Beda Serendipity dan Epiphany, Jangan Sampai Ketuker

Momen serendipity menemukan buku lama secara tidak sengaja

Serendipity itu penemuan berharga secara tidak sengaja karena katalis luar, sementara epiphany itu momen sadar mendadak dari proses refleksi dalam diri sendiri.

Dua kata ini sering dianggap mirip, padahal makna kata serendipity epiphany itu jauh berbeda secara konsep. Kalau kamu asal pakai buat nulis esai atau ngomong santai, bisa-bisa maknanya melenceng. Saya bedah tuntas biar kamu nggak ketuker lagi.

 

Apa Arti Serendipity yang Sebenarnya?

Serendipity adalah penemuan hal berharga atau menyenangkan secara tidak sengaja, ketika seseorang sebenarnya sedang nggak mencari hal itu. Istilah ini pertama kali diciptakan penulis Inggris Horace Walpole pada 1754.

Walpole terinspirasi dari dongeng Persia berjudul "The Three Princes of Serendip", di mana Serendip adalah nama kuno untuk Sri Lanka. Dalam dongeng itu, para pangeran selalu menemukan hal berharga secara tidak sengaja berkat kebijaksanaan mereka, atau istilah aslinya accident and sagacity.

Christian Busch, pakar serendipitas yang mengajar di NYU dan LSE, menyebut serendipity sebagai "active luck" atau keberuntungan aktif, bukan sekadar keberuntungan pasif yang jatuh dari langit. Menurutnya, ini kemampuan aktif manusia mendeteksi peluang, menghubungkan titik-titik acak, dan mengambil tindakan nyata.

 

Apa Arti Epiphany dan Dari Mana Asalnya?

Epiphany adalah momen pemahaman atau kesadaran mendalam yang datang tiba-tiba dan mengubah cara pandang seseorang, entah soal masalah, hubungan, atau identitas diri. Kata ini berasal dari bahasa Yunani kuno epiphaneia yang artinya manifestasi atau kemunculan.

Awalnya dipakai dalam konteks keagamaan, merujuk pada theophany atau penampakan dewa, sebelum akhirnya diadopsi ke dunia sastra modern dan psikologi.

James Joyce, sastrawan legendaris modernis, adalah tokoh yang pertama kali mempopulerkan kata ini keluar dari sekat keagamaan masuk ke ranah sekuler.

Joyce mendefinisikannya sebagai manifestasi spiritual yang tiba-tiba, baik lewat vulgaritas ucapan, gerak tubuh, atau fase tak terlupakan dari pikiran itu sendiri. Baginya, epifani bisa dipicu hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-hari.

 

Apa Perbedaan Mendasar Serendipity dan Epiphany?

Ada tiga sudut pembeda yang paling jelas:

  • Katalis luar vs refleksi dalam: serendipity bergantung pada katalis eksternal atau kejadian tidak sengaja di dunia nyata, sementara epiphany adalah proses internal ketika pikiran kita tiba-tiba menyusun ulang informasi yang sudah ada di kepala jadi pola baru yang jelas
  • Tujuan pencarian: dalam serendipity, kamu menemukan sesuatu yang berharga saat tidak sedang mencarinya, sementara dalam epiphany kamu sering sudah lama bergumul dengan suatu masalah dan jawabannya mendadak muncul saat kamu sedang rileks
  • Ranah dominan: serendipity banyak mendominasi sejarah penemuan sains besar, sementara epiphany jadi perangkat utama dalam sastra modernis dan psikologi transformasi diri

 Baca Juga: Bahasa Inggrisnya Masuk Angin, Ini Cara Bilang ke Dokter

Apakah Epiphany dan Serendipity Bisa Terjadi Bersamaan?

Bisa, dan justru saling memicu satu sama lain. Elise Ballard, peneliti dan penulis buku Epiphany, merumuskan bahwa epifani yang mengubah hidup selalu diiringi empat karakteristik:

  • Listening, keheningan untuk mendengarkan tanda di sekitar
  • Belief, keyakinan mutlak pada intuisi tersebut
  • Action, mengambil langkah nyata berdasarkan keyakinan itu
  • Serendipity, setelah tindakan diambil, keadaan seolah bersengkongkol mendukung keputusan kita

Ballard secara menarik menghubungkan bahwa epiphany yang bersifat internal, kalau ditindaklanjuti dengan aksi nyata, justru bisa memicu terjadinya serendipity yang bersifat eksternal. Jadi dua konsep ini sebenarnya bisa saling melengkapi, bukan cuma dua kata yang berdiri sendiri.

 

Kenapa Serendipity Sering Muncul dalam Sejarah Penemuan Sains?

Karena polanya cocok dengan cara kerja penalaran ilmiah tertentu. Lusia Narsia Amsad, akademisi kimia dari Universitas Cenderawasih, dalam tinjauan penalaran ilmiahnya mengelompokkan bahwa pure serendipity cenderung terjadi lewat penalaran induktif dan abduktif, yang menggarisbawahi konstruksi teori baru berdasarkan anomali atau fakta lapangan tak terduga.

Ini juga yang membuat kutipan Louis Pasteur begitu relevan untuk kedua konsep ini: "Dalam bidang observasi, peluang hanya berpihak pada pikiran yang siap." Kata sagacity atau kebijaksanaan dalam serendipitas sendiri adalah representasi dari pikiran yang siap ini.

Christian Busch menambahkan bahwa hambatan terbesar serendipitas adalah functional fixedness, yaitu kekakuan mental yang membuat kita cuma bisa melihat satu fungsi dari suatu alat atau situasi, sehingga gagal menangkap peluang yang sebenarnya ada di depan mata.

 

Ilustrasi momen epiphany saat merenung sendirian
Ilustrasi momen epiphany saat merenung sendirian

Kapan Sebaiknya Pakai Serendipity dan Kapan Pakai Epiphany dalam Kalimat?

Beberapa panduan praktis biar kamu nggak salah pakai:

  • Pakai serendipity kalau kamu cerita soal kejadian kebetulan yang berujung sesuatu yang bagus, misalnya ketemu jodoh atau ide bisnis secara nggak sengaja
  • Pakai epiphany kalau kamu cerita soal momen sadar tiba-tiba soal hidup, keputusan, atau masalah yang selama ini kamu pikirkan
  • Jangan tukar posisi keduanya di esai formal, karena penguji IELTS atau TOEFL biasanya cukup jeli menangkap nuansa kata semacam ini

Nuansa halus semacam ini juga muncul di banyak kata Inggris lain yang sering disalahpahami sebagai sinonim, mirip dengan pembahasan saya soal kata bahasa Inggris tanpa padanan langsung di bahasa Indonesia.

Kalau kamu lagi mempersiapkan diri buat ujian bahasa Inggris tingkat lanjut atau sekadar mau kosakata kamu naik level, biasanya butuh latihan menulis yang dikoreksi langsung. Kamu bisa cek pilihan paket belajar intensif yang fokus ke advanced vocabulary.

Serendipity dan epiphany kelihatan mirip karena sama-sama soal momen tak terduga, tapi sumbernya beda total, satu dari kejadian luar dan satu dari proses batin. Paham bedanya bikin kosakata kamu jauh lebih presisi, apalagi buat kebutuhan akademis.

 

DAFTAR SUMBER

  1. Ballard, E. (2011). The Anatomy of an Epiphany: 4 Steps You Can Take to Prepare for a Life-Changing Revelation. Psychology Today.
  2. Busch, C. (2022). Three Ways to Cultivate Serendipity: Expect the unexpected and recognize what has been holding you back. Psychology Today.
  3. Amsad, L. N. (2019). Tinjauan Penalaran Ilmiah Pada Penemuan-Penemuan Sains Yang Tak Disengaja (Serendipity). Jurnal Filsafat Indonesia, Universitas Pendidikan Ganesha, 2(1).

Penulis: Rachel Wijayani (cel)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *