Diplomasi Budaya Lewat Bahasa Inggris, Apa Masalahnya?

penari tradisional Indonesia tampil di festival budaya internasional untuk diplomasi budaya

Bahasa Inggris bukan musuh budaya lokal, tapi justru kendaraan paling efektif untuk membawa budaya Indonesia ke panggung dunia. Dari festival diaspora di Jerman hingga buku wisata Denpasar yang sengaja tidak menerjemahkan kata "Keris" dan "Gamelan", diplomasi budaya Indonesia sudah berjalan diam-diam lewat bahasa yang selama ini kita perdebatkan.

Ada yang bilang, orang yang terlalu sering pakai bahasa Inggris itu kebarat-baratan. Lupa budaya sendiri. Kurang nasionalis. Saya pernah dengar argumen itu. Mungkin kamu juga.

Tapi coba pikir sebentar: kalau ada delegasi budaya Indonesia tampil di festival internasional, pakai bahasa apa mereka menjelaskan batik, wayang, atau gamelan ke penonton dari Jerman, Prancis, dan Korea?

Bahasa Jawa? Bahasa Sunda? Atau bahasa Inggris? Jawabannya sudah jelas. Dan di situlah diskusi seharusnya dimulai, bukan di komentar Instagram yang debat soal "kamu kok ngomong English mulu sih."


Apa Itu Diplomasi Budaya?

Diplomasi budaya adalah strategi hubungan antarnegara yang menggunakan pertukaran seni, bahasa, nilai, dan tradisi sebagai instrumen untuk membangun citra positif dan mempererat hubungan internasional.

Beda dari diplomasi formal yang melibatkan perjanjian dan nota diplomatik, diplomasi budaya justru bekerja lewat hal-hal yang lebih manusiawi: pertunjukan tari, pameran kuliner, festival film, atau bahkan konten media sosial. Indonesia termasuk negara yang serius memanfaatkan jalur ini.

Kementerian Luar Negeri RI punya divisi khusus yang mengurusi diplomasi publik, termasuk mendorong partisipasi generasi muda lewat kampanye digital seperti #IniDiplomasi dan #IndonesianWay, serta ajang DiploFest dan Duta Muda ASEAN.


Kenapa Bahasa Inggris Jadi Medianya?

Bahasa Inggris dipakai dalam diplomasi budaya bukan karena kita mengagungkan Barat. Tapi karena bahasa Inggris adalah lingua franca yang paling luas digunakan di dunia saat ini.

Widya Rizky Pratiwi, dosen Universitas Terbuka, menyampaikan pandangan yang cukup lugas soal ini:

"Pemikiran yang menganggap bahasa Inggris dapat menurunkan kecintaan terhadap keaslian budaya masih terlalu sempit. Tolak ukur nasionalisme tidak hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga menunjukkan prestasi di ajang internasional. Bahasa Inggris bukanlah penghalang semangat nasionalisme, sebaliknya, ia adalah salah satu kunci kesuksesan dan kemajuan suatu negara."

Dalam konteks diplomasi budaya, bahasa Inggris bukan tujuan. Bahasa Inggris adalah kendaraan. Yang dibawa di dalamnya tetap: gamelan, batik, rendang, reog, dan semua yang memang dari Indonesia.


Gimana Caranya Tetap "Indonesia" Saat Pakai Bahasa Inggris?

Ini pertanyaan yang paling praktis. Dan jawabannya sudah dipraktikkan langsung oleh Pemerintah Kota Denpasar.

Dalam buku promosi pariwisata berbahasa Inggris berjudul Discover Denpasar, tim penyusunnya membuat keputusan yang menarik: istilah-istilah budaya asli Bali sengaja tidak diterjemahkan.

Kata seperti:

  • Keris tetap ditulis Keris, bukan sacred dagger
  • Gamelan tetap Gamelan, bukan traditional percussion ensemble
  • Endek tetap Endek, bukan Balinese woven fabric
  • Melasti tetap Melasti, bukan purification ritual

Logikanya sederhana: kalau semua diterjemahkan, wisatawan asing dapat informasi, tapi kehilangan rasa penasaran. Kalau istilah aslinya dipertahankan, mereka penasaran dan justru termotivasi untuk datang dan belajar lebih dalam.

Ini yang dalam kajian sosiolinguistik disebut strategi code retention dalam komunikasi lintas budaya, sebuah tema yang juga dibahas lebih jauh dalam artikel soal fenomena bahasa gaul anak Jaksel di mana code-switching bukan soal kehilangan identitas, tapi soal memilih alat komunikasi yang tepat sesuai konteks.


Baca Juga: Stop Minder soal Aksen, Kenapa World Englishes Itu Sah

Siapa yang Sudah Melakukannya?

Bukan cuma pemerintah. Generasi muda dan diaspora Indonesia sudah aktif jadi agen diplomasi budaya jauh sebelum ada program resmi.

Salah satu contoh paling konkret adalah Indonesian Frankfurt Festival (IFF) di Jerman yang diinisiasi komunitas diaspora dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di sana.

Hasilnya:

  • Lebih dari 4.000 pengunjung hadir
  • Ditampilkan: wastra nusantara, kuliner, pameran batik, dan pertunjukan gamelan
  • Semua komunikasi dengan pengunjung asing berlangsung dalam bahasa Inggris
  • Tapi semua yang dipamerkan 100% Indonesia

Riset dari Universitas Jenderal Achmad Yani (2025) menyebut festival semacam ini berhasil membentuk nation branding yang lebih kuat karena memposisikan Indonesia bukan sekadar destinasi tropis eksotis, tapi sebagai bangsa modern dengan warisan budaya yang kuat dan terbuka pada kolaborasi global.


Lalu, Apa Peran Kita Sekarang?

Di era digital, diplomasi budaya tidak lagi eksklusif milik diplomat berjas di Jenewa atau New York.

Siapa pun yang punya akun media sosial bisa jadi agen diplomasi budaya. Caranya:

  • Buat konten tentang kesenian atau tradisi lokal dalam bahasa Inggris
  • Gunakan istilah aslinya, beri konteks secukupnya
  • Bagikan ke platform dengan jangkauan global: YouTube, Instagram, TikTok, bahkan LinkedIn
  • Gunakan tagar yang sudah dibangun Kemlu seperti #IniDiplomasi atau #IndonesianWay

Kementerian Luar Negeri RI secara eksplisit mendorong partisipasi milenial dan Gen Z dalam diplomasi digital karena mereka sadar: jangkauan satu konten viral bisa melampaui kunjungan resmi satu delegasi.

Nur Asiza, dosen Pendidikan Bahasa Inggris, menyampaikan perspektif yang relevan soal ini, terutama bagi yang sedang belajar bahasa Inggris sekarang:

"Di kelas bahasa asing, pendidik tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penjaga nilai (value keeper). Mendidik dengan bahasa Inggris tidak boleh memisahkan penguasaan bahasa dari pendidikan karakter lokal, agar kelak peserta didik menjadi manusia utuh, cakap berbahasa, kuat dalam karakter, dan mampu menjadi warga global tanpa tercerabut dari akar budayanya."

Belajar bahasa Inggris yang baik bukan berarti belajar jadi orang Inggris. Belajar bahasa Inggris berarti memperluas kemampuan kamu untuk membawa Indonesia ke mana-mana.


pameran batik Indonesia di luar negeri dengan label bahasa Inggris sebagai strategi diplomasi budaya
pameran batik Indonesia di luar negeri dengan label bahasa Inggris sebagai strategi diplomasi budaya

Bahasa Inggris dalam konteks diplomasi budaya bukan ancaman bagi identitas lokal. Ia adalah alat strategis yang, kalau dipakai dengan benar, justru memperkuat citra dan daya tarik budaya Indonesia di mata dunia.

Dari strategi code retention ala Denpasar hingga festival diaspora di Frankfurt, buktinya sudah ada. Sekarang giliran generasi muda yang meneruskannya, mulai dari kelas bahasa, sampai layar ponsel masing-masing.


FAQ (Pertanyaan yang Sering Muncul)

1. Apa yang dimaksud dengan diplomasi budaya?

Diplomasi budaya adalah cara suatu negara membangun hubungan dan citra positif di tingkat internasional melalui pertukaran nilai, seni, bahasa, dan tradisi. Berbeda dari diplomasi formal yang berbasis perjanjian, diplomasi budaya bekerja lewat hal-hal yang lebih langsung dirasakan masyarakat: festival, pertunjukan seni, program pertukaran pelajar, dan konten digital.

2. Apa peran bahasa Inggris dalam diplomasi budaya Indonesia?

Bahasa Inggris berfungsi sebagai media komunikasi utama dalam diplomasi budaya Indonesia karena statusnya sebagai lingua franca global. Bahasa Inggris digunakan untuk menyampaikan nilai dan narasi budaya Indonesia kepada audiens internasional, sementara identitas lokalnya tetap dipertahankan, misalnya dengan tidak menerjemahkan istilah-istilah budaya asli seperti Keris, Gamelan, atau Batik.

3. Apakah sering memakai bahasa Inggris berarti tidak nasionalis?

Tidak. Nasionalisme tidak diukur dari bahasa yang dipakai sehari-hari, melainkan dari kontribusi nyata bagi bangsa. Menggunakan bahasa Inggris untuk mempromosikan budaya Indonesia, meraih prestasi internasional, atau membangun jejaring global justru adalah bentuk nasionalisme modern yang produktif.

4. Bagaimana cara mempromosikan budaya Indonesia dalam bahasa Inggris tanpa kehilangan identitas aslinya?

Strateginya adalah mempertahankan istilah budaya asli tanpa menerjemahkannya ke bahasa Inggris, lalu memberi konteks singkat yang memancing rasa ingin tahu. Contoh nyata dilakukan Pemerintah Kota Denpasar dalam buku Discover Denpasar: kata Keris, Gamelan, dan Melasti sengaja dibiarkan dalam bahasa aslinya agar wisatawan asing termotivasi untuk menggali lebih dalam.

5. Siapa saja yang bisa terlibat dalam diplomasi budaya Indonesia?

Siapa saja, tidak harus diplomat resmi. Generasi muda, pelajar, diaspora, dan kreator konten bisa berkontribusi lewat festival budaya, konten media sosial berbahasa Inggris, program pertukaran pelajar, hingga kampanye digital. Kementerian Luar Negeri RI bahkan secara aktif mengajak milenial dan Gen Z terlibat lewat program DiploFest dan kampanye #IniDiplomasi.

Lihat Sumber Informasi
Referensi Tulisan: 01. Pratiwi, W. R. (2023). Polemik Urgensi Kecakapan Berbahasa Inggris di Indonesia.
02. Dewi, R. P. (2025). Diplomasi Budaya Pemerintah Indonesia Dalam Rangka Meningkatkan Nation Branding Melalui Indonesian Frankfurt Festival.
03. Ekasani, K. A., & Supartini, N. L. (2018). Penggunaan Istilah Budaya Bali pada Media Promosi Pariwisata Berbahasa Inggris Kota Denpasar.
Penulis Artikel: Rachel Wijayani (cel)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *