Merayakan Kenaikan Isa Almasih di Pare sebagai Perantau

Komunitas pemuda Kristen di Kampung Inggris Pare ibadah bersama

Pelajar Kristen rantau di Pare bisa merayakan Kenaikan Isa Almasih secara bermakna melalui ibadah di gereja setempat, komunitas pemuda, dan praktik doa batin yang membangun kedamaian sejati.

Ada momen di perantauan yang paling berat bukan saat tugas menumpuk atau nilai ujian mengecewakan. Momen terberat justru adalah hari raya yang tiba tanpa keluarga di sisinya.

Bagi pelajar Kristen yang sedang menjalani program intensif di Pare, Kenaikan Isa Almasih tahun ini mungkin jatuh di tengah-tengah jadwal kursus yang padat. Mau pulang, tanggungnya setengah jalan. Mau tetap di sini, hati bilang lain.


Apa Makna Kenaikan Isa Almasih bagi Pelajar Rantau?

Kenaikan Yesus Kristus diperingati 40 hari setelah kebangkitan, dan secara teologis ia bukan sekadar peristiwa historis. Peringatan ini membawa pesan tentang keteguhan iman dan pengharapan di tengah ketidakpastian.

Pendeta Simeon dari GBI Pare membingkainya dengan cara yang justru relevan sekali buat pelajar rantau: "Yesus memerintahkan agar para murid menanti di Yerusalem hingga mereka diperlengkapi kuasa oleh Roh Kudus untuk menjadi saksi Kristus."

Kalau dipikir ulang, bukankah anak rantau di Pare juga sedang "menanti dan mempersiapkan diri"? Kamu hadir di sini bukan tanpa alasan. Ada penugasan yang sedang kamu jalani, dan Kenaikan bisa jadi pengingat bahwa perjalanan ini bermakna, meski jauh dari rumah.


Kenapa Hari Raya Terasa Paling Menyakitkan di Perantauan?

Karena hari raya bukan cuma soal perayaan. Ia soal kehadiran.

Riset dari PAIS UNDA Samarinda (2024) menjelaskan bahwa kesepian pada mahasiswa rantau dimaknai sebagai perasaan hampa dan terisolasi akibat kurangnya interaksi emosional langsung dengan keluarga.

Yang menarik: kondisi ini bisa terjadi bahkan ketika orang tersebut sedang berada di tengah keramaian.

Jarak fisik ditambah ketidakhadiran keluarga di momen hari besar menjadi pemicu utama kecemasan. Ini bukan kelemahan. Ini manusiawi.


Bagaimana Cara Merayakan Kenaikan Isa Almasih di Pare?

Kabar baiknya, Pare tidak meninggalkan kamu sendirian.

  • Ibadah di Gereja setempat. Di kawasan Pare dan sekitar Kediri, kamu bisa mengikuti kebaktian khusus di Gereja Santo Mateus Pare (terdaftar di Jadwal Misa Keuskupan Surabaya) atau di GBI Pare yang aktif mengadakan kebaktian rutin dan peringatan hari besar.
  • Bergabung dengan persekutuan pemuda. Global Glory Christian (GGC) adalah komunitas pemuda Kristen yang aktif di kawasan Kampung Inggris. Bergabung di sana bukan cuma soal ibadah, tapi juga membangun jaringan dengan sesama pelajar dari seluruh Indonesia yang ada di Pare.
  • Video call keluarga, dijadwalkan. Bukan saat kangen saja. Jadwalkan seperti janji penting, karena memang penting.
  • Kulineran bersama teman senasib. Al Fajrin, mahasiswa rantau Universitas Airlangga, pernah berbagi tips sederhana: "Sebaiknya bermain ke daerah teman yang nasibnya sama... Selain itu, kulineran makanan khas daerah bisa menjadi obat rindu alternatif yang mudah dilakukan."

Apa Itu Kedamaian Batin dan Bagaimana Meraihnya?

Kedamaian batin bukan kondisi ketika semuanya sedang baik-baik saja. Itu yang sering disalahpahami.

Santa Teresa dari Avila, tokoh spiritualitas Kristen abad ke-16, mengajarkan bahwa doa batin adalah "suatu pergaulan persahabatan dengan Tuhan, yang kita sadar bahwa Dia mengasihi kita."

Ia juga punya nasihat untuk yang sering merasa pikirannya kemana-mana saat berdoa: "Jangan biarkan pikiranmu yang mengembara menghalangimu untuk berdoa. Tuhan tetap hadir walau engkau merasa tidak bisa hadir sepenuhnya."

Bagi pelajar rantau yang kelelahan, ini pembebasan. Kamu tidak harus sempurna untuk boleh tenang.

Kedamaian batin adalah pemberian, bukan pencapaian. Ia tidak datang karena situasinya sudah ideal. Ia datang karena kamu mau membuka diri untuk menerimanya, bahkan di kos berukuran tiga kali empat meter sekalipun.


Apa yang Bisa Diambil dari Perayaan yang Sederhana Ini?

Merayakan hari besar di rantau tidak harus meriah. Yang penting, maknanya tidak hilang.

Pare dengan segala dinamikanya, justru mengajarkan bahwa spiritualitas bisa tumbuh di luar zona nyaman. Pelajar-pelajar di sini terbiasa hidup berdampingan lintas agama dan budaya, saling menghormati, saling menunggu, saling menjaga.

Pendekatan yang serupa dengan semangat eduspiritual yang mulai banyak disadari pelajar Pare sebagai cara bertahan di tengah tekanan hidup merantau.


Gereja di Pare Kediri tempat ibadah pelajar Kristen rantau
Gereja di Pare Kediri tempat ibadah pelajar Kristen rantau

Kenaikan bukan tentang apa yang kamu tinggalkan di rumah. Ia tentang siapa yang kamu bawa bersamamu ke mana pun kamu pergi.

Merayakan Kenaikan Isa Almasih di Pare bisa dilakukan dengan penuh makna melalui ibadah di gereja setempat, komunitas pemuda yang aktif, dan praktik doa batin yang tidak bergantung pada kondisi sempurna. Hari raya di perantauan bukan tentang kemeriahan, tapi tentang kedalaman.


FAQ

1. Di mana tempat ibadah Kristen di sekitar Kampung Inggris Pare?

Ada dua pilihan utama: Gereja Santo Mateus Pare yang terdaftar dalam jadwal misa Keuskupan Surabaya, dan GBI Pare yang aktif mengadakan kebaktian rutin termasuk peringatan hari-hari besar. Komunitas Global Glory Christian (GGC) juga aktif sebagai persekutuan pemuda Kristen khusus di kawasan Kampung Inggris.

2. Bagaimana cara mengatasi kesepian saat hari raya di perantauan?

Kombinasikan tiga hal: ibadah bersama komunitas (bukan sendirian di kamar), video call terjadwal dengan keluarga, dan aktivitas sosial ringan bersama teman rantau yang juga tidak pulang. Penelitian menunjukkan bahwa kesepian terasa paling berat saat seseorang mengisolasi diri, bukan saat lingkungannya sepi.

3. Apakah wajar merasa sedih saat hari raya di rantau?

Sangat wajar. Riset dari PAIS UNDA (2024) mengkonfirmasi bahwa perasaan hampa dan isolasi saat momen hari besar adalah respons emosional yang normal bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga. Yang perlu diwaspadai adalah jika perasaan ini berlangsung terus-menerus tanpa ada upaya untuk mengatasinya.

4. Apa makna Kenaikan Isa Almasih yang relevan untuk pelajar rantau?

Kenaikan mengajarkan tentang pengutusan dan persiapan. Sama seperti para murid yang diperintahkan untuk "menanti dan diperlengkapi" sebelum bergerak, pelajar rantau di Pare juga sedang dalam proses persiapan. Perayaan ini bisa menjadi pengingat bahwa keberadaan di tanah rantau bukan kebetulan, melainkan bagian dari perjalanan yang bermakna.


Referensi Tulisan: 01. Global Glory Christian. (2019). Home | Global Glory Christian (Persekutuan Pemuda Kampung Inggris Pare).
02. RRI.co.id. (2024). Mengenang Kenaikan Yesus Kristus dan Kasih-Nya kepada Manusia (Liputan GBI Pare). Diakses dari rri.co.id.
03. Boli, R., dkk. (2024). Perspektif Kesepian Pada Mahasiswa Yang Tinggal Jauh Dari Keluarga (Mahasiswa Rantau). PAIS UNDA: Parade Ilmiah Psikologi UNTAG Samarinda, Vol. 2, No. 1.

Penulis Artikel: Rachel Wijayani (cel)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *