Alasan Putus Paling Absurd Begitu Kursus di Pare Selesai
Alasan putus paling umum setelah lulus kursus di Pare adalah Cinta Periode yang memang punya tanggal kedaluwarsa, LDR-phobia karena jarak antar pulau, dan status palsu yang terungkap saat semua orang harus pulang.
Ada satu
momen yang sangat khas di hari terakhir setiap periode kursus di Pare: suasana
perpisahan yang campuran antara lega karena selesai ujian, dan sedih karena
harus berpisah dari seseorang yang dua minggu lalu baru kenal tapi rasanya
sudah seperti tahu seumur hidup.
Lalu
keesokan harinya, semuanya balik ke titik nol.
Kenapa Banyak Hubungan di
Pare Berakhir Tepat Saat Kursus Selesai?
Karena dari
awal, hubungan itu memang punya tanggal kedaluwarsa.
Andi
Firmansyah, S.S., ahli di bidang Translation dan English for Specific Purposes,
menjelaskan bahwa fenomena #PareJahat muncul bukan karena Pare memang jahat,
tapi karena Pare memberikan kenyamanan luar biasa dalam waktu singkat dan
kemudian memaksa semua orang kembali ke realitas masing-masing.
Perpindahan
mendadak dari intensitas tinggi ke jarak yang jauh itulah yang memicu rasa
sakit hati yang kuat. Ini bukan masalah komitmen atau kurang serius. Ini soal
struktur situasinya yang memang didesain tidak permanen.
Apa Saja Alasan Putus
Paling Absurd yang Terjadi Setelah Kursus?
Beberapa
pola yang paling sering muncul:
- Cinta Periode kedaluwarsa: Hubungan yang sejak awal
sudah "diniatkan" selesai saat sertifikat keluar. Begitu
sertifikat dicetak, status hubungan pun ikut "lulus".
- LDR-Phobia: Pelajar datang dari Sabang
sampai Merauke. Jarak antar pulau yang terlalu jauh membuat banyak orang
memilih melepaskan daripada harus urus tiket pesawat setiap kangen.
- Status palsu: Ini yang paling menyakitkan.
Seseorang mengaku jomblo selama di Pare, tapi ternyata sudah punya
pasangan di kampung halaman. Saat kursus selesai, kebenaran itu tidak bisa
disembunyikan lagi.
- Mitos kutukan Pare: Ada yang genuinely percaya
bahwa cinta di Kampung Inggris memang sudah dikutuk untuk berakhir. Jadi
daripada melawan takdir, lebih baik putus duluan.
- Study partner rasa pacar: Beberapa orang memandang
hubungan asmara sebagai motivasi belajar. Begitu kemampuan bahasa
Inggrisnya sudah meningkat dan speaking sudah lancar, "fungsi"
pasangannya dianggap selesai.
M. Sulkafly
menceritakan pengalamannya sendiri: empat bulan bersama "Belimbing"
dari Bima, diisi dengan makan es krim dan belajar TOEFL bersama, tetap harus
berakhir dengan raut wajah sedih di hari terakhir. Tidak ada yang jahat. Hanya
memang begitulah strukturnya.
Baca Juga: Salah Paham Bahasa Daerah Saat PDKT di Camp Pare
Apakah Semua Hubungan dari
Pare Pasti Berakhir Putus?
Tidak, dan
ini penting untuk digarisbawahi.
Mr. Frandy,
Kepala Marketing salah satu lembaga kursus di Pare, membuktikan hal sebaliknya.
Hubungan LDR Kediri-Kuningan yang dimulai di Pare justru berlanjut ke
pernikahan. Jaraknya tidak main-main, tapi niatnya lebih kuat dari jaraknya.
Lebih dari
itu, banyak pasangan yang tidak berhasil melanjutkan hubungan tetap membawa
dampak positif dari Pare. Motivasi belajar yang melonjak karena seseorang,
kemampuan bahasa yang meningkat, kenalan dari berbagai daerah yang kadang masih
keep in touch sampai bertahun-tahun kemudian.
Pare
meninggalkan bekas dalam banyak bentuk, tidak selalu berupa putus yang
menyakitkan.
Bagaimana Cara Tidak
Terjebak dalam "Cinta Periode" yang Menyakitkan?
Beberapa
hal yang realistis untuk dilakukan:
- Jujur dari awal soal ekspektasi
dan status.
Tidak ada gunanya membangun sesuatu di atas fondasi yang tidak jujur.
- Tetapkan tujuan utama ke Pare. Kalau datang untuk belajar,
jadikan belajar sebagai fokus utama. Hubungan yang tumbuh dari situ bisa
jadi bonus, bukan target.
- Diskusikan kemungkinan jarak
sejak awal.
Kalau sudah ada ketertarikan, lebih baik bicarakan sejak awal soal mau ke
mana hubungan ini setelah kursus selesai.
- Jangan terburu-buru label. Dua minggu di Pare terasa
intensif, tapi itu belum cukup untuk mengenal seseorang seutuhnya.
Ini semua juga bagian dari culture shock yang lebih besar dalam dinamika percintaan di Kampung Inggris. Kalau kamu sedang mempertimbangkan untuk kursus di Pare dan ingin tahu berapa lama waktu yang tepat agar bisa belajar maksimal tanpa terlalu singkat atau terlalu lama, pilihan program dan paket bisa jadi titik awal yang baik.
Apakah "Mitos Kutukan
Pare" Itu Nyata?
Secara
literal: tidak ada kutukan. Tapi secara sosial: ada pola yang sangat konsisten.
Yang
disebut kutukan sebenarnya adalah kombinasi dari tiga hal nyata: intensitas
interaksi yang sangat tinggi dalam waktu singkat, perbedaan latar belakang
geografis yang ekstrem, dan tidak adanya rencana ke depan yang jelas sejak awal
hubungan dimulai.
Tiga faktor
itu bersama-sama menghasilkan pola perpisahan yang begitu umum sampai terasa
seperti takdir. Jadi bukan kutukan, tapi pola yang bisa dipahami dan, sampai
batas tertentu, bisa diantisipasi.
Putus
setelah kursus di Pare bukan fenomena aneh atau tanda kegagalan. Ini produk
logis dari lingkungan yang sangat unik: intensitas tinggi, durasi pendek, dan
jarak yang menunggu di ujung.
Yang
penting adalah masuk ke Pare dengan ekspektasi yang jujur dan keluar dari Pare
dengan pelajaran yang nyata, baik soal bahasa Inggris maupun soal diri sendiri.
DAFTAR
SUMBER
- Jurnal Al Azhar Indonesia Seri
Ilmu Sosial.
"Pemaknaan Sosial 'Pare Jahat' di Kalangan Pelajar Perantau di
Kampung Inggris." Vol. 06, No. 02, Juni 2025.
- Kompasiana. "Cerita Kutukan di
Kampung Inggris Pare Kediri Fakta Atau Mitos."
- Mojok.co. "Kampung Inggris dan
Stigma Pare Jahat yang Disematkan Padanya."

