Imposter Syndrome Kelas Advanced, Kenapa Si Pro Pun Masih Ragu?

siswi Indonesia cemas di kelas, ilustrasi imposter syndrome kelas advanced

Imposter syndrome bukan tanda kamu tidak kompeten, melainkan tanda kamu punya standar tinggi yang belum dikelola dengan baik.

Mengenali tipe-nya adalah langkah pertama, lalu pendekatan CBT atau ACT bisa menjadi jalan keluar yang berbasis bukti. Yang terpenting: sumber masalahnya internal, maka solusinya pun harus dimulai dari dalam.

Angkanya cukup mengejutkan: antara 9% hingga 82% orang di seluruh dunia pernah mengalaminya. Di kalangan manajer baru, prevalensinya diperkirakan mencapai 25-50%. Artinya, hampir satu dari dua orang yang baru naik jabatan diam-diam merasa mereka tidak layak berada di posisi itu.

Dan paradoksnya, semakin tinggi standar seseorang, semakin sering sindrom ini datang berkunjung.

 

Kenapa Justru yang Paling Kompeten yang Paling Sering Kena?

Karena standar internal mereka lebih tinggi dari rata-rata. Orang dengan imposter syndrome yang parah bukan orang yang tidak kompeten, melainkan orang yang sangat kompeten dengan ekspektasi terhadap diri sendiri yang jauh melampaui apa yang sudah mereka capai.

Lingkungan yang kompetitif memperparah ini. Ketika semua orang di sekitarmu terlihat tahu segalanya dan tampak percaya diri, otak kamu otomatis menyimpulkan bahwa hanya kamu yang paling tidak tahu apa-apa.

 

Apa Saja Tipe Imposter Syndrome yang Perlu Dikenali?

Ada lima pola yang sudah diidentifikasi, dan hampir semua orang masuk ke salah satunya:

  • The Perfectionist: Merasa gagal total jika ada kesalahan sekecil apa pun. Satu nilai B di antara semua A terasa seperti bencana.
  • The Expert: Merasa sebagai penipu jika tidak mengetahui segala hal di bidangnya. Satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab terasa seperti pengungkapan "siapa dia sebenarnya."
  • The Natural Genius: Merasa seharusnya bisa menguasai sesuatu dengan cepat tanpa usaha keras. Kalau harus belajar berulang kali, berarti "dia memang tidak berbakat."
  • The Soloist: Merasa pencapaiannya tidak sah kalau butuh bantuan orang lain. Meminta tolong dianggap sebagai bukti ketidakmampuan.
  • The Superperson: Merasa harus menjadi yang terbaik di semua peran sekaligus, baik di pekerjaan, keluarga, maupun pergaulan sosial.

Kalau salah satu dari ini terasa familiar, kamu tidak sendirian. Maya Angelou, setelah menulis 11 buku dan memenangkan 5 Grammy, masih berkata bahwa ia sering berpikir "mereka akan mengetahuinya sekarang" tentang dirinya.

Baca Juga: Kost Eksklusif Pare yang Nyaman, tapi Sepi Teman?

Apakah Imposter Syndrome Bisa Diatasi Tanpa Terapi?

Bisa, meski pendekatan berbasis terapi terbukti paling efektif untuk kasus yang lebih berat. Ada dua pendekatan yang punya dasar riset kuat:

Pendekatan CBT (Cognitive Behavioral Therapy): Fokusnya adalah mengidentifikasi dan menantang distorsi kognitif. Caranya bisa sesederhana menulis jurnal pencapaian, bukan sebagai ajang pamer, tapi sebagai dokumen objektif yang melawan narasi "itu semua cuma keberuntungan." Ketika pikiran negatif datang, kamu punya bukti tertulis untuk membantahnya.

Pendekatan ACT (Acceptance and Commitment Therapy): Daripada mencoba menghilangkan perasaan "nggak jago", ACT mengajarkan cara menerimanya tanpa membiarkannya mengendalikan keputusan. Perasaan itu boleh ada, tapi tindakanmu tetap berdasarkan nilai-nilai pribadi, bukan ketakutan. Ini yang disebut psychological flexibility.

Penelitian Ubaidillah dan Utami (2026) yang membandingkan kedua pendekatan ini di perguruan tinggi menyimpulkan keduanya efektif, dengan ACT cenderung lebih baik untuk individu yang kesulitan menerima ketidakpastian.

 

Bagaimana Cara Membuktikan Diri Tanpa Terjebak Siklus Validasi?

Ini pertanyaan yang lebih dalam, dan jawabannya tidak nyaman: kamu tidak bisa. Validasi eksternal tidak pernah cukup untuk mengobati imposter syndrome karena sumbernya ada di dalam.

Sheryl Sandberg mengaku dalam Lean In bahwa ia sering mempertanyakan kualifikasinya meski sudah menjabat sebagai COO salah satu perusahaan teknologi terbesar. Michelle Obama mengatasinya dengan cara yang lebih praktis: fokus pada nilai-nilai personal daripada menunggu pengakuan dari luar.

Artinya, strategi paling efektif bukan membuktikan diri lebih banyak, tapi menggeser ukuran keberhasilan dari "apa yang orang lain pikirkan" ke "apakah ini sejalan dengan nilai yang saya pegang."

Ikhsan Bella Persada, M.Psi. menyarankan langkah paling konkret: ceritakan perasaan ini kepada orang kepercayaan. Bukan untuk divalidasi, tapi untuk mendapatkan perspektif yang lebih objektif.

 

mahasiswa presentasi dengan ekspresi tidak yakin, gejala imposter syndrome

Satu catatan penting: imposter syndrome yang dibiarkan terlalu lama bisa bertumpang tindih dengan prokrastinasi akademik, karena ketakutan akan kegagalan akhirnya membuat seseorang menghindari tugas sama sekali.

Nah, kalau kamu merasa ini relevan dengan kondisimu saat belajar Bahasa Inggris atau mempersiapkan diri masuk kelas advanced, lingkungan belajar sangat berpengaruh. 

Di Kampung Inggris Pare, ada program yang dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan pelajar di level menengah ke atas dengan psikologi kompetisibelajar yang lebih sehat, kombinasi tekanan positif dan komunitas yang saling mendukung. Kamu bisa cek detail programnya.

 

DAFTAR SUMBER

  1. Ubaidillah, M., & Utami, R. T. (2026). Perbandingan Pendekatan CBT dan ACT dalam Mengatasi Impostor Syndrome di Perguruan Tinggi. Prosiding Seminar Nasional FKIP Universitas Lampung.
  2. Raina, Nandini. (2024). Psychological Strategies to Overcome Impostor Syndrome in Emerging Managers. International Journal for Multidisciplinary Research (IJFMR).
  3. Nuryani, K., & Juliawati, D. (2025). Dampak Imposter Syndrome pada Mahasiswa yang Mengalami Prokrastinasi Akademik dan Peran Pemulihan Psikologis Berbasis Spiritual. Prophetic: Professional, Empathy and Islamic Counseling Journal.

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *