Psikologi Kompetisi, Ambis Tanpa Harus Menjatuhkan Teman

mahasiswi menulis jurnal pencapaian, strategi ambisi sehat dalam belajar

Kompetisi dalam belajar sehat jika diarahkan ke dalam (melawan diri sendiri) dan merusak jika diarahkan ke luar (menjatuhkan orang lain).

Tiga tipe kompetitif Ryckman, bahaya crab mentality, dan strategi berbasis kecerdasan emosional menjadi kerangka yang bisa langsung diterapkan untuk tetap ambis tanpa mengorbankan hubungan sosial.

Pernah nggak, kamu senang diam-diam saat nilai teman yang biasanya di atas kamu tiba-tiba turun? Atau merasa sedikit lega saat presentasi dia kurang lancar? Kalau pernah, jangan panik. Kamu bukan orang jahat. Kamu cuma sedang dalam kondisi kompetisi yang tidak dikelola dengan baik.

Psikolog Richard M. Ryckman mengidentifikasi tiga pola perilaku kompetitif yang hampir semua orang pernah jatuh ke salah satunya.

 

Kamu Masuk Tipe Kompetisi yang Mana?

Tiga tipe ini bukan label permanen, tapi lebih seperti cermin:

  • Hypercompetitive: Menang adalah segalanya. Tipe ini rela mengorbankan kejujuran atau bahkan persahabatan demi mengalahkan orang lain. Sering kali nggak sadar bahwa caranya sudah merugikan orang lain.
  • Avoidance Competitive: Memilih mundur bukan karena nggak mau, tapi karena takut gagal atau dinilai buruk. Kompetisi dihindari sebagai mekanisme perlindungan diri.
  • Personal Development Competitive: Fokus mengalahkan "versi diri kemarin." Ini yang paling sehat karena orang lain bukan ancaman, melainkan cermin untuk mengukur seberapa jauh kamu sudah maju.

Kebanyakan orang pernah ada di posisi pertama atau kedua, terutama saat tekanan akademik sedang tinggi. Yang membedakan adalah kesadaran dan kemampuan bergeser ke tipe ketiga.

 

Apa Itu Crab Mentality dan Kenapa Ini Lebih Berbahaya dari Nilai Jelek?

Crab mentality adalah kondisi di mana seseorang tidak bisa menerima keberhasilan orang lain, dan secara aktif atau pasif berusaha menarik mereka ke bawah. Seperti kepiting dalam ember: satu yang hampir keluar langsung ditarik kembali oleh yang lain.

Dalam konteks belajar, ini bisa muncul dalam bentuk yang halus:

  • Menyebut kesuksesan teman sebagai "keberuntungan semata"
  • Meremehkan usaha orang lain di depan kelompok
  • Tidak mau berbagi catatan atau informasi penting

Penyebabnya bukan karena orangnya jahat secara bawaan. Penelitian menunjukkan ini berakar dari rendahnya rasa percaya diri dan respons alami otak yang melepaskan kortisol saat seseorang merasa "kalah" posisi dari orang lain. Hormon stres ini yang mendorong perilaku defensif dan protektif secara berlebihan.

 

Ambisi Sehat vs. Ambisi yang Sudah Kelewatan

Ambisi itu baik. Ambisi yang tidak dikelola adalah masalah berbeda.

Ambisi yang sehat mendorong pertumbuhan pribadi, meningkatkan fokus, dan membangun ketahanan mental. Sementara ambisi yang berlebihan bisa menyebabkan burnout, kecemasan kronis, dan merusak hubungan interpersonal karena terlalu terobsesi pada hasil akhir.

Satu cara praktis untuk tetap di jalur yang benar adalah framework SMART:

  • Specific: Apa yang ingin dicapai dengan jelas?
  • Measurable: Bagaimana mengukur kemajuannya?
  • Achievable: Apakah realistis dengan kapasitas yang ada?
  • Relevant: Apakah relevan dengan tujuan jangka panjang?
  • Time-bound: Kapan target tersebut ingin dicapai?

Ini bukan soal menurunkan standar. Ini soal memberi batas yang jelas agar ambisi tidak berubah jadi tekanan yang menghancurkan.

 

Apakah Kompetisi Bisa Jalan Bareng dengan Kolaborasi?

Bisa, dan justru kombinasi keduanya yang menghasilkan hasil terbaik. Aghnia dari UNESA mengulas bahwa pergeseran dari kompetisi menuju kolaborasi membuat pembelajaran lebih manusiawi karena keberhasilan dilihat sebagai hasil bersama, bukan milik satu orang.

Najamudin Pettasolong dari IAIN Sultan Amai Gorontalo menyebutkan empat pilar untuk membangun mentalitas kompetisi yang positif: kerja keras, kooperasi, positive mindset, dan sportifitas. Keempat pilar ini nggak bisa dipisah. Kompetisi yang sehat hanya bisa terjadi kalau keempat-empatnya hadir.

Artinya, kamu bisa tetap ambis dan tetap jadi teman yang baik dalam waktu yang bersamaan. Keduanya bukan pilihan yang saling meniadakan.

Baca Juga: Begini Suasana Kampung Inggris Pare, Seru, Debu, dan Sepeda

Bagaimana Cara Mengelola Kompetisi Agar Tidak Merusak Pertemanan?

Ada beberapa pendekatan yang bisa langsung diterapkan:

  • Gunakan konflik konstruktif: Ubah persaingan menjadi debat ide yang sehat. Beradu argumen tentang metode belajar lebih produktif daripada beradu nilai rapor.
  • Latih kecerdasan emosional: Daniel Goleman menegaskan bahwa kecerdasan emosional (KE) memiliki peran yang bahkan lebih penting dari IQ dalam menentukan kesuksesan di lingkungan akademik dan sosial.
  • Rayakan progress, bukan hanya hasil: Fokus pada seberapa jauh kamu sudah maju, bukan hanya pada siapa yang paling tinggi nilainya hari ini.
  • Stop membandingkan secara terus-menerus: Perbandingan sesekali bisa jadi bahan bakar. Perbandingan obsesif adalah racun.

Omong-omong, kalau kamu sedang berjuang dengan tekanan akademik dan kompetisi yang terasa terlalu berat, salah satu cara paling efektif adalah mengubah lingkungan belajar. Di Kampung Inggris Pare, konsep belajar yang dikembangkan justru memadukan kompetisi sehat dengan kolaborasi intens antarsiswa dari berbagai daerah, yang secara psikologis jauh lebih kondusif untuk tumbuh.

 

Apa yang Dimaksud dengan Kompetisi Positif dalam Belajar?

Kompetisi positif adalah ketika kamu terdorong untuk lebih baik karena melihat orang lain berkembang, bukan karena ingin mengalahkan mereka. Prof. Dr. Jimmy Ellya Kurniawan dari Fakultas Psikologi Universitas Ciputra merumuskannya dengan sederhana: kemenangan paling berarti adalah ketika kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, bukan sekadar membuktikan siapa yang lebih hebat.

David McClelland, peneliti motivasi berprestasi, membuktikan melalui risetnya bahwa masyarakat yang mendapat rangsangan dan pelatihan untuk berprestasi akan menunjukkan hasil yang jauh lebih baik. Artinya, need of achievement itu bisa dilatih dan dikembangkan, bukan sesuatu yang kamu punya atau tidak.

Implikasi praktisnya: lingkungan yang mendukung, bukan yang menekan, adalah kunci untuk membuat kompetisi berjalan sehat.


dua mahasiswa berjabat tangan setelah presentasi, sportifitas dalam kompetisi
dua mahasiswa berjabat tangan setelah presentasi, sportifitas dalam kompetisi

Kompetisi bukan masalah. Yang bermasalah adalah cara kita mendefinisikan "menang." Kalau menang berarti orang lain harus kalah, kamu sedang bermain game yang salah. Tapi kalau menang berarti kamu hari ini lebih baik dari kamu kemarin, itu adalah permainan yang bisa berlangsung seumur hidup tanpa harus mengorbankan siapa pun.

Dan kalau kamu penasaran kenapa bahkan orang yang sudah jelas-jelas kompeten pun masih sering merasa "tidak cukup", itu ada penjelasan psikologisnya sendiri yang cukup mengejutkan. Fenomena itu disebut imposter syndrome dikelas advanced, dan lebih umum dari yang kamu kira.

 

DAFTAR SUMBER

  1. Pettasolong, N. (2017). Implementasi Budaya Kompetisi Melalui Pemberian Reward and Punishment dalam Pembelajaran. TADBIR: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 5(2).
  2. Kurniawan, J. E. (2021). Persaingan yang Sehat. Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya.
  3. Utami, L. S. (2024). Kecerdasan emosional: Kunci sukses dalam akademik dan kehidupan sosial. Maliki Interdisciplinary Journal (MIJ), 2(6), 110-118.
Penulis: Rachel Wijayani (cel)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *