Culture Shock Pacaran di Pare yang Bikin Geleng Kepala
Di Kampung Inggris Pare, "Cinta Periode" adalah hubungan asmara singkat yang tumbuh intens selama kursus dan berakhir tepat saat masa belajar selesai, dipicu perbedaan budaya dari seluruh Indonesia.
Kalau kamu
pernah dengar istilah "Pare Jahat" dan langsung membayangkan
premanisme atau kriminalitas, kamu salah tempat. Pare Jahat itu bukan soal kota
yang kejam. Ini soal perasaan yang tidak pernah minta izin dulu sebelum datang,
dan pergi tanpa pamit proper.
Setiap
tahun, ribuan pelajar dari Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, NTB, dan tentu saja
Jawa, berdesakan di gang-gang sempit Kampung Inggris. Mereka datang bawa koper,
kamus, dan kadang tanpa sadar membawa hati yang siap diobrak-abrik.
Apa Itu "Cinta
Periode" dan Kenapa Bisa Terjadi?
"Cinta
Periode" adalah hubungan asmara yang sejak awal sudah punya tanggal
kedaluwarsa, mengikuti durasi kursus yang berlangsung dari 2 minggu hingga
maksimal 6 bulan.
Penyebabnya
bukan sihir. Tinggal di asrama yang sama, ketemu setiap hari dalam tekanan
belajar yang sama, plus budaya "cie-cie" dari teman sekelas,
menciptakan intensitas sosial yang jarang ada di tempat lain.
Teori
perkembangan Erik Erikson menjelaskan ini dengan cukup masuk akal: individu
usia 18-25 tahun sedang berada di fase Intimacy versus Isolation, di
mana dorongan mencari kedekatan emosional memang sedang di puncaknya.
Di
lingkungan baru yang jauh dari rumah, Pare jadi tempat paling logis untuk
mencari keintiman itu. M. Sulkafly, seorang pelajar yang pernah kursus di sana,
menceritakan pengalamannya menjalin Cinta Periode dengan perempuan asal Bima,
NTB, yang ia sebut "Belimbing".
Yang
menarik: motivasi belajar speakingnya melonjak drastis bukan karena takut
ujian, tapi karena ingin bisa ngobrol lancar dengan si Belimbing. Belajar jadi
lebih punya makna, setidaknya sementara.
Kenapa Culture Shock
Justru Datang dari Percintaan, Bukan Pelajarannya?
Pare adalah
titik temu pelajar dari seluruh Indonesia, dan itu artinya satu camp bisa jadi
miniatur Indonesia yang sesungguhnya.
Beberapa
gesekan budaya yang paling sering terjadi:
- Intonasi dan cara bicara: Mahasiswa dari luar Jawa
sering salah baca "nada" percakapan orang Jawa. Intonasi yang
terdengar datar belum tentu dingin.
- Bahasa daerah yang bocor ke
obrolan:
Kosakata Jawa tiba-tiba muncul di tengah percakapan bahasa Indonesia,
bikin yang bukan orang Jawa garuk-garuk kepala.
- Primordialisme halus: Ada kecenderungan alami untuk
nongkrong sama orang satu daerah. Nyaman, tapi tanpa disadari mempersempit
jangkauan pergaulan.
Ghina
Rahmatika, seorang penulis jurnal yang pernah kursus di Pare, mencatat
pengalaman menarik. Di kursusan tempatnya belajar, pelajar dari Sulawesi
Selatan mendominasi hingga 60% peserta.
Dari situ
ia baru tahu soal "Uang Panaik" dan adat "Rambu Solo"
sebagai bagian dari budaya Bugis-Makassar, yang bagi orang dari luar Sulawesi
terdengar seperti planet lain.
Miskomunikasi
dari beda bahasa daerah inilah yang sering jadi bumbu paling absurd dalam
proses PDKT di camp. Soal detail lucunya, ada pembahasan tersendiri di artikel
tentang miskomunikasi bahasa daerah saat PDKT di camp yang lebih
lengkap.
Dari Mana Datangnya Stigma
"Pare Jahat"?
"Pare
Jahat" bukan penilaian soal kriminalitas. Ini adalah luapan emosi atas
perpisahan yang terlalu mendadak setelah keintiman yang terlalu singkat.
Peneliti
dari Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Ilmu Sosial (2025) mengonfirmasi bahwa
stigma ini muncul sebagai respons emosional kolektif: Pare memang memberikan
kenyamanan luar biasa dalam waktu singkat, lalu "memaksa" semua orang
balik ke realitas masing-masing.
Yang bikin
semakin pelik? Ada yang datang ke Pare dengan status sudah punya pasangan di
kota asal, tapi karena jauh dan kesepian, akhirnya cinlok di sana. Saat kursus
selesai dan harus pulang, mereka meninggalkan pasangan baru di Pare begitu
saja.
Kalau kamu
penasaran seberapa absurd alasan-alasan putus yang terjadi tepat setelah masa
kursus berakhir, cerita-cerita itu sudah punya halamannya sendiri di artikel alasan
putus paling absurd begitu kursus selesai.
Apakah Semua Cinta di Pare
Pasti Berakhir Tragis?
Tidak.
Meskipun stigma "Pare Jahat" sangat kuat, banyak pasangan yang justru
menemukan jodoh sejatinya di sini.
Mr. Frandy,
Kepala Marketing salah satu lembaga kursus di Pare, adalah bukti nyata.
Hubungannya yang bermula dari LDR Kediri-Kuningan justru berlabuh ke
pernikahan. Jaraknya jauh, tapi niatnya tidak kemana-mana.
Bahkan di
luar cerita sukses pernikahan, banyak pelajar yang pulang dari Pare dengan
motivasi belajar yang jauh lebih tinggi berkat dinamika percintaan singkat itu.
Semacam efek samping positif yang tidak tercantum di brosur kursus manapun.
Bagaimana Cara Tidak
Terjebak Culture Shock yang Negatif di Pare?
Beberapa
hal yang bisa membantu penyesuaian sosial di Pare:
- Jangan hanya bergaul dengan
sesama daerah.
Primordialisme itu nyaman, tapi mempersempit pengalaman. Pare justru
berharga karena keberagamannya.
- Belajari konteks budaya orang
yang kamu dekati.
Kalau tertarik dengan seseorang dari Sulawesi, bukan berarti kamu harus
hafal semua adat Bugis, tapi setidaknya tahu bahwa ada perbedaan yang
perlu dihormati.
- Jujur soal status dari awal. Ini yang paling sederhana tapi
paling sering diabaikan.
- Siapkan ekspektasi yang
realistis. Boncengan
sepeda onthel di bawah matahari Pare itu tidak seromantis di TikTok. Soal
ini ada pembahasannya sendiri di artikel tentang ekspektasi vs realita
boncengan sepeda onthel di Pare.
Kalau kamu
memang serius ingin merasakan pengalaman Pare secara penuh, baik belajarnya
maupun dinamika sosialnya, ada baiknya lihat dulu pilihan program dan paket yang
tersedia supaya kamu bisa pilih durasi yang paling sesuai dengan tujuanmu.
![]() |
| Boncengan sepeda onthel pelajar di jalan kampung Pare Kediri |
Apa Itu "Cinta
Periode" di Kampung Inggris Pare?
Cinta
Periode adalah istilah untuk hubungan asmara yang durasinya mengikuti durasi
kursus, mulai dari 2 minggu sampai beberapa bulan. Hubungan ini tumbuh sangat
cepat karena intensitas interaksi di camp, dan berakhir tepat saat masa belajar
selesai.
Bedanya
dengan LDR biasa: dari awal, kedua pihak sudah sadar atau setidaknya mencium
bahwa hubungan ini punya batas waktu. Itu yang bikin "Cinta Periode"
unik sekaligus menyedihkan dengan caranya sendiri.
Pare bukan
sekadar kursus bahasa Inggris. Ia adalah laboratorium sosial mini yang
mempertemukan ratusan orang dari latar belakang budaya berbeda dalam waktu yang
sangat singkat.
"Cinta
Periode" dan stigma "Pare Jahat" bukan produk dari kotanya, tapi
dari intensitas pengalaman manusia yang terkompresi di sana. Apakah berakhir
tragis atau berlanjut ke pernikahan, yang pasti: Pare meninggalkan bekas yang
tidak mudah dihapus.
DAFTAR
SUMBER
- Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri
Ilmu Sosial.
"Pemaknaan Sosial 'Pare Jahat' di Kalangan Pelajar Perantau di
Kampung Inggris." Vol. 06, No. 02, Juni 2025.
- Kompasiana. "Cinta periode di Kampung
Inggris Pare, Kediri Jawa Timur." Oleh M. Sulkafly.
- Mojok.co. "Kampung Inggris dan
Stigma Pare Jahat yang Disematkan Padanya." Oleh Himas Akbar Kusuma.


