Sopan Tapi Santai, Berkorespondensi dengan Editor Jurnal Internasional
Global English - Komunikasi dengan
editor jurnal adalah bagian dari proses publikasi yang sering diabaikan penulis
pemula, padahal cara berkorespondensi yang tepat dapat memengaruhi kesan profesionalitas penulis di mata editor.
Korespondensi ini
mencakup beberapa momen penting, mulai dari pengiriman naskah pertama kali,
tanggapan atas hasil review, hingga permintaan klarifikasi atau perpanjangan
waktu revisi.
Prinsip Dasar
Korespondensi Formal Akademik
Korespondensi
dengan editor jurnal sebaiknya selalu bersifat singkat, sopan, dan langsung
pada inti pesan. Editor jurnal internasional biasanya
menangani banyak naskah sekaligus, sehingga surat yang bertele-tele atau tidak
jelas maksudnya berisiko memperlambat proses atau meninggalkan kesan kurang
profesional.
Nada bahasa yang
digunakan sebaiknya formal namun tidak kaku berlebihan, menghindari bahasa yang
terlalu emosional meski penulis mungkin merasa kecewa terhadap suatu keputusan,
misalnya penolakan naskah.
Baca Juga: Bahasa Inggris untuk Importir, Panduan Anti Gagal
Menulis Cover Letter
saat Submisi Pertama
Sebagian besar
jurnal mensyaratkan cover letter yang menyertai naskah saat submisi pertama.
Cover letter yang
baik biasanya mencakup pernyataan singkat mengenai topik dan kontribusi utama
penelitian, pernyataan bahwa naskah belum pernah dipublikasikan atau sedang
dipertimbangkan di jurnal lain, serta kesesuaian topik naskah dengan ruang
lingkup (scope) jurnal tujuan.
Cover letter bukan
tempat untuk mengulang abstrak secara utuh, melainkan untuk meyakinkan editor
secara singkat mengapa naskah tersebut relevan dan layak dipertimbangkan untuk
jurnal yang bersangkutan.
Menanggapi Hasil Review
dan Permintaan Revisi
Ketika menerima
hasil review, penulis sebaiknya menanggapi setiap komentar reviewer secara
sistematis dan poin demi poin, biasanya dalam bentuk dokumen response letter
terpisah.
Setiap komentar
sebaiknya dijawab dengan jelas, baik penulis setuju dan telah melakukan revisi,
maupun tidak setuju dengan alasan yang didukung argumentasi ilmiah.
Nada dalam response
letter sebaiknya tetap menghargai masukan reviewer, meskipun penulis tidak
sepenuhnya sepakat dengan komentar yang diberikan. Respons yang defensif atau
terkesan meremehkan reviewer berisiko memengaruhi keputusan akhir editor secara
negatif.
Menyikapi Penolakan
Naskah secara Profesional
Penolakan naskah
adalah bagian normal dari proses publikasi ilmiah dan dialami hampir semua
peneliti, termasuk yang sudah berpengalaman.
Ketika naskah
ditolak, penulis sebaiknya membaca alasan penolakan dengan saksama sebelum
memutuskan langkah selanjutnya, baik merevisi dan mengirim ke jurnal lain,
maupun mengajukan banding (appeal) jika penulis meyakini terdapat kekeliruan
dalam proses review.
Mengirim balasan
yang menyalahkan reviewer atau editor secara langsung umumnya tidak produktif
dan dapat memengaruhi reputasi penulis, terutama jika penulis berencana
mengirim naskah lain ke jurnal yang sama di masa mendatang.
Meminta Klarifikasi
atau Perpanjangan Waktu
Jika penulis
membutuhkan klarifikasi terkait komentar reviewer yang kurang jelas, atau
memerlukan tambahan waktu untuk menyelesaikan revisi, permintaan tersebut
sebaiknya disampaikan secara langsung kepada editor dengan alasan yang wajar.
Sebagian besar
editor jurnal cukup terbuka terhadap permintaan semacam ini selama disampaikan
dengan sopan dan dalam jangka waktu yang wajar sebelum tenggat.
Baca Juga: Prompt AI Bahasa Inggris, Rahasia Hasil Presisi
Kesimpulan
Korespondensi
dengan editor jurnal ilmiah internasional menuntut nada bahasa yang formal,
singkat, dan profesional di setiap tahap, mulai dari cover letter awal hingga
tanggapan atas revisi atau penolakan.
Menanggapi komentar
reviewer secara sistematis dan tetap menghargai proses review, termasuk saat
naskah ditolak, mencerminkan etika akademik yang baik dan menjaga reputasi
penulis dalam komunitas ilmiah jangka panjang.
Penulis & Publikasi: Sholikhatun Nikmah (snn)

