Bahasa Inggris UI/UX, Rahasia Microcopy Aplikasi
Bahasa Inggris UI/UX adalah gaya bahasa teknis untuk menulis teks aplikasi (microcopy) yang mengutamakan kejelasan, empati, dan konteks pengguna, bukan sekadar tata bahasa baku ala buku pelajaran.
Saya sering
ketemu developer atau UI/UX designer pemula yang menerjemahkan mentah-mentah
kalimat Indonesia ke bahasa Inggris untuk tombol dan notifikasi aplikasinya.
Hasilnya? Kaku. Formal. Kadang malah bikin pengguna bingung sendiri.
Padahal
microcopy itu detail kecil yang menentukan apakah pengguna betah atau langsung
uninstall.
Kenapa Penulis Non-Native
Justru Unggul Menulis UI/UX?
Penulis
non-native justru punya keunggulan karena mereka pernah merasakan sendiri
bingungnya membaca instruksi bahasa Inggris yang rumit.
Ini bukan
asumsi sembarangan. Oleksii Tkachenko, seorang Content Designer,
menegaskan bahwa penulis native sering menulis secara autopilot dan tanpa sadar
membawa bias budaya. Bias ini sulit dipahami oleh mayoritas pengguna global
yang non-native.
Jadi kalau
kamu developer Indonesia yang masih belajar bahasa Inggris, jangan minder dulu.
Justru pengalaman "pernah bingung" itu modal empati yang tidak
dimiliki penulis native.
Soal
akurasi istilah juga tidak bisa disepelekan. Awen Wen, Content
Strategist di Alibaba Group, pernah membagikan kasus di mana kata
"Feed" pada newsfeed media sosial diterjemahkan salah oleh tim
lokalisasi menjadi "fish bait" alias umpan ikan.
Kesalahan
sekecil itu bisa terjadi kalau tidak ada glosarium yang jelas. Makanya sebelum
menulis microcopy, susun dulu daftar istilah baku yang konsisten dipakai di
seluruh aplikasi.
Kapan Pakai
"You" dan Kapan Pakai "My"?
Pakai
"you" sebagai sapaan standar di hampir semua bagian aplikasi, dan
simpan "my" khusus untuk area personal milik pengguna sendiri.
Aturan
mainnya sederhana:
- Gunakan "You" dan
"Your" untuk menyapa pengguna secara langsung. Ini kesannya
hangat dan siap membantu, jauh lebih baik daripada menyebut "the
user" seperti dokumen teknis.
- Gunakan "I" dan
"My" hanya di area yang menunjukkan kepemilikan personal,
misalnya "My Schedule" atau "Places I Love".
- Hindari mencampur dua sudut
pandang ini di halaman yang sama tanpa alasan jelas.
Kesalahan
sudut pandang ini kelihatan sepele, tapi efeknya besar ke perasaan
"memiliki kendali" dari pengguna atas akunnya sendiri.
Active atau Passive Voice,
Mana yang Harus Dipakai?
Pakai
active voice untuk instruksi langsung, dan pakai passive voice khusus saat
menyampaikan kabar buruk supaya tidak terkesan menyalahkan pengguna.
Oluwatoyin
Adeoye, Content
Designer sekaligus penulis, meluruskan mitos bahwa passive voice itu lemah.
Menurutnya, di balik layar UI/UX, passive voice justru bekerja untuk
memperhalus situasi dan meminimalkan kesan menyalahkan.
Bandingkan
dua kalimat ini:
- Kaku dan menyalahkan (active): "We
couldn't process your payment" atau "You entered an
illegal password!"
- Manusiawi (passive): "Your
payment could not be processed" atau "Your account has
been suspended due to a violation."
Rasa
bahasanya beda jauh, kan? Yang kedua tidak menuding siapa yang salah, tapi
tetap menyampaikan informasi yang sama.
Untuk
instruksi biasa yang tidak menyangkut kegagalan, tetap pakai active voice.
Kalimat seperti "You must fill in the form first" lebih mudah
dicerna, apalagi oleh pembaca non-native.
Bagaimana Menulis Tombol
CTA yang Benar?
Tombol CTA
yang baik dimulai dengan kata kerja tindakan, singkat, dan menaruh tujuan utama
di awal kalimat instruksi.
Beberapa
aturan mikro yang sering diabaikan:
- Idealnya tombol hanya 1-3 kata
tanpa tanda baca tambahan.
- Pakai kontraksi lazim seperti
"OK" bukan "Okay", "Info" bukan
"Information".
- Terapkan aturan goal-first,
taruh tujuan di depan dan caranya di belakang. Contoh yang lebih baik: "To
delete your card, please contact the business."
- Hindari ampersand (&) dan
hashtag (#) karena sulit diterjemahkan saat proses lokalisasi.
Kalau kamu
mau dalami lebih jauh soal ini, saya sudah bahas detail psikologi di balik pemilihan kata untuk tombol call to action yang bisa mendongkrak rasio klik.
Apa Kesalahan Fatal dalam
Menyusun Menu Navigasi?
Kesalahan
paling umum adalah memakai label terlalu puitis seperti "Discover"
atau "Explore" yang tidak punya arti jelas bagi pengunjung baru.
Menu
navigasi itu penunjuk jalan digital. Kalau labelnya ambigu, pengguna gampang
bingung dan akhirnya kabur dari aplikasi atau website kamu.
Saya sudah
rangkum lengkap soal ini, termasuk aturan jumlah item menu dan risiko campur
kode berlebihan, di pembahasan kosakata navigasi website yang lebih
spesifik.
Baca Juga: Klausul Bahasa Inggris yang Diam-Diam Menjebak
Bagaimana Rumus Menulis
Pesan Error yang Manusiawi?
Pesan error
yang baik wajib memenuhi empat heuristik: constructive, comprehensible,
concise, dan empathic.
Formula ini
dirumuskan oleh Rolf Molich dan tim German UPA lewat riset panduan pesan
error. Intinya, pesan error tidak boleh menyalahkan pengguna.
Ringkasnya
begini:
- Constructive, beri solusi langsung, bukan
cuma menyatakan masalah.
- Comprehensible, hindari jargon seperti
"validate" atau "verify".
- Concise, satu pesan untuk satu
penyebab spesifik.
- Empathic, jangan pakai ALL CAPS atau
kata menghakimi seperti "invalid" dan "wrong".
Kalau kamu
penasaran cara menyusun kalimat error dari nol sampai jadi kalimat solutif,
saya sudah bedah tuntas di artikel soal pesan error bahasa Inggris yang
empatik.
Apakah Filosofi
"Menulis Cerita" Berlaku di UI/UX Writing?
Ya,
filosofi ini datang dari tim UX Writers di MINDBODY yang menganggap setiap alur
aplikasi sebagai sebuah narasi perjalanan pengguna, bukan kumpulan instruksi
kaku.
Cait
Emma Smith, Michael Milch, dan Talia Ledner dari MINDBODY menegaskan bahwa UX writing yang hebat
itu sederhana, langsung, membantu, dan empatik. Bukan sekadar menumpuk detail
teknis.
Artinya,
setiap layar yang dilihat pengguna, dari onboarding sampai konfirmasi checkout,
sebaiknya diperlakukan seperti babak dalam cerita yang punya awal, konflik, dan
penyelesaian.
![]() |
| Perbandingan pesan error bahasa Inggris UI/UX kaku dan empatik |
Apakah Perlu Belajar di
Kelas Khusus untuk Menguasai Ini?
Perlu,
kalau kamu mau paham pola grammar teknis ini secara sistematis, bukan cuma
hafal contoh kalimat.
Membaca
panduan seperti ini membantu, tapi praktik langsung dengan bimbingan tetap jadi
jalan tercepat. Di Kampung Inggris Pare, kami punya program yang
dirancang untuk kebutuhan bahasa Inggris teknis semacam ini, lengkap dengan
porsi latihan menulis microcopy dan studi kasus nyata.
Kamu bisa
cek pilihan paket belajarnya sesuai kebutuhan, mulai dari kelas intensif
harian sampai kelas percakapan teknis untuk kebutuhan kerja.
Bahasa
Inggris UI/UX pada akhirnya soal empati, bukan hafalan grammar. Kalau kamu
paham kapan pakai "you", kapan pakai passive voice, dan bagaimana
menyusun pesan error yang tidak menyalahkan, microcopy aplikasimu otomatis
terasa lebih manusiawi dan ramah untuk pengguna global.
DAFTAR
SUMBER
- Apple Human Interface
Guidelines (HIG)
- Platform Design & Content Principles.
- German UPA (German Association
of Usability and User Experience Professionals) - Heuristics for Writing Good
Error Messages Guidelines.
- The MINDBODY UX Copy Library - Grammar & Style
Conventions for Digital Products.
Penulis: Rachel Wijayani (cel)


