Sosiolinguistik Bahasa Jaksel, Kenapa Suka Kita Campur?
Bahasa Jaksel bukan tren asal-asalan, tapi fenomena linguistik nyata yang punya nama ilmiah: code-switching dan code-mixing. Ada alasan psikologis, sosial, dan budaya yang bikin kita susah berhenti pakai kata "literally" dan "which is" dalam satu kalimat bahasa Indonesia.
Pernah nggak kamu tiba-tiba bilang, "Gue tuh literally nggak ngerti, which is kenapa dia bisa kayak gitu", lalu sadar sendiri kalimat itu setengah bahasa Indonesia, setengah bahasa Inggris, dan seratus persen kamu nggak merasa bersalah?
Selamat. Kamu baru saja mempraktikkan apa yang para ahli linguistik sebut sebagai code-switching dan code-mixing, alias alih kode dan campur kode. Dan kamu nggak sendirian.
Fenomena yang populer disebut Bahasa Jaksel ini sudah merambah dari linimasa Twitter (sekarang X), kolom komentar TikTok, sampai obrolan warung kopi di luar Jakarta.
Tapi kenapa, sih, gaya bicara ini bisa semasif ini? Dan apa kata ilmu pengetahuan soal kebiasaan kita ini?
Apa Itu Bahasa Jaksel Secara Ilmiah?
Bahasa Jaksel adalah gaya komunikasi yang mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam satu ujaran atau percakapan. Secara akademis, fenomena ini masuk dalam kajian sosiolinguistik dan dikategorikan dalam dua konsep utama:
- Alih kode (code-switching): Perpindahan dari satu bahasa ke bahasa lain secara sadar dalam satu percakapan. Contoh: "Oke deh, let's go."
- Campur kode (code-mixing): Menyisipkan unsur bahasa lain ke dalam satu kalimat tanpa perpindahan penuh. Contoh: "Gue literally nggak paham context-nya."
Fenomena ini bukan hal baru dalam linguistik global. Tapi dalam konteks Indonesia, Bahasa Jaksel punya karakter unik karena lahir dari satu komunitas geografis yang spesifik, yaitu remaja urban di Jakarta Selatan, sebelum akhirnya viral dan diadopsi secara nasional lewat media sosial.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal BASADYA (2026) secara khusus mengkaji campur kode bahasa Indonesia-Inggris dalam tuturan Generasi Z di media sosial dan mengidentifikasi fenomena ini sebagai kajian sosiolinguistik yang serius, bukan sekadar "gaya-gayaan anak muda."
Kenapa Orang Suka Pakai Bahasa Jaksel?
Ada empat alasan utama yang bisa menjelaskan kenapa Bahasa Jaksel begitu lengket di lidah kita, dan semuanya punya dasar ilmiah.
1. Bahasa Sebagai Simbol Status Sosial
Dalam sosiolinguistik, bahasa selalu terhubung dengan konstruksi identitas sosial penggunanya. Menyisipkan bahasa Inggris dianggap sebagai sinyal modernitas, pendidikan tinggi, dan orientasi global.
Secara sederhana: pakai Bahasa Jaksel itu keliatan sophisticated. Dan secara tidak sadar, kita merespons sinyal sosial itu.
2. Efisiensi yang Nggak Ketemu Padanannya
Ini alasan yang paling defensible secara linguistik. Beberapa kata bahasa Inggris memang tidak memiliki padanan yang seenak dan seefisien itu dalam bahasa Indonesia.
Coba bandingkan:
- "Literally" vs. "secara harfiah" atau "benar-benar" (terasa berbeda nuansanya, kan?)
- "Overwhelmed" vs. "kewalahan" (yang pertama terasa lebih berat secara emosional)
- "Which is" sebagai transisi kalimat (di bahasa Indonesia nggak ada yang benar-benar sepadan)
Bukan berarti bahasa Indonesia miskin, tapi ada kekosongan ekspresif yang diisi oleh kata-kata tersebut.
3. FOMO dan Tekanan Sosial Generasi Z
Secara psikologis, adopsi Bahasa Jaksel sangat dipengaruhi oleh Fear of Missing Out (FOMO). Ketika tren linguistik menyebar cepat di TikTok dan X, tidak menggunakannya bisa terasa seperti ketinggalan zaman.
Penelitian Setiawan (2023) dalam Jurnal KESKAP menemukan pola serupa di kalangan siswa SMA: penggunaan Bahasa Jaksel dalam komunikasi interpersonal sangat dipengaruhi oleh dorongan untuk tampil relevan dan relate dengan budaya pop yang mereka konsumsi setiap hari.
4. Bahasa Sebagai Perekat Komunitas
Ini mungkin yang paling menarik dari perspektif sosiolinguistik. Bahasa Jaksel berfungsi sebagai in-group marker, semacam sandi komunitas yang mempererat ikatan di antara penggunanya.
Studi yang menganalisis akun Jakarta Menfess di X menemukan bahwa penggunaan konsisten Bahasa Jaksel di dalam komunitas tersebut berfungsi memperkuat identitas kolektif dan kedekatan emosional antaranggota Generasi Z. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tapi juga alat solidaritas.
Apa Kata Para Ahli Bahasa?
Dr. Dra. Ni Wayan Sartini, M.Hum., pakar linguistik dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, menilai fenomena Bahasa Jaksel bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Menurutnya, fenomena ini adalah cerminan dari masyarakat global yang terbuka dan dapat menjadi sarana yang baik untuk pembelajaran bahasa asing, bahkan berpotensi menciptakan masyarakat bilingual.
Beliau menekankan bahwa Bahasa Jaksel sah-sah saja digunakan, selama ditempatkan dalam konteks informal dan pergaulan, bukan dalam situasi resmi. Yang penting, penggunanya tahu kapan harus beralih ke bahasa Indonesia formal yang sesungguhnya.
Baca Juga: Bahasa Inggris Indoglish vs Native, 7 Istilah yang Salah Kaprah
Apa Dampaknya, Positif atau Negatif?
Seperti kebanyakan fenomena budaya, Bahasa Jaksel punya dua sisi:
Dampak Positif:
- Melatih keterampilan bilingual secara alami dan organik
- Memperkaya perbendaharaan kosakata, terutama bahasa Inggris
- Meningkatkan kepercayaan diri dalam berkomunikasi di era globalisasi
- Membuka kesadaran bahwa belajar bahasa Inggris itu accessible dan nggak harus kaku
Dampak Negatif:
- Risiko tergerusnya kemampuan menggunakan bahasa Indonesia baku secara konsisten
- Bahasa daerah bisa semakin terpinggirkan jika tidak ada upaya pelestarian
- Ketidakmampuan membaca konteks (kapan harus formal, kapan informal) bisa menimbulkan masalah komunikasi profesional
Intinya, masalahnya bukan di Bahasa Jaksel-nya. Masalahnya ada di kemampuan penggunanya untuk membaca konteks.
Bahasa Jaksel dan Relevansinya dengan Belajar Bahasa Inggris
Ini menarik untuk dibahas. Kalau kita lihat lebih dalam, Bahasa Jaksel sebenarnya adalah bukti bahwa orang Indonesia bisa dan mau mengintegrasikan bahasa Inggris ke dalam komunikasi sehari-hari.
Artinya, barriernya bukan kemampuan. Barriernya adalah kepercayaan diri dan konteks penggunaannya.
Banyak pengguna Bahasa Jaksel yang fasih menyisipkan kata dan frasa bahasa Inggris secara intuitif, tapi masih merasa tidak percaya diri untuk berbicara bahasa Inggris penuh. Ini gap yang menarik: potensi bilingualnya sudah ada, tinggal distrukturkan dengan benar.
Kalau kamu merasa relate dengan kondisi ini, mungkin yang kamu butuhkan bukan belajar dari nol, tapi lingkungan yang tepat untuk mengaktifkan kemampuan yang sudah terlanjur kamu punya.
![]() |
| Dua remaja Indonesia mengobrol santai di kafe sambil pakai bahasa Jaksel |
Bahasa Jaksel Itu Ilmiah, Bukan Alay
Bahasa Jaksel bukan tanda bobroknya generasi muda atau bukti bahwa bahasa Indonesia sedang sekarat. Secara sosiolinguistik, fenomena ini adalah respons alami terhadap globalisasi, tekanan sosial, dan kebutuhan ekspresif yang tidak selalu bisa dipenuhi oleh satu bahasa saja.
Yang perlu dijaga bukan ketakutan akan bahasa Jaksel, tapi kompetensi penggunanya untuk tahu kapan harus menggunakannya dan kapan harus melepasnya.
Karena seseorang yang benar-benar menguasai bahasa, tahu kapan harus literally berbahasa formal dan kapan bisa santai. Which is itulah definisi sesungguhnya dari bilingual yang kompeten.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Muncul)
1. Apa itu Bahasa Jaksel dan mengapa disebut demikian?
Bahasa Jaksel adalah gaya bicara yang mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam satu kalimat atau percakapan. Nama ini berasal dari komunitas remaja urban di Jakarta Selatan yang mempopulerkannya. Kini, Bahasa Jaksel sudah menjadi tren nasional yang tersebar luas melalui TikTok, X (Twitter), dan Instagram, bukan lagi eksklusif milik satu wilayah.
2. Apa perbedaan alih kode dan campur kode dalam Bahasa Jaksel?
Alih kode (code-switching) adalah perpindahan penuh dari satu bahasa ke bahasa lain dalam satu percakapan, misalnya tiba-tiba beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Campur kode (code-mixing) adalah menyisipkan kata atau frasa dari bahasa lain ke dalam satu kalimat tanpa berpindah bahasa sepenuhnya. Bahasa Jaksel umumnya menggunakan keduanya secara bersamaan.
3. Apakah Bahasa Jaksel merusak bahasa Indonesia?
Menurut Dr. Ni Wayan Sartini, pakar linguistik dari Universitas Airlangga, Bahasa Jaksel tidak secara otomatis merusak bahasa Indonesia selama penggunanya memahami batasan konteksnya. Risiko nyatanya muncul ketika pengguna kehilangan kemampuan beralih ke bahasa Indonesia formal saat dibutuhkan, misalnya dalam situasi akademik atau profesional.
4. Apa kata-kata yang umum dipakai dalam Bahasa Jaksel?
Beberapa kata dan frasa yang paling sering muncul dalam Bahasa Jaksel antara lain: "literally," "which is," "actually," "basically," "at least," "concern," "overthinking," dan "overwhelmed." Kata-kata ini sering disisipkan ke dalam kalimat bahasa Indonesia karena dianggap lebih ekspresif atau tidak memiliki padanan yang sepadan.
5. Kenapa Generasi Z lebih sering memakai Bahasa Jaksel?
Generasi Z tumbuh bersama konten digital berbahasa Inggris seperti film, musik, dan media sosial global. Paparan masif ini membuat kata-kata bahasa Inggris terasa lebih familiar dan intuitif. Ditambah tekanan sosial berupa FOMO dan kebutuhan akan identitas komunitas, Bahasa Jaksel menjadi cara alami Generasi Z untuk mengekspresikan diri dan merasa relevan.
Lihat Sumber Informasi
02. Setiawan, Yudi. (2023). "Fenomena Penggunaan Bahasa Jaksel (Code-switching Language) dalam Komunikasi Interpersonal Siswa di SMA Negeri 11 Medan".
03. Universitas Airlangga. (2022). "Muncul Fenomena Bahasa 'Jaksel,' Begini Tanggapan Pakar UNAIR".
Penulis Artikel: Rachel Wijayani (cel)


