Stop Minder soal Aksen, Kenapa World Englishes Itu Sah
Banyak pelajar Indonesia masih merasa minder berbicara bahasa Inggris karena aksen lokalnya, padahal secara linguistik, aksen bukan ukuran kemampuan. Pembahasan ini menjelaskan kenapa world englishes aksen lokal adalah identitas yang sah, bukan kelemahan yang harus disembunyikan.
Ada satu momen yang hampir semua pelajar bahasa Inggris Indonesia pernah rasakan: mulut sudah terbuka, otak sudah siap, tapi tiba-tiba nyali ciut begitu sadar suaranya terlalu "medok" atau terlalu "Sunda."
Entah kenapa, kita tumbuh dengan keyakinan bahwa bahasa Inggris yang "benar" itu harus berbunyi seperti presenter BBC atau karakter di film Marvel. Kalau masih kental logat daerah, rasanya belum layak bicara.
Padahal, keyakinan itu salah. Dan ada ilmunya.
Bahasa Inggris Sudah Bukan Milik Bule
Bahasa Inggris hari ini bukan lagi milik orang Inggris atau Amerika. Bahasa Inggris sudah jadi milik dunia dalam arti harfiah, dan ada istilah akademis untuk itu: World Englishes dan English as a Lingua Franca (ELF).
Linguist Braj B. Kachru membagi pemakai bahasa Inggris dunia ke dalam tiga lingkaran. Indonesia masuk di Expanding Circle, yaitu negara yang memakai bahasa Inggris sebagai bahasa asing untuk komunikasi global.
Posisi ini bukan rendahan. Ini hanya penanda bahwa kita memakai bahasa Inggris sebagai alat, bukan bahasa pertama.
Yang penting dicatat: jumlah penutur non-asli bahasa Inggris di dunia jauh lebih banyak daripada penutur aslinya. Artinya, kalau kita ngobrol bahasa Inggris dengan orang Jepang, orang Brasil, atau orang Nigeria, tidak ada satu pun dari kita yang "native." Dan itu justru jadi situasi mayoritas komunikasi global saat ini.
Peneliti dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menyebut bahwa dalam kerangka world englishes, variasi seperti Indonesian English adalah variasi yang sah, bukan variasi yang perlu dikoreksi.
Aksen Itu Identitas, Bukan Aib
Aksen lokal yang muncul saat berbicara bahasa Inggris adalah hasil yang sangat alamiah dari proses belajar bahasa. Bahasa pertama (L1) seseorang, entah itu Jawa, Sunda, Batak, atau Bugis, akan selalu meninggalkan jejaknya pada cara seseorang berbunyi saat bicara bahasa lain.
Ini bukan cacat. Ini namanya language transfer, dan semua penutur multibahasa di dunia mengalaminya.
Fan Fang, peneliti dan pakar world englishes dari Tiongkok, menegaskan bahwa guru dan pelajar bahasa Inggris tidak perlu lagi terpaku hanya pada standar British atau American English.
Identitas lokal pembicara, justru menurutnya, adalah sesuatu yang penting untuk dipertahankan dalam komunikasi berbahasa Inggris. Dengan kata lain: aksen Jawamu itu valid. Aksen Sundamu itu valid. Aksen Manado, Makassar, Padang, semuanya valid, selama pesanmu bisa dipahami.
Masalahnya Bukan Aksen, Tapi Obsesi Native-likeness
Lalu dari mana datangnya rasa minder itu?
Penelitian oleh Alimin Adi Waloyo dan Jarum dari Universitas Muhammadiyah Malang menemukan bahwa mahasiswa Indonesia yang terlalu banyak terpapar konten penutur asli, terutama dari YouTube dan film Hollywood, cenderung menjadikan aksen native speaker sebagai standar keberhasilan berbahasa.
Akibatnya, mereka:
- Takut berbicara karena khawatir aksennya "ketauan lokal"
- Merasa bahasa Inggris mereka "belum cukup baik" meski tata bahasanya benar
- Menghindari situasi komunikasi nyata karena overthinking soal bunyi
Waloyo dan Jarum menyarankan agar fokus pembelajaran digeser ke intelligibility, yaitu kejelasan penyampaian pesan, bukan native-likeness atau obsesi menyamai penutur asli.
Ini penting: tujuan bahasa Inggris bukan untuk membuat kamu terdengar seperti orang lain. Tujuannya adalah agar pesan kamu bisa dipahami.
Apa Itu Native Speaker Fallacy dan Kenapa Ini Masalah?
Native Speaker Fallacy adalah anggapan keliru bahwa penutur asli bahasa Inggris otomatis menjadi standar tertinggi yang harus ditiru semua orang.
Padahal, penutur asli pun punya ragam aksen yang sangat berbeda-beda, mulai dari aksen Texas yang kental sampai aksen Skotlandia yang kadang sulit dipahami orang London sekalipun.
Dey, Amelia, dan Herawati (2023) dalam kajian mereka menyebut bahwa native speakerism, atau pandangan yang mengistimewakan penutur asli, justru berdampak negatif pada proses belajar bahasa karena menciptakan hierarki yang tidak perlu.
Standar yang seharusnya dipakai bukan "apakah kamu terdengar seperti orang Amerika?" tapi "apakah lawan bicaramu mengerti maksudmu?"
Baca Juga: Bahasa Inggris Indoglish vs Native, 7 Istilah yang Salah Kaprah
Dunia Kerja Sudah Lebih Dewasa dari Kita Kira
Di lingkungan kerja internasional, realitasnya sudah bergeser. Vijay A. Ramjattan, akademisi dari University of Toronto, mengkaji praktik accent modification di tempat kerja dan menemukan bahwa memaksa pekerja mengubah aksen justru mereproduksi bentuk diskriminasi linguistik yang disebut accentism.
Ini merugikan pekerja, merusak kepercayaan diri, dan tidak berkontribusi pada efektivitas kerja. Ramjattan menyarankan perusahaan untuk beralih ke pendekatan mutual intelligibility, komunikasi dua arah yang saling berusaha memahami, alih-alih memaksa satu pihak menghilangkan identitas aksennya.
Artinya, pekerja yang bisa menyampaikan ide dengan jelas jauh lebih dihargai ketimbang yang beraksen "bule" tapi gagal berkomunikasi efektif.
Jadi, Harus Bagaimana?
Bukan berarti kamu tidak perlu belajar bahasa Inggris dengan serius. Justru sebaliknya.
Yang perlu dilepas adalah rasa minder yang tidak produktif itu. Yang perlu difokuskan adalah:
- Kejelasan pengucapan, bukan kesempurnaan aksen
- Kosakata dan tata bahasa yang tepat
- Kepercayaan diri untuk tetap berbicara meski aksennya lokal
Kalau kamu sedang dalam perjalanan belajar bahasa Inggris dan penasaran bagaimana lingkungan belajar yang mendukung perkembangan speaking tanpa tekanan "harus native," topik ini juga pernah dibahas dari sudut pandang sosiolinguistik tentang bagaimana gaya bahasa campuran seperti bahasa Jaksel mencerminkan dinamika identitas penutur muda Indonesia.
Aksenmu bukan masalah. Diam karena takut dihakimi, itu masalah.
![]() |
| Pelajar Indonesia menonton konten bahasa Inggris di laptop, pengaruh media native speaker |
World englishes aksen lokal bukan tanda kemampuan yang rendah. Secara linguistik, aksen adalah identitas, dan tujuan utama bahasa Inggris adalah keterpahaman pesan, bukan peniruan aksen penutur asli.
Rasa minder soal aksen tidak punya dasar ilmiah, dan dunia kerja internasional pun sudah bergerak ke arah yang lebih inklusif.
FAQ
1. Apa itu World Englishes?
World Englishes adalah konsep dalam linguistik yang mengakui bahwa bahasa Inggris kini hadir dalam berbagai variasi sah di seluruh dunia, termasuk Indian English, Singaporean English, dan Indonesian English. Konsep ini dipopulerkan oleh Braj B. Kachru dan menolak anggapan bahwa hanya satu standar bahasa Inggris yang "benar."
2. Apakah aksen lokal saat berbicara bahasa Inggris merupakan kesalahan?
Tidak. Aksen lokal adalah hasil alami dari pengaruh bahasa pertama (L1) seseorang dan bukan indikator kemampuan yang rendah. Dalam kerangka world englishes, aksen lokal seperti Indonesian English diakui sebagai variasi yang valid, selama pesan yang disampaikan bisa dipahami lawan bicara.
3. Ada berapa aksen bahasa Inggris di dunia?
Tidak ada angka pasti, karena aksen terus berkembang mengikuti komunitas penuturnya. Namun para linguis mencatat ratusan variasi aksen bahasa Inggris di seluruh dunia, mulai dari variasi antar-negara seperti aksen Australia, Singapura, Nigeria, India, hingga variasi antar-daerah dalam satu negara seperti aksen Texas vs New York di Amerika Serikat.
4. Apa itu Native Speaker Fallacy?
Native Speaker Fallacy adalah anggapan keliru bahwa penutur asli bahasa Inggris otomatis menjadi tolok ukur tertinggi yang harus ditiru semua pelajar. Para peneliti linguistik mengkritik pandangan ini karena menciptakan hierarki tidak adil dan menghambat kepercayaan diri penutur non-asli yang sebenarnya sudah mampu berkomunikasi efektif.
5. Apakah aksen mempengaruhi peluang kerja internasional?
Penelitian Vijay A. Ramjattan dari University of Toronto menunjukkan bahwa memaksa pekerja mengubah aksennya justru termasuk bentuk diskriminasi linguistik (accentism). Perusahaan yang inklusif lebih menilai kemampuan seseorang menyampaikan ide secara efektif, bukan kemiripan aksennya dengan penutur asli.
Lihat Sumber Informasi
02. Ramjattan, V. A. (2024). Accent modification and workplace accentism: the institutionalization of linguistic profiling and its career implications.
03. Waloyo, A. A., & Jarum. (2019). The Indonesian EFL Students' Attitudes Toward Their L1-Accented English.
Penulis Artikel: Rachel Wijayani (cel)


