Untranslatable Words, Kata Inggris Tanpa Padanan di RI
Kalau kamu pernah stuck di tengah kalimat gara-gara nggak nemu padanan kata Indonesia yang pas buat "serendipity" atau "cringe", tenang, itu bukan salah kosakata kamu.
Fenomena untranslatable
words bahasa Inggris ini memang nyata secara ilmiah, disebut lexical gap,
dan kali ini saya bongkar sampai akarnya biar kamu nggak lagi keder pas nyusun
kalimat.
Apa Itu Untranslatable
Words dan Kenapa Bisa Terjadi?
Dalam dunia
linguistik, kata atau ucapan yang nggak punya padanan langsung di bahasa lain
disebut lacuna atau lexical gap alias celah leksikal. Ini bukan sekadar
soal kosakata kurang lengkap.
Bahasa itu
cerminan budaya, sejarah, sama cara pandang penuturnya soal dunia. Kalau satu
konsep sangat spesifik di satu budaya, bahasa lain sering gagal menyediakan
satu kata yang pas dan akhirnya butuh penjelasan panjang, atau istilah
kerennya, sirkumlokasi.
Priyono,
linguis dari Universitas Mataram, menjelaskan bahwa akar masalahnya ada di
perbedaan Lexical Conceptual Structure, alias struktur konseptual
leksikal antara dua bahasa. Perbedaan ini menciptakan kesenjangan makna yang
nggak bisa dijembatani secara instan, jadi kalimatnya harus direkonstruksi
total biar maknanya nyambung di bahasa sasaran.
Serendipity, Kenapa Bukan
Sekadar "Hoki"?
Banyak
orang Indonesia langsung menerjemahkan serendipity jadi "hoki" atau
"keberuntungan". Padahal itu kurang tepat.
Kata
"hoki" sendiri diserap dari bahasa Tionghoa hok-khi yang artinya cuma
nasib baik biasa. Sementara serendipity jauh lebih spesifik, karena melibatkan:
- Unsur ketidaksengajaan saat
mencari hal lain
- Kejelian seseorang dalam
menyadari nilai berharga dari penemuan itu
- Kombinasi antara kebetulan dan
kepekaan, bukan sekadar untung-untungan
Fakta
uniknya, kata ini diciptakan penulis Inggris Horace Walpole pada 1754,
terinspirasi dari dongeng Persia kuno "The Three Princes of
Serendip". Serendip sendiri adalah nama kuno Eropa untuk Sri Lanka.
Kalau kamu
penasaran lebih jauh soal bedanya konsep ini dengan momen pencerahan mendadak,
saya sudah bahas detail soal perbedaan serendipity dan epiphany di
artikel lain, karena dua kata ini sering ketuker padahal beda proses.
Cringe, Kenapa Nggak Bisa
Cuma Jadi "Jijik" atau "Aneh"?
Kalau
dipaksa jadi "jijik" atau "aneh", maknanya langsung
kehilangan nuansa emosionalnya. Cringe itu perasaan risih atau malu mendalam
saat melihat tingkah laku orang lain yang canggung.
Bahasa
Indonesia butuh rangkaian frasa panjang seperti "merasa malu atau risih
melihat tingkah laku orang lain" cuma buat menangkap satu kata ini secara
utuh. Ini contoh nyata kenapa lexical gap bikin percakapan jadi lebih ribet
kalau dipaksa diterjemahkan kata per kata.
Kenapa Satu Kata
"Load" Bisa Berubah Arti Sampai Tujuh Kali?
Ini bagian
yang menurut saya paling mind-blowing. Kata load itu contoh polisemi ekstrem,
di mana satu kata harus diterjemahkan jadi tujuh kata berbeda tergantung
konteks kalimatnya:
- Her heart sank under a fearful
load of guilt
jadi beban
- A bag of rice in the bottom of
the load jadi tumpukan
- With a load on his wagon jadi muatan
- To load up some wool on a wagon jadi memasukkan
- Load our trailer with wood jadi isi
- If the van did not load the
food jadi memuat/membawa
- Despite his heavy work load jadi beban kerja
Ketidakcocokan
satu lawan satu ini membuktikan properti semantik load jauh lebih luas daripada
sekadar "beban" di bahasa Indonesia.
Kenapa "Mary Walked
Her Child to School" Susah Diterjemahkan Harfiah?
Bahasa
Inggris punya fitur Transitive-Intransitive Alternation, di mana kata kerja
intransitif bisa berubah jadi transitif dan butuh objek langsung. Contohnya
kalimat "Mary walked her child to school".
Masalahnya,
kata "berjalan" di bahasa Indonesia murni intransitif. Kita nggak
bisa bilang "Mary berjalan anaknya ke sekolah", itu rusak secara tata
bahasa. Kalimatnya harus direkonstruksi jadi:
- "Mary menuntun anaknya
berjalan kaki ke sekolah", atau
- "Mary mengantarkan anaknya
ke sekolah sambil berjalan kaki"
Kenapa
"Brother-in-Law" Bisa Bikin Bingung Keluarga Besar?
Bahasa
Inggris cenderung menyederhanakan hubungan kekerabatan lewat pernikahan jadi
satu istilah payung. Brother-in-law saja bisa merujuk ke minimal enam hubungan
keluarga berbeda, dari suami saudara kandung sampai saudara laki-laki pasangan.
Bandingkan
dengan budaya kita yang punya panggilan spesifik untuk tiap posisi kekerabatan.
Ini kenapa pas nerjemahin obrolan keluarga ke bahasa Inggris kadang kamu harus
tambah penjelasan ekstra biar nggak salah paham siapa yang dimaksud.
Apa Contoh Kolokasi Bahasa
Inggris yang Nggak Bisa Diterjemahkan Harfiah?
Beberapa
gabungan kata bahasa Inggris punya batasan pilihan kata yang beda banget
logikanya dari bahasa Indonesia. Kalau diterjemahkan kata per kata, hasilnya
malah aneh:
- "To beat the tropical
climate" artinya mengatasi cuaca tropis, bukan mengalahkan
iklim
- "To extend
hospitality" artinya menunjukkan atau membalas keramahan,
bukan memperluas keramahan
- "To interrupt the flow of
traffic" artinya menyeberang jalan sehingga mengganggu arus lalu
lintas
- "To buy the story"
artinya percaya pada cerita tersebut, bukan membeli cerita
Baca Juga: English for Chatting! Kunci Paham Konteks Chat Bahasa Inggris
Kenapa "Mandi"
di Indonesia Beda Konsep dengan "Take a Bath" di Barat?
Ini contoh
favorit saya soal perbedaan mental set. Dr. M.R. Nababan, pakar teori
penerjemahan dari Universitas Sebelas Maret, menyoroti frasa "take a
bath" yang biasa diartikan "mandi".
Padahal,
perangkat mental native speaker soal mandi melibatkan shower atau bathtub.
Sementara orang Indonesia secara tradisional membayangkan gayung. Detail
sekecil ini membuktikan bahwa padanan kata yang kita anggap paling lazim
sekalipun sebenarnya menyimpan konsep budaya yang jauh berbeda.
Hal serupa
juga kejadian pas kita coba menerjemahkan penyakit khas lokal ke istilah medis
Barat. Saya sudah bahas panjang lebar soal bahasa Inggrisnya masuk angin
dan kenapa istilah ini justru dikategorikan sebagai fenomena budaya, bukan
diagnosis medis universal.
Kapan Sebaiknya Kita
Berhenti Menerjemahkan Kata per Kata?
Jawaban
singkatnya, begitu kamu merasa hasil terjemahan jadi aneh atau kehilangan makna
aslinya. Maria M. Ngamelubun, peneliti dari Politeknik Perikanan Negeri Tual,
menyarankan solusi bernama teknik deskripsi.
Caranya,
kamu nggak maksa cari satu kata pengganti, tapi kasih penjelasan atau deskripsi
jelas dari kata tersebut di bahasa sasaran. Ini juga alasan kenapa banyak
konsep sosial kita, semacam rasa sungkan waktu ngobrol, susah banget dipadankan
satu kata ke bahasa Inggris.
Saya sudah
kupas lengkap soal ini di pembahasan menerjemahkan sungkan dan basa-basi
ke budaya komunikasi Barat.
![]() |
| Ilustrasi kebingungan menerjemahkan untranslatable words bahasa Inggris |
Gimana Cara Praktis
Menyiasati Untranslatable Words Waktu Ngobrol?
Beberapa
trik yang bisa langsung kamu praktikkan:
- Jangan maksa cari satu kata
pengganti, jelaskan konteksnya lewat frasa pendek
- Perhatikan konteks kalimat,
karena satu kata Inggris bisa berubah arti total tergantung situasinya
- Latihan dengan kalimat contoh
asli, bukan cuma menghafal daftar kata
- Biasakan dengar percakapan
native speaker biar kebiasaan mental set-nya ikut kebentuk
Kalau kamu
serius mau menguasai nuansa semacam ini, bukan cuma hafal kosakata doang,
biasanya butuh lingkungan yang memaksa kamu praktik tiap hari. Program intensif
semacam ini bisa kamu cek di halaman program Kampung Inggris Pare buat
lihat pilihan kelas yang sesuai kebutuhan kamu.
Untranslatable
words itu bukti bahwa bahasa selalu terikat sama budaya penuturnya, bukan
sekadar susunan kata yang bisa ditukar satu banding satu. Semakin kamu paham
konsep di baliknya, semakin natural juga cara kamu berbicara bahasa Inggris.
DAFTAR
SUMBER
- Priyono. (2005). Lexical
Constraints in Translation and Learning English as a Foreign Language in
Indonesia. TEFLIN Journal, Volume 16, Number 2. Universitas Mataram,
Lombok.
- Ngamelubun, Maria M. (2016). Ketakterjemahan
dalam Penerjemahan (Untranslatability in Translation). Diglossia, Vol.
8, No. 1. Politeknik Perikanan Negeri Tual.
- Lembaga Bahasa Internasional
FIB Universitas Indonesia (LBI FIB UI). (2026). 5 Istilah Bahasa Asing
Tanpa Padanan Langsung dalam Bahasa Indonesia: dari Serendipity hingga
Tsundoku.
Penulis: Rachel Wijayani (cel)


