Bahasa Inggris Indoglish vs Native, 7 Istilah yang Salah Kaprah
Pernah tidak kalian mengirim email lamaran kerja atau pesan ke klien bule dengan akhiran kalimat pamungkas: "Thanks before"? Kalau pernah, selamat! Anda baru saja membuat si penerima pesan mengerutkan dahi sambil bertanya tanya, "Before what? Before I eat? Before I sleep?"
Di Indonesia, frasa ini terdengar sopan sekali. Terjemahan mutlak dari "Terima kasih sebelumnya". Tapi dalam logika native speaker, frasa ini aneh bin ajaib. Bahasa Inggris punya aturannya sendiri, dan memaksakan sopan santun Indonesia ke dalam struktur Inggris sering kali malah bikin salah paham.
Inilah yang disebut fenomena Indoglish. Bukan bahasa Inggris, bukan juga bahasa Indonesia, tapi anak haram dari keduanya yang lahir karena kebiasaan menerjemahkan kata per kata.
Biar kalian nggak malu-maluin saat harus speak up di depan bos asing atau saat main ke luar negeri, mari kita bedah 7 istilah Indoglish yang harus segera kalian hapus dari kamus otak.
1. "Thanks Before" vs "Thanks in Advance"
Ini juara umumnya kesalahan umat +62. Maksud hati ingin sopan berterima kasih sebelum orangnya membantu, apa daya vocabulary terbatas.
Dalam bahasa Inggris yang baku dan wajar, kalau mau bilang terima kasih untuk sesuatu yang belum dilakukan, gunakanlah "Thanks in advance". Kalau "Thanks before", itu secara harfiah artinya "Terima kasih sebelum". Sebelum apa? Kalimatnya gantung, Bos.
2. "Worthed" vs "Worth it"
"Gila, makan di sini nggak worthed banget!" Sering dengar kalimat itu? Atau jangan-jangan kalian pelakunya? Kata "Worthed" itu tidak ada dalam kamus gaul bule manapun. Itu murni ciptaan netizen Indonesia yang kelebihan huruf 'ed'.
Kata yang benar adalah "Worth it" (layak/sepadan). Jadi tolong, stop pakai worthed. Lidah kalian nggak keseleo kan kalau bilang worth it?
3. "I Very Like" (Si Paling Literal)
Nah, ini dia biangnya masalah yang sering dibahas di Kampung Inggris. Kita punya kebiasaan menerjemahkan "Saya sangat suka bakso" menjadi "I very like meatball."
Kenapa ini salah? Karena dalam perbandingan bahasa Inggris Indoglish vs Native, penempatan adverb (kata keterangan) itu krusial. Bule yang dengar mungkin paham, tapi dalam hati mereka ketawa. Padahal struktur aslinya adalah "I like meatball very much" atau "I really like meatball."
Jangan memaksa Bahasa Inggris tunduk pada hukum tata bahasa Indonesia. Itu namanya penjajahan linguistik. Kita sering begini karena malas mikir struktur, maunya cepat saja.
Kebiasaan menerjemahkan literal ini sebenarnya cuma satu dari sekian banyak dosa besar siswa kita. Masih ada banyak kesalahan lain yang bikin kamu susah lancar ngomong. Cek daftar lengkapnya di 10 Kesalahan Umum Belajar Bahasa Inggris Siswa Indonesia ini biar kamu makin sadar.
4. "Keep Spirit" vs "Keep it Up"
Niatnya menyemangati teman yang lagi skripsi, bilangnya "Keep spirit, Bro!" Kalau diartikan oleh native, itu terdengar seperti kalian menyuruh teman kalian memelihara arwah atau hantu (spirit). Seram, kan?
Padahal maksudnya "Tetap semangat". Padanan yang pas adalah "Keep it up", "Cheer up", atau "Don't give up". Jangan main-main sama spirit, nanti kesurupan beneran. Kalau dapet lawatan Holy Spirit baru boleh banget.
5. "Join With Us" vs "Join Us"
Lihat poster acara kampus atau open recruitment organisasi, pasti ada tulisan "Come and Join With Us". Kata Join itu sudah berarti "bergabung dengan". Jadi kalau ditambah with, jadinya pemborosan (redundant). Cukup bilang "Join us". Singkat, padat, dan nggak bikin guru grammar menangis.
6. "Boring" vs "Bored"
"I am boring." Hati hati. Kalau kalian bilang ini ke gebetan, jangan marah kalau dia kabur. "I am boring" artinya "Saya membosankan". Kalian baru saja mengakui kalau kalian orang yang nggak asik.
Yang kalian maksud pasti "Saya bosan", kan? Itu bahasa Inggrisnya "I am bored". Ingat bedanya:
- -ing = sifatnya (Membosankan)
- -ed = perasaannya (Bosan)
7. "Take and Give" vs "Give and Take"
Orang Indonesia maunya untung duluan baru ngasih. Makanya istilahnya "Take and Give" (Ambil dan Beri). Tapi budaya barat mengajarkan memberi dulu baru menerima.
Jadi idiom yang benar adalah "Give and Take". Jangan dibalik-balik, nanti dikira kalian orang yang egois, maunya take melulu tapi nggak mau give.
![]() |
| Kesalahan penggunaan istilah bahasa Inggris Indoglish vs native di dunia kerja |
Kenapa Kita Suka Banget Indoglish?
Menggunakan Indoglish di tongkrongan sesama warga lokal mungkin sah-sah saja sebagai bumbu pergaulan. Tapi kalau sudah masuk ranah profesional atau akademis, kesalahan fatal ini bisa bikin kredibilitas kalian terjun bebas.
Jujur saja, aku sendiri bahasa Inggrisnya masih potan-petan (berantakan). Dulu aku pikir bilang "Thanks before" itu puncak kesopanan. Aku merasa berdosa kalau minta tolong tanpa berterima kasih di awal.
Tapi setelah aku perhatikan (dan sering dikoreksi teman-teman), aku sadar satu hal: Masalah kita bukan di bodohnya, tapi di "Budaya Basa-basi" kita.
Orang Indonesia itu ramah banget. Kita punya budaya "nggak enakan".
- Mau nolak ajakan? Bilangnya "Atas seizin-Nya" (padahal nggak datang).
- Mau minta tolong? Bilangnya "Terima kasih sebelumnya" (biar orangnya mau bantu).
Nah, kebiasaan "Nggak Enakan" inilah yang kita paksa masuk ke Bahasa Inggris. Padahal, bule (native speaker) itu pola pikirnya Logis dan Langsung (Direct). Kalau A ya A, kalau B ya B.
Jadi, menurutku, belajar bahasa Inggris itu bukan cuma ganti kata, tapi ganti "cara pikir". Kita harus belajar tega buat jadi lebih to the point. Bukan berarti jadi kasar, tapi jadi efektif.
Kesimpulannya, bahasa Inggris itu soal rasa dan konteks. Jangan cuma menghafal kamus, tapi pahami bagaimana kata itu dipakai oleh penutur aslinya.
Daripada terus-terusan terjebak dalam Indoglish yang bikin malu, mending luangkan waktu buat belajar struktur yang benar. Nggak ada salahnya mulai memperbaiki diri dari sekarang, before... eh maksudnya, in advance!
FAQ
Indoglish itu apa sih?
Bilingualism adalah?
Apa perbedaan bilingual dan multilingual?
Lihat Sumber Informasi
02. https://www.kompasiana.com/



No comments:
Post a Comment