Salah Paham Bahasa Daerah Saat PDKT di Camp Pare
Miskomunikasi bahasa daerah saat PDKT di Camp Pare terjadi karena banyak kata Sunda dan Jawa punya bunyi mirip tapi arti berlawanan, dari "amis" yang bisa jadi pujian atau hinaan.
Bayangkan:
kamu baru seminggu di Pare, sedang PDKT sama seseorang, dan dengan penuh
semangat bilang bahwa masakan di warung langgananmu "amis banget."
Bagi kamu orang Sunda, itu pujian. Bagi gebetanmu orang Jawa, kamu baru saja
bilang makanannya bau ikan.
Selamat
datang di side quest tersembunyi Kampung Inggris Pare.
Apa Kata Bahasa Daerah
yang Paling Sering Bikin Salah Paham di Pare?
Berikut
jebakan kosakata yang paling sering memicu momen canggung atau bahkan konflik
kecil antar pelajar dari Sunda dan Jawa:
- Gedang: Pepaya (Sunda) vs Pisang
(Jawa). Minta dibeliin pepaya, yang datang pisang.
- Atos: Sudah selesai (Sunda) vs
Keras (Jawa). "Atos, Kang" dari gebetan Sunda tidak berarti dia
baru makan sesuatu yang keras.
- Amis: Manis (Sunda) vs Bau anyir
seperti ikan (Jawa). Ini yang paling rawan bikin tersinggung.
- Cokot: Ambil (Sunda) vs Gigit
(Jawa). Kalau orang Sunda bilang "cokot dulu" maksudnya ambil,
bukan minta digigit.
- Sampean: Panggilan sopan untuk kamu
(Jawa) vs Kaki (Sunda). Orang Jawa manggil dengan sopan, orang Sunda malah
mikir kenapa diajak ngobrol soal kaki.
- Sangu: Uang saku/bekal (Jawa) vs
Nasi (Sunda). Bisa bikin bingung waktu traktir makan.
- Angel: Lama (Sunda) vs Susah/sulit
(Jawa). Kesalahpahaman ringan tapi tetap lucu.
Rani
Sundari, yang punya pengalaman berpacaran beda suku Sunda-Jawa, bilang bahwa
miskomunikasi semacam ini justru bisa menciptakan istilah-istilah lucu baru
yang malah memperkuat kedekatan. Jadi bukan selalu bencana, tapi bisa jadi
cerita yang ditertawakan bersama bertahun-tahun kemudian.
Apa Kosakata Lokal Kediri
yang Perlu Diketahui Pelajar Baru?
Selain
jebakan Sunda-Jawa, ada kosakata khas Kediri (Plat AG) yang bisa bikin pelajar
perantau plonga-plongo, terutama kalau gebetan kamu mulai tertular bahasa
lokal:
- Peh: Kata seru serbaguna, bisa
berarti "waduh", kagum, atau kesal. Konteks menentukan
segalanya.
- Ujug-ujug: Tiba-tiba, tanpa peringatan.
Seperti perasaan yang datang ujug-ujug di Pare.
- Solu-solu: Singkatan dari "sok
malu", biasanya untuk menggambarkan orang yang pura-pura malu tapi
sebenarnya mau.
- Koyah: Ngobrol atau
berbincang-bincang santai.
- Baturono: Ajakan untuk menemani pergi
ke suatu tempat.
Kalau
tiba-tiba gebetanmu ngajak "koyah" sambil bilang
"baturono", itu bukan mantra. Dia cuma mau ngajak kamu ngobrol sambil
temani dia ke suatu tempat.
Kenapa Miskomunikasi
Justru Bisa Jadi Perekat Hubungan?
Peneliti
komunikasi Marwa Ulfa dkk. mencatat bahwa interaksi sosial di Pare menciptakan
apa yang disebut sebagai "pengkoordinasian makna yang unik." Dalam
konteks sederhana: orang-orang dari latar belakang berbeda harus aktif
bernegosiasi untuk saling dipahami.
Proses
negosiasi itulah yang tanpa disadari membangun kedekatan. Saat kamu mau repot
menjelaskan bahwa "cokot" di bahasa kamu artinya "ambil"
bukan "gigit", dan gebetanmu mau sabar mendengarkan, itu sudah
setengah jalan menuju koneksi yang lebih dalam.
ISN,
pelajar yang pernah kursus di Pare, menambahkan bahwa intensitas interaksi di
camp inilah yang membuat fenomena culture shock pacaran Pare begitu
kuat. Semua orang dipaksa berinteraksi dalam ruang kecil yang sama, dengan
bahasa yang berbeda, dan tekanan belajar yang sama.
![]() |
| Dua pelajar menulis kosakata bersama di buku catatan Pare Kediri |
Kenapa Miskomunikasi di
Pare Lebih Sering Terjadi Dibanding di Kota Lain?
Pare adalah
titik temu yang sangat padat. Dalam satu camp bisa ada pelajar dari Sulawesi,
Kalimantan, Sumatra, dan berbagai provinsi di Jawa, semua dengan kosakata dan
intonasi berbeda.
FA, pelajar
perantau yang pernah tinggal di Pare, menceritakan bahwa fenomena ini
diperparah oleh durasi "Cinta satu periode" yang hanya 2 minggu.
Tidak ada waktu untuk benar-benar mengenal latar belakang budaya seseorang
secara mendalam. Semua interaksi berjalan cepat, termasuk miskomunikasinya.
Berbeda
kalau tinggal di kota yang sama selama bertahun-tahun, di mana kamu punya waktu
untuk belajar kosakata daerah pasangan secara perlahan. Di Pare, semuanya
terkompresi dalam hitungan minggu.
Kalau kamu
mau tahu lebih dalam soal dinamika percintaan di balik culture shock ini,
artikelnya sudah ada di culture shock pacaran Pare yang membahas
fenomena ini dari sisi yang lebih luas.
Miskomunikasi
bahasa daerah di Pare bukan hambatan, tapi fitur. Ia memaksa dua orang dari
latar belakang berbeda untuk duduk, menjelaskan, dan menertawakan
kesalahpahaman bersama.
Kalau kamu
tahu jebakan-jebakan kosakata ini sebelum berangkat, setidaknya kamu tidak akan
salah bilang "amis" di waktu yang salah.
DAFTAR
SUMBER
- Jurnal AL-AZHAR Indonesia. "Pemaknaan Sosial 'Pare
Jahat' di Kalangan Pelajar Perantau di Kampung Inggris." 2025.
- Terminal Mojok. "Kosakata Khas Orang
Kediri yang Bisa Bikin Kalian Plonga-plongo." 2021.
- Brilio.net. "Ini 29 kata di Indonesia
yang sama pengucapan tapi ternyata beda arti." 2015.


