Sejarah Break a Leg, Kenapa Doa Buruk Jadi Semoga Sukses

Panggung teater tempat lahirnya sejarah frasa break a leg

Sejarah frasa break a leg berakar dari takhayul teater soal nasib terbalik, di mana mendoakan hal buruk secara ironis dipercaya justru mendatangkan keberuntungan sungguhan.

Saya paham kenapa banyak orang bingung pertama kali dengar idiom ini. Wajar aja, "patahkan kaki" kedengarannya kayak kutukan, bukan doa restu.

Tapi justru di situ letak keunikannya. Yuk kita bongkar dua teori paling kuat yang menjelaskan asal-usulnya, sekaligus mitos populer yang ternyata keliru.

 

Kenapa Aktor Mendoakan Hal Buruk Sebelum Tampil?

Karena dunia teater sangat percaya takhayul kalau mengucapkan "good luck" secara langsung justru bakal mengundang roh jahat usil yang mengacaukan pertunjukan.

Untuk mengelabui roh jahat itu, para pemain teater saling mendoakan hal buruk atau mengumpat. Dengan bilang "break a leg", roh jahat dikira bakal mengira mereka menginginkan kegagalan, sehingga hasilnya justru terbalik: kesuksesan besar.

Robert Wilson Lynd, penulis Irlandia, dalam artikelnya "A Defence of Superstition" tanggal 1 Oktober 1921 mencatat kalau takhayul serupa awalnya dipakai para penjudi di arena pacuan kuda.

Mereka melarang ucapan "semoga beruntung" dan menggantinya dengan ucapan kasar seperti "May you break your leg!" yang belakangan diadaptasi ke dunia teater.

 

Apa Hubungan "Break a Leg" dengan Bahasa Jerman?

Hubungannya cukup erat, karena banyak etimolog percaya frasa ini adalah terjemahan dari ungkapan Jerman "Hals- und Beinbruch", yang secara harfiah berarti patah leher dan kaki.

Ungkapan ini awalnya dipakai para pemburu, pelancong, sampai penerbang militer Jerman di Perang Dunia I untuk saling mendoakan keselamatan secara ironis.

Istilah Jerman ini sendiri diduga diserap secara fonetis dari frasa Yiddish "hatslokhe u brokhe" yang artinya sukses dan berkah. Karena pelafalan Yiddish itu terdengar mirip di telinga orang Jerman, mereka meminjamnya dengan pelesetan kata yang berbau takhayul.

Takhayul ini kemudian dibawa masuk ke industri hiburan Amerika Serikat pasca Perang Dunia I oleh para imigran Yahudi dan seniman Jerman.

Marlene Dietrich, aktris panggung dan layar lebar asal Jerman, jadi salah satu buktinya. Saat mulai merintis karier di Hollywood awal 1930-an, ia mendatangi ruang rias aktris legendaris Amerika, Helen Hayes, dan bilang "I hope you break your leg!". Dalam biografinya, Hayes mencatat dia awalnya kaget dan mengira itu ucapan kebencian, sebelum sadar itu adalah bentuk standar penolak sial di Eropa.

 Baca Juga: Makna Asli Caught Red Handed dari Hukum Skotlandia Kuno

Benarkah "Break a Leg" Berasal dari Era Vaudeville?

Ini justru mitos yang keliru, meski masih sering dipercaya banyak orang di internet.

Klaim populer bilang istilah ini berasal dari era Vaudeville abad ke-18 atau ke-19, di mana produser mengantre aktor cadangan di belakang tirai samping panggung yang disebut "legs". Aktor cadangan baru dibayar kalau berhasil melewati batas tirai tersebut, sehingga "break a leg" diartikan sebagai semoga kamu tampil dan dibayar.

Eric Hart, profesor Stage Properties di University of North Carolina School of the Arts, menyanggah mitos ini lewat penelitiannya. Ia menegaskan bahwa istilah tirai samping teater baru disebut "legs" sekitar tahun 1950-an, sedangkan sebelumnya disebut "wings" atau "tormentors".

Hart meyakini frasa ini murni berasal dari takhayul Eropa soal nasib terbalik yang dibawa imigran berbahasa Jerman dan Yiddish ke panggung Amerika pada tahun 1920-an, bukan dari sistem pembayaran aktor Vaudeville.

Selain teori Vaudeville yang keliru itu, ada juga dua teori alternatif lain yang cukup menarik:

  • Teori membungkuk, di mana aktor yang membungkuk berkali-kali memberi hormat ke penonton dianggap "mematahkan" garis lurus kakinya sendiri
  • Kisah aktor Inggris abad ke-18, David Garrick, yang begitu total memerankan Richard III sampai gak sadar kakinya beneran patah selama pementasan

 

Aktor menunggu giliran tampil menggambarkan sejarah frasa break a leg
Aktor menunggu giliran tampil menggambarkan sejarah frasa break a leg

Kenapa Penting Belajar Idiom Unik Kayak "Break a Leg"?

Karena idiom kayak ini bikin percakapan bahasa Inggris kamu jauh lebih ekspresif dan gak monoton dibanding sekadar pakai kalimat baku.

Dr. John I. Liontas, associate professor di University of South Florida, dalam penelitiannya di Athens Journal of Education tahun 2025 menjelaskan konsep idiomatic competence, yaitu kemampuan memahami dan memakai idiom secara akurat dalam berbagai konteks sosial budaya.

Menguasai idiom seperti "break a leg" bikin kamu terdengar lebih natural saat mendoakan teman sebelum ujian, presentasi, atau wawancara kerja, karena kamu paham betul konteks budayanya, bukan cuma menghafal terjemahan harfiah.

Kalau kamu penasaran idiom kuno lain yang juga sering disalahpahami maknanya, ada bahasan lengkap soal etimologi idiom kuno bahasa Inggris yang bisa kamu telusuri lebih jauh.

Frasa "break a leg" ternyata lahir dari perpaduan takhayul dunia pacuan kuda dan pengaruh budaya Jerman-Yiddish, bukan dari mitos Vaudeville yang selama ini beredar luas. Memahami sejarah takhayul ini bikin kamu makin percaya diri memakai idiom ini tanpa salah kaprah lagi.

 

DAFTAR SUMBER

  1. Hart, E. (2021). Why do theater people say "Break a Leg"?. Prop Agenda.
  2. Liontas, J. I. (2025). Idiomatics: The Ethos, Pathos, and Logos of Idiomatics Proper. Athens Journal of Education, 12(4), 547-574.
  3. Wikipedia contributors. (2026). Break a leg. Wikipedia, The Free Encyclopedia.

Penulis: Rachel Wijayani (cel)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *