Sungkan dan Basa-Basi, Ini Padanan Bahasa Inggrisnya
Sungkan dan basa-basi ala Indonesia ternyata bisa jadi ranjau sosial kalau diterjemahkan harfiah ke budaya Barat yang low-context.
Pernah
nggak kamu ngerasa lebih pede ngobrol bahasa Inggris sama turis asing dibanding
sama teman sekelas sendiri? Itu bukan kebetulan. Ada penjelasan ilmiah soal bahasa
Inggris sungkan dan kenapa rasa itu justru hilang kalau lawan bicaranya
orang asing.
Kenapa Budaya Indonesia
dan Barat Beda Cara Komunikasinya?
Karena
keduanya masuk kategori budaya komunikasi yang berbeda menurut teori antropolog
Edward T. Hall. Ada dua kategori besar:
- High-context culture, pesan disampaikan tidak
langsung, bergantung pada isyarat non-verbal, dan mengutamakan harmoni
kelompok. Indonesia, Jepang, dan China masuk kategori ini.
- Low-context culture, pesan disampaikan langsung,
eksplisit, blak-blakan, dan mengutamakan fakta serta kejelasan kata.
Amerika Serikat, Jerman, Kanada, dan Australia masuk kategori ini.
Contoh
gampangnya, orang Indonesia sering menyampaikan kritik secara diplomatis biar
nggak nyakitin perasaan, misalnya "Mungkin laporan ini bisa sedikit
diperbaiki", padahal maksudnya perlu revisi total. Budaya Barat langsung
bilang, "Laporan ini tidak memenuhi standar, tolong revisi."
Apa Itu Sungkan dan Kenapa
Bikin Susah Speaking English?
Sungkan
adalah perpaduan rasa tidak enak hati, segan, yang juga diwarnai rasa malu dan
takut demi menjaga kehormatan. Ada filosofi Jawa yang kuat banget soal ini:
"Ajining diri gumantung obahing lathi", yang artinya harga diri
seseorang tergantung pada ucapan lidahnya.
Bambang
Agus Darwanto, dosen STBA LIA Yogyakarta, memaparkan bahwa tingkat sungkan
berbanding lurus dengan keengganan berbicara, atau istilahnya Willingness to
Speak.
Semakin
tinggi rasa sungkan, semakin besar juga hambatan buat ngomong bahasa asing
karena takut salah dan menjatuhkan harga diri di depan orang yang dikenal.
Fenomena
uniknya, pembelajar bahasa Inggris di Indonesia justru lebih berani dan nyaman
ngobrol sama turis asing dibanding teman sekelas atau guru sendiri. Kenapa?
Karena turis asing dianggap orang asing yang anonim, nggak bakal menghakimi
kesalahan tata bahasa mereka.
Jadi beban
sungkan dan takut kehilangan harga diri itu nggak terancam.
Apa Bedanya Basa-Basi
Indonesia dan Small Talk Barat?
Bedanya ada
di topik yang dianggap sopan. Istilah phatic expression pertama kali dicetuskan
antropolog Bronisław Malinowski pada 1923, merujuk pada ucapan yang fungsinya
menjaga hubungan sosial, bukan bertukar informasi aktual.
Di
Indonesia, basa-basi yang dianggap wajar biasanya:
- Menanyakan status pernikahan,
seperti "Kapan nikah?"
- Mengomentari perubahan fisik,
seperti "Kok gemukan atau kurusan?"
- Menanyakan pekerjaan sebagai
bentuk perhatian
Sementara
di budaya Barat, topik-topik itu justru dianggap ranjau sosial yang kasar,
mengganggu privasi, bahkan masuk kategori body shaming. Kesopanan di Barat
justru ditunjukkan dengan menghargai privasi orang lain.
Yuli
Widiana dari Universitas Sebelas Maret, yang meneliti komunikasi fatis
masyarakat kita, menegaskan bahwa basa-basi soal topik pribadi semacam itu
sebenarnya bentuk kebaikan hati untuk mempererat keakraban.
Masalahnya,
kegagalan memahami sensitivitas privasi budaya Barat inilah yang sering memicu
keretakan komunikasi lintas budaya.
Baca Juga: Beda Serendipity dan Epiphany, Jangan Sampai Ketuker
Apa Formula Aman untuk
Small Talk dalam Bahasa Inggris?
Kamu bisa
pakai kerangka FORD biar basa-basi kamu tetap aman dan nggak
menyinggung:
- Family, tanya hubungan umum, misalnya
"Do you have siblings?"
- Occupation, tanya pekerjaan, misalnya
"What do you do?"
- Recreation, tanya hobi atau rencana akhir
pekan, misalnya "Any plans for the weekend?"
- Dreams, tanya impian atau tujuan
liburan impian, misalnya "Where would you love to visit
someday?"
Formula ini
aman dipakai ke siapa saja karena nggak menyentuh area privasi sensitif seperti
status pernikahan atau berat badan.
Kenapa Orang Indonesia
Sering Kebanyakan Minta Maaf Sebelum Meminta Tolong?
Karena
dorongan budaya sungkan yang bikin kita menyelipkan banyak kalimat pembuka
berlebihan sebelum masuk ke inti permintaan. Gina Nanda Utama dari Universitas
Suryakancana, dalam penelitian pragmatiknya, menemukan bahwa siswa Indonesia
cenderung pakai elemen pembuka yang panjang dan berulang saat meminta bantuan.
Padahal,
native speaker bahasa Inggris lebih suka efisiensi, langsung ke inti permintaan
secara ringkas dengan bantuan kata modal seperti Can, Could, atau Would.
Kalimat pembuka seperti "I'm sorry to disturb your time, can I..."
itu terdengar berlebihan buat mereka.
![]() |
Lebih pede ngomong bahasa Inggris ke turis asing |
Bagaimana Cara Bilang
"Nggak Usah Basa-Basi" dalam Bahasa Inggris?
Tergantung
tingkat keakraban dan konteksnya:
- Kasar atau informal, kalau lagi
kesal ke teman dekat yang sudah sangat akrab, bisa pakai "Cut the
crap!"
- Lebih halus dan sopan, bisa
pakai "Can you get to the point?" atau "Let's skip the
small talk."
- Konteks formal seperti rapat
atau email kerja, bisa pakai "Let's avoid small talk" atau
"Stop the nonsense."
Perbedaan
tingkat kesopanan semacam ini memang susah diterjemahkan cuma dengan mengganti
kata. Ini juga sebabnya kenapa banyak kata bahasa Inggris tanpa padanan
langsung butuh penjelasan konteks, bukan cuma sinonim.
Kalau kamu
mau lebih jago baca situasi kayak gini, latihan berbicara langsung sama
pembicara aktif biasanya jauh lebih efektif daripada cuma belajar teori. Kamu
bisa cek langsung pilihan program belajar percakapan yang tersedia.
Sungkan dan
basa-basi ala Indonesia bukan aturan universal, jadi jangan diterapkan
mentah-mentah saat ngobrol dengan orang Barat. Pakai formula seperti FORD dan
pahami bedanya high-context dengan low-context culture biar komunikasi kamu
tetap sopan tapi nggak salah kaprah.
DAFTAR
SUMBER
- Darwanto, B. A. (2022). Sungkan,
A Javanese Cultural Trait and the Willingness to Speak (WTS) Among
Javanese Learners of English. STBA LIA Yogyakarta Journal, 18(2),
70-81.
- Widiana, Y., Sumarlam, S.,
Marmanto, S., Purnanto, D., & Sulaiman, M. Z. (2020). Intrusive
Busybody or Benevolent Buddy: Phatic Communication among Javanese Women.
GEMA Online® Journal of Language Studies, 20(2), 36-56.
- Utama, G. N., Helmie, J., &
Halimah, H. (2025). Interlanguage Pragmatic Study of Politeness in
Requesting among English Education Students. DEIKTIS: Jurnal
Pendidikan Bahasa dan Sastra, 5(3), 1712-1721.
Penulis: Rachel Wijayani (cel)


