadapi kekosongan yang tiba-tiba muncul di malam hari.
Bukan lebay. Itu nyata.
Apa yang Sebenarnya Berat dari Hidup di Pare?
Tekanan di Pare bukan cuma soal hafalan vocabulary. Masalah sesungguhnya lebih dalam dari itu.
Riset dari Universitas Kristen Satya Wacana (2025) menemukan bahwa mahasiswa rantau menghadapi tiga tekanan utama secara bersamaan: tuntutan akademik yang tiba-tiba melonjak, kesulitan membangun relasi dengan orang dari latar belakang berbeda, dan perasaan asing di lingkungan baru.
Kalau ketiganya datang bersamaan tanpa bekal yang cukup, kesejahteraan psikologis bisa anjlok.
Di Pare, kondisi ini bahkan lebih intens karena ritme belajarnya memang padat. Pagi sudah ada kelas, siang ada tugas, malam ada sesi diskusi. Tidak ada jeda yang cukup untuk sekadar "ngerasa" apalagi untuk mengolah rasa rindu yang pelan-pelan menumpuk.
Apa Itu Eduspiritual dan Kenapa Relevan di Sini?
Eduspiritual bukan istilah yang aneh di kalangan akademisi pendidikan Islam. Peneliti Ujud Supriaji dari UMNU Kebumen mendefinisikannya sebagai integrasi pendidikan intelektual dengan kecerdasan spiritual: "Dalam hidup ini tidak hanya dibutuhkan cerdas intelektual yang logis dan realistis, tetapi juga dibutuhkan sebuah spirit berketuhanan."
Ia juga menemukan hasil konkret: setelah menjalankan pendidikan spiritual secara rutin, siswa menjadi lebih tenang hatinya, lebih jujur, dan disiplinnya meningkat.
Di Pare, pendekatan ini mulai diakui keberadaannya. Komunitas GUSDURian Mojokutho Pare pernah memfasilitasi seminar kecerdasan spiritual khusus untuk pelajar milenial dan Gen-Z yang sedang menjalani program intensif di Kampung Inggris, dengan penekanan pada membangun makna hidup di tengah padatnya jadwal.
Apa Hubungannya Spiritualitas dengan Nilai Akademik?
Ini bukan klaim ngawur. Ada datanya.
Penelitian Subagyo dan Huwae (2025) yang dipublikasikan di Jurnal Penelitian Pendidikan, Psikologi, dan Kesehatan menemukan korelasi langsung: semakin tinggi tingkat religiositas mahasiswa rantau, semakin tinggi pula kesejahteraan psikologisnya.
Mereka lebih mampu menghadapi situasi menekan secara optimal, dan secara tidak langsung terlindungi dari pergaulan bebas serta perilaku tidak sehat.
Logikanya sederhana: orang yang punya pegangan batin yang kuat tidak mudah goyah ketika lingkungan sekitarnya tidak kondusif.
KH. Mohammad Ali Hanafiah Akbar, yang pernah mengisi seminar di Pare, menjelaskan mekanismenya dengan cara yang mudah dicerna: "Apabila hati manusia tenang karena mengingat Tuhannya, maka semua yang dilakukan akan menjadi wasilah amalan kebaikan dan pahala. Setelah hati tentram, kecerdasan itu akan tumbuh, setelah itu baru melakukan semua aktivitas bisa fokus."
Jadi sebenarnya, spiritualitas bukan penghalang produktivitas. Ia justru prasyaratnya.
Bagaimana Cara Menjalankan Eduspiritual di Pare?
Tidak harus ribet. Beberapa langkah praktis yang bisa langsung diterapkan:
- Tetapkan rutinitas ibadah sebagai anchor harian. Bukan soal formalitas, tapi soal memberi ritme yang stabil di tengah hari yang padat.
- Ikut komunitas berbasis nilai. Di Pare ada banyak komunitas lintas agama yang aktif. Komunitas-komunitas ini bukan cuma tempat ibadah, tapi juga jaringan sosial yang sehat, seperti yang tercermin dari kehidupan toleransi lintas agama di asrama Pare yang sudah terbentuk secara alami.
- Baca atau dengarkan konten yang memperdalam makna, bukan sekadar konten hiburan. Banyak pelajar Pare yang mulai memadukan sesi dzikir atau refleksi pendek sebelum tidur sebagai cara "menutup hari."
- Jadikan doa sebagai strategi, bukan sekadar ritual. Bahkan saat menghadapi ujian besar seperti IELTS, ada doa-doa spesifik yang secara psikologis terbukti membantu menstabilkan kondisi mental sebelum memasuki ruang ujian.
Apa Peran Lingkungan Fisik Pare dalam Kesehatan Mental?
Eduspiritual bukan satu-satunya cara. Pare juga punya keuntungan geografis yang sering dilupakan.
Tidak jauh dari kawasan belajar Kampung Inggris, ada beberapa tempat yang bisa jadi tempat menyegarkan pikiran:
- Kampung Anggrek, Desa Tulungrejo — ribuan bunga yang cocok untuk sekadar berjalan pelan dan bernafas.
- Gumul Paradise Island — air dan suasana terbuka yang bisa memutus siklus overthinking.
- Kampung Ratu — alam sungai yang lebih sepi, cocok untuk yang butuh ketenangan literal.
Healing fisik dan spiritual bekerja paling baik kalau dijalankan bersamaan, dan ini berlaku untuk semua pelajar di Pare, termasuk mereka yang merayakan hari besar jauh dari keluarga di tengah padatnya jadwal belajar.
Apa yang Harus Dibawa Pulang dari Semua Ini?
Pare mengajarkan banyak hal di luar bahasa Inggris. Salah satu yang paling valuable tapi jarang disebut: kemampuan untuk tetap waras dan damai meski jauh dari semua yang familiar.
Eduspiritual bukan konsep yang eksklusif untuk pesantren atau lembaga keagamaan formal. Di Pare, ia hadir dalam bentuk yang lebih organik: seminar komunitas, kebiasaan sehari-hari, dan pilihan sadar untuk tidak membiarkan tekanan belajar menggerus ketenangan batin.
Imam Syafi'i, praktisi pendidikan dan motivator yang aktif di Pare, pernah menyatakan bahwa motivasi adalah masalah dasar manusia, baik secara agama maupun syariat. "Terutama bagi seorang pelajar, mereka harus ditumbuhkan motivasinya."
Dan motivasi yang paling tahan lama bukan yang datang dari luar, tapi dari dalam. Itulah inti dari eduspiritual.
![]() |
| Pelajar rantau Pare membaca Al-Qur'an di kamar kos sebagai praktik eduspiritual |
Eduspiritual di Pare bukan tren, bukan juga konsep abstrak. Ia adalah respons praktis terhadap tantangan nyata yang dihadapi ribuan pelajar rantau setiap harinya. Data mendukung, kisah nyata membuktikan, dan lingkungan Pare sendiri cukup kondusif untuk menjalankannya.
FAQ
1. Apa itu eduspiritual di konteks Kampung Inggris Pare?
Eduspiritual di Pare merujuk pada integrasi antara pendidikan intelektual dan kecerdasan spiritual. Ini bukan soal pelajaran agama formal, melainkan praktik kesadaran spiritual sehari-hari seperti dzikir, doa, dan keterlibatan komunitas berbasis nilai yang membantu pelajar rantau menjaga kesehatan mental di tengah tekanan belajar intensif.
2. Apakah ada bukti ilmiah bahwa spiritualitas membantu pelajar rantau?
Ada. Penelitian tahun 2025 dari Universitas Kristen Satya Wacana menemukan korelasi positif yang signifikan antara tingkat religiositas dan kesejahteraan psikologis mahasiswa rantau di Pulau Jawa. Mahasiswa dengan religiositas tinggi lebih mampu menghadapi tekanan dan terlindungi dari perilaku tidak sehat.
3. Apakah eduspiritual hanya untuk pelajar Muslim?
Tidak. Konsep kecerdasan spiritual bersifat lintas agama. Di Pare sendiri, seminar dan komunitas berbasis nilai melibatkan pelajar dari berbagai latar belakang agama, mencerminkan iklim toleransi yang sudah lama terbentuk di kawasan ini.
4. Apa hubungan eduspiritual dengan prestasi akademik?
Penelitian Supriaji (2019) menemukan bahwa rutinitas pendidikan spiritual meningkatkan ketenangan hati, kejujuran, dan kedisiplinan siswa, tiga komponen yang langsung berpengaruh pada kualitas belajar. Hati yang tenang memungkinkan otak untuk lebih fokus memproses informasi.
5. Di mana tempat healing fisik terdekat dari Kampung Inggris Pare?
Beberapa pilihan: Kampung Anggrek di Desa Tulungrejo (cocok untuk refreshing santai), Gumul Paradise Island (aktivitas air), dan Kampung Ratu (alam sungai yang tenang). Semuanya bisa dijangkau dalam waktu singkat dari kawasan belajar Pare.
02. Supriaji, Ujud. (2019). "Konsep Pendidikan Spiritual." Cakrawala: Jurnal Kajian Manajemen Pendidikan Islam dan Studi Sosial, Vol. 3 (No. 1): 16-46, E-Journal IAINU Kebumen.
03. Subagyo, I. G. Y. N. & Huwae, A. (2025). "Religiositas dan Kesejahteraan Psikologis pada Mahasiswa Rantau di Pulau Jawa." Jurnal Penelitian Pendidikan, Psikologi dan Kesehatan (J-P3K), Vol. 6 (No. 2): 726-736.
Penulis Artikel: Rachel Wijayani (cel)


